POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, Anak Agung Gede Wiratama, memastikan bahwa hari pertama pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) di Denpasar berjalan dengan baik. ‘’Hari ini dimulai penyelenggaraan TKA untuk jenjang Sekolah Dasar. Astungkara berjalan lancar,’’ ujar Kadisdikpora, Senin (20/4/2026).
Ia menegaskan bahwa pemantauan terus dilakukan oleh Disdikpora Kota Denpasar untuk memastikan seluruh proses asesmen akademik di satuan pendidikan dasar berjalan sesuai dengan prosedur dan jadwal yang telah ditetapkan. ‘’Laporan sementara yang kami terima, semua berjalan lancar,’’ tegasnya.
TKA jenjang SD diselenggarakan mulai tanggal 20 hingga 30 April 2026. Tes ini berbasis pilihan ganda yang difokuskan pada kemampuan literasi dan numerasi. Hasilnya bukan menjadi syarat kelulusan. Tercatat 13.246 siswa kelas 6 SD di Denpasar mengikuti ujian berskala nasional ini yang diselenggarakan untuk memetakan kualitas pendidikan siswa di akhir masa pendidikan dasar.
Materi ujian utama terdiri dari mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia dengan komposisi masing-masing sebanyak 30 butir soal. Selain soal akademik, para peserta juga diwajibkan mengisi survei karakter yang menjadi bagian integral dari sistem Asesmen Nasional (AN). Dengan begitu, ujian yang digelar dalam beberapa gelombang ini menjadi “alat rontgen” untuk melihat kondisi riil kemampuan dasar siswa, khususnya literasi dan numerasi.
Di SD Negeri 8 Dauh Puri, pelaksanaan TKA diikuti oleh 67 peserta didik. Untuk memastikan kegiatan berjalan tertib, nyaman, dan kondusif, pelaksanaan dibagi menjadi 2 gelombang dengan total 3 sesi. Pengaturan ini tidak hanya mempertimbangkan keterbatasan sarana, tetapi juga bertujuan agar setiap siswa dapat mengikuti tes dengan lebih fokus tanpa tekanan situasi yang terlalu padat.
Kepala SDN 8 Dauh Puri, Agus Eka Sanjaya, mengutarakan, dalam pelaksanaannya, perhatian utama sekolah tidak semata-mata tertuju pada penguasaan materi. Justru, kekhawatiran yang lebih mendasar terletak pada kemampuan numerasi peserta didik.
Hal ini muncul karena numerasi menuntut lebih dari sekadar kemampuan berhitung; siswa perlu memahami konsep, menalar, serta mampu mengaitkan persoalan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Pada kenyataannya, masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan soal berbentuk cerita atau soal yang menuntut pemikiran tingkat tinggi.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama bukan pada seberapa banyak materi yang telah diajarkan, melainkan pada kedalaman pemahaman siswa dalam mengolah informasi dan menyelesaikan masalah secara logis. Oleh karena itu, sekolah memandang penting untuk terus memperkuat pembelajaran yang berfokus pada pemahaman konseptual dan penerapan numerasi secara nyata, sehingga peserta didik tidak hanya siap menghadapi TKA, tetapi juga memiliki bekal berpikir yang lebih kuat dalam kehidupan sehari-hari. tra
























