Vaksinasi PMK Gianyar Tembus 95,7%, Terbaik di Bali

CAPAIAN vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Gianyar menunjukkan hasil menggembirakan. Hingga tahap I, realisasi vaksinasi mencapai 95,7%, menjadikannya sebagai yang tertinggi di Provinsi Bali. Foto: ist
CAPAIAN vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Gianyar menunjukkan hasil menggembirakan. Hingga tahap I, realisasi vaksinasi mencapai 95,7%, menjadikannya sebagai yang tertinggi di Provinsi Bali. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Capaian vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Gianyar menunjukkan hasil menggembirakan. Hingga tahap I, realisasi vaksinasi mencapai 95,7%, menjadikannya sebagai yang tertinggi di Provinsi Bali.

Pelaksana Tugas Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Gianyar, I Made Dwitemaja, Selasa (21/4/2026), mengungkapkan, dari target 8.000 ekor sapi pada tahap I, saat ini hanya tersisa sekitar 340 ekor yang belum divaksin. “Capaian ini tidak lepas dari kerja keras tiga UPT Keswan di Gianyar yang bekerja simultan di lapangan. Bahkan pelaksanaannya bisa selesai lebih cepat dari perencanaan,” ujar Dwitemaja.

Bacaan Lainnya

Dia optimistis sisa vaksinasi tersebut dapat dirampungkan sebelum akhir April 2026. Dia juga menyebut, total petugas vaksinasi PMK dan rabies berjumlah 21 orang, yang turut dibantu tenaga PPPK di lingkungan Distannak Gianyar.

Untuk mempercepat capaian, pelaksanaan vaksinasi PMK dilakukan bersamaan dengan vaksinasi rabies di wilayah yang sama. Strategi ini dinilai efektif dalam mengefisienkan waktu dan tenaga. “Metode ini sangat membantu, sehingga dua kegiatan bisa diselesaikan sekaligus dalam satu wilayah,” jelasnya.

Populasi sapi di Gianyar saat ini diperkirakan mencapai 49.500 ekor, dengan sebaran terbanyak di Kecamatan Payangan, Tegalalang, dan Sukawati. Sebagian besar sapi tersebut telah mendapat vaksin PMK pada tahun 2025, sementara vaksinasi tahun ini difokuskan pada sapi anakan serta sapi yang didatangkan dari luar daerah.

Meski demikian, pelaksanaan vaksinasi di lapangan tidak lepas dari kendala, seperti lokasi kandang yang jauh di kebun hingga pemilik sapi yang tidak berada di tempat. Untuk mengatasi hal tersebut, petugas melibatkan perangkat desa atau saksi setempat agar vaksinasi tetap dapat dilakukan tanpa harus menunggu pemilik.

“Daripada harus bolak-balik dan tidak efisien, kami ajak aparat desa atau kepala lingkungan sebagai saksi saat vaksinasi,” tambahnya. Vaksinasi PMK tahap II dijadwalkan berlangsung pada Juni hingga Agustus 2026, sesuai arahan Dinas Peternakan Provinsi Bali.

Berdasarkan data, sapi potong asal Gianyar dikenal memiliki kualitas baik dan bebas PMK, sehingga diminati pasar luar daerah seperti Jakarta, Semarang, hingga sejumlah kota di Jawa Timur. Selain sebagai komoditas ekonomi, ternak sapi juga menjadi bentuk tabungan bagi peternak, yang biasanya dijual menjelang kebutuhan tertentu seperti tahun ajaran baru atau Hari Raya Idul Adha. adi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses