TAK sengaja saya menonton video lagu “Santa Fe” dari Bon Jovi yang “dinyanyikan ulang” oleh suara hasil rekayasa Artificial Intelligence (AI). Sepintas keren. Tapi ada satu hal yang sedang digeser diam-diam: batas antara yang asli dan yang palsu. Jika suara saja bisa dipinjam dan direkayasa sedemikian rupa, apalagi yang bisa dipalsukan tanpa kita sadari?
Seabad yang lalu, Adolf Hitler dalam Mein Kampf (1925) mencetuskan The Big Lie, teknik propaganda sistematis. Strategi ini mengandalkan pengulangan masif dan penyangkalan realitas untuk memanipulasi opini publik, memfitnah musuh, serta melanggengkan kekuasaan politik. Gerakan populisme ekstrem sering menggunakan taktik ini untuk mengaburkan kebenaran objektif, melalui fabrikasi narasi terus-menerus hingga dianggap sebagai kebenaran.
Kini, propaganda digital tidak lagi butuh cara njlimet, apalagi mahal. Cukup algoritma, sedikit kreativitas manipulatif, dan—yang paling berbahaya—publik yang sudah siap percaya.
Sadar atau tidak, kita sedang hidup di fase ketika realitas tidak lagi ditentukan oleh kejadian, tetapi oleh seberapa viral ia diproduksi. Ini bukan spekulasi. Pada Januari 2025, beredar video deepfake Presiden Prabowo Subianto yang seolah-olah membagikan Rp50 juta per keluarga. Ada video Presiden Joko Widodo yang tampak fasih berpidato dalam bahasa Mandarin. Atau video keributan oleh suku tertentu yang dibingkai seolah terjadi di Bali, demi memantik amuk massa di grup-grup media sosial. Sialnya, publik tidak lagi sekadar percaya; mereka terprovokasi oleh “hantu” yang tidak pernah ada.
Di titik ini, kebohongan tidak lagi sekadar salah; ia bekerja, menghasilkan, dan merusak. Disinformasi menciptakan peristiwa fiktif dengan dampak yang sepenuhnya nyata.
Yang bekerja di balik semua ini bukan hanya AI sebagai mesin produksi konten, tetapi juga algoritma sebagai mesin distribusi yang menentukan mana yang naik, mana yang tenggelam. AI menciptakan realitas sintetis; algoritma memastikan ia menemukan audiensnya. Ketika mereka berkelindan, kebohongan diproduksi, dipoles, lalu didorong menjadi “kenyataan” yang terasa valid.
Masalahnya, mesin ini tidak pernah tidur, tidak punya lelah, dan tanpa rasa. Video, audio, dan narasi sintetis bisa dirakit dalam hitungan menit lalu dilempar ke publik dengan presisi emosi yang nyaris sempurna. Ini industri; produksi cepat, distribusi masif, dampaknya maksimal.
Di sisi lain, jurnalisme masih sibuk mengejar verifikasi—itu pun dengan megap-megap. Di sinilah ironi paling telanjang: kebenaran kalah cepat dari viralitas yang mengguncang kepercayaan. Lebih absurd lagi orang bisa marah, tersinggung, bahkan bertindak atas sesuatu yang tidak pernah ada. Prinsip lama “melihat adalah percaya” runtuh; kini yang kita “lihat” justru lebih meyakinkan daripada kenyataan itu sendiri.
Fakta kehilangan otoritasnya oleh persepsi dan, sialnya, algoritma tahu persis cara mengelola persepsi. Kita sedang hidup dalam versi realitas yang diproduksi lebih rapi, lebih dramatis, dan lebih dipercaya daripada yang benar-benar terjadi—karena batas antara fakta dan kebohongan nyaris lenyap.
Dulu, publik mengimajinasikan ruang redaksi sebagai benteng terakhir. Kini, ia lebih mirip pos satpam yang kebobolan dari segala arah. Ketika jurnalis memeriksa satu fakta, algoritma sudah melesat memproduksi seratus kebohongan yang lebih menarik, lebih emosional, dan—ini yang pahit—lebih laku.
Di negara berbangsa-bangsa seperti Indonesia, ini bahan bakar konflik. Identitas—agama, etnis, hingga sejarah luka lama—bisa diramu dan dipantik hanya dengan satu konten yang dirancang presisi. Tidak perlu nyata, cukup meyakinkan. Tidak perlu benar, cukup viral. Fenomena dehumanisasi seperti “Cebong” dan “Kampret” adalah artefaknya.
Sayang, sebagian jurnalis mulai ikut bermain dalam logika yang sama. AI dijadikan mesin produksi cepat, clickbait menjadi strategi bertahan hidup, dan verifikasi pelan-pelan dipinggirkan. Etika dianggap beban, bukan fondasi.
Apakah ini adaptasi? Mungkin. Tapi yang jelas, ini kemunduran yang berjubah efisiensi. Ketika jurnalisme tunduk pada logika algoritma—kecepatan di atas akurasi, sensasi di atas substansi; ia kehilangan alasan untuk dipercaya. Dan ketika kepercayaan runtuh, jurnalisme tidak mati dramatis, melainkan pelan-pelan sambil tetap merasa hidup.
Riset Max Planck Institute (2025) menunjukkan clickbait semakin dominan dalam praktik jurnalisme. Artinya, bukan sekadar ulah “oknum”, ini sudah jadi kecenderungan struktural. Jurnalis sedang menggerus dirinya sendiri.
Dampaknya, orang mulai meragukan segalanya: yang palsu, iya; yang benar ikut diabaikan. Lebih berbahaya lagi adalah ketika tidak ada lagi yang benar-benar dipercaya. Di ranah politik, ini melahirkan bentuk kekuasaan baru: kuasa virtual algoritmik. Bukan lagi soal siapa paling kompeten, tetapi siapa paling mampu merekayasa, memanipulasi, dan mengendalikan arus informasi untuk membentuk persepsi. Konsekuensinya, siapa pun yang paling keras, paling emosional, dan paling konsisten mengulang narasi, maka di situlah “kebenaran” menghampiri.
Negara hadir tapi tertatih. Regulasi ada, tapi daya jangkaunya masih berhenti di gejala, bukan sumber masalah. Infrastruktur disinformasi tetap eksis, aktornya bisa ditangkap satu-dua, tetapi mesinnya tetap tak terkendali.
Dalam situasi seperti ini, tantangan terbesar jurnalisme adalah: ikut tenggelam, atau berbenah. Berbenah berarti bukan sekadar lebih cepat, tapi lebih cerdas, dan yang paling penting kembali disiplin pada verifikasi dan tidak tergoda jalan pintas. Ini tidak populer, tidak viral, tetapi itulah satu-satunya pijakan yang tersisa. Tidak semua yang viral atau bisa dibuat AI itu layak dipercaya.
Jurnalisme jelas tidak bisa menghentikan mesin disinformasi digital, karena jika hanya soal kecepatan, maka pemenangnya sudah pasti bukan jurnalisme. Namun, selama masih ada jurnalis yang memilih lambat demi akurat, yang curiga pada yang terlalu sempurna, dan yang setia pada etika—di situlah harapan belum sepenuhnya mati.
Pada akhirnya, ini bukan sekadar pertarungan teknologi. Ini soal moral, tanggung jawab dan, terutama, integritas; tiga hal yang tidak dimiliki algoritma maupun AI. Tanpa integritas maka, meminjam pernyataan Karni Ilyas, jurnalisme akan mati. Gus Hendra
























