Papua Tidak Seseram yang Dibayangkan

  • Whatsapp
MADE Nariana (kanan) saat berpose di Jembatan Merah, Jayapura, Papua. Foto: ist
MADE Nariana (kanan) saat berpose di Jembatan Merah, Jayapura, Papua. Foto: ist

Made Nariana

BANYAK kalangan membayangkan, bahwa Papua seram dan tegang karena masih ada teroris Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) mengganggu. Akibatnya pelaksanaan PON dijaga banyak aparat kepolisian dan TNI, sehingga dapat berjalan lancar dan sukses.

Bacaan Lainnya

Kekhawatiran tersebut memang cukup beralasan. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya ada kebrutalan teroris KKB yang membantai petugas kesehatan di Pegunungan Bintang, Papua.  Tenaga kesehatan yang merupakan garda terdepan bagi masyarakat, dibantai KKB — di balik konflik yang terjadi. Sebanyak 9 tenaga kesehatan menjadi korban penyerangan KKB yang sangat brutal tersebut. Salah satu aparat TNI yang kebetulan juga nama Bali, tewas ditembak teroris, ketika membantu tenaga kesehatan.

Kondisi tersebut menyebabkan banyak atlet dan petugas olahraga yang datang dari seluruh Tanah Air menjadi was-was.  Kekhawatiran kedua, soal wabah Covid-19 yang masih melanda negeri ini. Dan, yang ketiga tentu juga bahaya penyakit Malaria yang masih banyak di tanah Papua.

Salah satu pemimpin KONI Bali mengatakan, ia bertugas ke Papua ibaratnya berjuang antara hidup dan mati. Selain kebrutalan KKB yang ditakuti, juga wabah dunia yang melanda lebih dari satu setengah tahun ini.  Setiap saat dapat kena Covid-19 sebab bertemu dengan banyak orang selama PON berlangsung.

Baca juga :  Bali Terbaik, Dalam Penanganan Corona di Indonesia

Astungkara, ternyata apa yang dibayangkan sebelumnya tidak terjadi. Paling tidak belum terjadi.

Saya beberapa hari berada di Jayapura dan Kota Sentani, khususnya di Abepura. Kondisi masyarakat berjalan lancar. Kotanya ramai. Di sana-sini banyak juga kemacetan.

Pedagang hasil bumi atau keperluan sehari-hari juga berjejer menjajakan dagangannya. Mal Jayapura, satu-satunya di kota itu juga ramai.

Saya kagum dengan hasil pertanian petani Papua. Jagung, semangka, pepaya, dan buah-buahan lain termasuk sayur-mayur melimpah dengan harga yang tidak begitu mahal. Paling tidak ini saya saksikan di Sentani dan Jayapura sendiri.

Jembatan Holtekamp atau lebih popular dengan sebutan Jembatan Merah yang dibangun Jokowi menjadi ikon baru selain GOR Lukas Enembe. Jembatan ini banyak dikunjungi masyarakat sebagai objek baru, apalagi di hari libur. Di seberang jembatan, berjejer restoran di pinggir pantai dengan aneka makanan, khususnya seafood.

Sopir bernama Yoyok asal NTT yang sudah puluhan tahun hidup di Jayapura mengatakan, hasil pertanian rakyat berasal dari penduduk petani di sekitarnya. Petani di pegunungan dengan lahan pertanian yang cukup subur.

Bagaimana mengenai KKB yang kini dicap sebagai teroris oleh pemerintah pusat?

Yoyok, mantan pegawai PLN yang beralih profesi mengatakan, itu hanya dilakukan pihak tertentu dan sangat terbatas. Kondisinya menjadi ramai karena banyak provokator di tempat lain termasuk di Jakarta dan luar negeri. Ditambah lagi diramaikan media massa.

Baca juga :  Di Balik Usulan Nyepi 3 Hari di Bali, Menduplikasi Hari Suci dan Bertentangan dengan PP 21 tentang PSBB

Masyarakat Papua, apalagi yang tinggal di kota sudah merasakan kehidupan lebih baik. Sudah banyak yang senang dan rasional berada di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lebih-lebih sejak Presiden Jokowi memimpin negeri ini, banyak pembangunan di Papua.

“Pembangunan melonjak banyak, mulai tiga tahun belakangan ini, semenjak Papua mempersiapkan diri sebagai tuan rumah PON. Banyak Hotel baru, kafe baru, bahkan juga muncul homestay di Papua,” kata Yoyok, sembari menjelaskan sebelumnya tidak dikenal apa yang bernama homestay.

Apa yang dituturkan sang sopir tersebut ada benarnya. Kota Jayapura dan kota-kota sekitarnya seperti Abepura (Sentani) kelihatan sangat ramai. Banyak mobil mewah berseliweran, pertanda banyak orang kaya di Papua.

Soal kerawanan di masyarakat memang diakui, sama juga halnya dengan kota-kota lain di Indonesia. Buktinya wartawan yang menginap di sebuah hotel di Sentani selama PON, dilarang keluar jalan-jalan setelah pukul 20.00 malam. Konon, takut dibegal di jalanan. Tentu saja kondisi seperti itu, juga terjadi di kota lain di Tanah Air.

Intinya, saya ingin mengatakan – selama berada di Papua cukup menyenangkan, sekalipun mencari warung makan sehari-hari agak sulit. Suatu saat saya mengajak sopir mencari warung babi panggang. Lama tidak ketemu. Ketemu satu di pinggir jalan, ternyata jadi satu dengan warung menjual makanan RW. Pedagang menyajikan makanan babi sekaligus dengan daging RW.  Tentu saja saya bersama teman-teman nggak jadi makan di sana.

Baca juga :  Membumikan Politik di Mata Generasi Internet

Sejumlah warung lebih banyak menyajikan ikan gurami. Seafood tentu juga ada, tetapi sering tempatnya agak jauh.

Pendek kata kondisi kota di Papua harus tetap dijaga supaya tetap stabil. Soal KKB di pegunungan yang sudah menjadi teroris, sebaiknya disikat habis lebih cepat, sebab bukan menjadi aspirasi masyarakat Papua pada umumnya.

Masyarakat kelihatan damai. Tidak seram seperti banyak dibayangkan orang. Bagaimana soal hasil PON, lihat sudah banyak di media sosial. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.