SE Gubernur Soal Endek, Gerindra Nilai Momentumnya Tak Tepat

  • Whatsapp
Ketut Juliarta. Foto: hen
Ketut Juliarta. Foto: hen

DENPASAR – Adanya Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 4/2021 tentang penggunaan kain tenun endek Bali/kain tenun tradisional Bali, dikritisi Ketua Fraksi Gerindra DPRD Bali, I Ketut Juliarta. Dia menilai saat ini tidak tepat momentumnya Pemprov Bali memikirkan urusan pakaian. Argumennya, tidak ada urgensinya di tengah kesulitan ekonomi sekarang baju endek dipakai pada hari Selasa, seperti tercantum dalam SE tersebut.

Juliarta menguraikan pandangannya di akun media sosial Facebook. Dia menyebut pandemi mematikan perekonomian masyarakat, banyak yang tidak lagi memiliki pekerjaan, dan banyak usaha yang tutup. Semua bermuara kepada banyaknya masyarakat yang sudah tidak memiliki penghasilan.

Bacaan Lainnya

“Tapi kenapa pemerintah lebih fokus memikirkan baju? Apa orgensinya sebuah baju endek harus dipakai di hari Selasa? Apa perlunya melaksanakan pameran di Art Center sementara wisatawan tidak ada?” seru politisi asal Klungkung tersebut.

Menurut Juliarta, mestinya pemerintah lebih mendengar jeritan masyarakat Bali pada saat ini. Ada masyarakat yang mati-matian menolak jam malam agar bisa tetap berjualan. Kelompok masyarakat seperti itu, menurutnya, yang harus didengarkan dan memerlukan bantuan sebenarnya. Jika tidak bisa membantu meringankan beban masyarakat, jangan malah memberatkan masyarakat.

Baca juga :  Pemerintah Susun Protokol Kesehatan Khusus Cegah Klaster Keluarga

Dimintai konfirmasi atas postingan opininya itu, Minggu (14/2/2021) Juliarta berkata dia bukan dalam posisi setuju atau tidak setuju dengan SE tersebut. Sebagai wakil rakyat, dia menilai belum waktunya Gubernur membuat kebijakan seperti itu. “Saya rasa momennya tidak tepat, belum waktunya. Kami sebagai anggota DPRD Bali hanya menyarankan saja kepada Saudara Gubernur,” katanya.

Lebih jauh diutarakan, SE itu mungkin tidak memberatkan kalangan PNS karena pengadaan pakaian dianggarkan di APBD. Namun, lain ceritanya dengan mereka yang bekerja di sektor swasta. Apalagi saat ini sudah banyak karyawan swasta yang mesti dirumahkan atau diberhentikan dari tempat kerjanya.

“Di swasta juga lagi susah sekarang, masa lagi disuruh beli endek?” urai politisi muda tersebut.

Juliarta menegaskan, status postingannya itu untuk mengkritisi kebijakan Gubernur, bukan menyoroti personal. Pandangannya juga sebagai bentuk masukan agar Gubernur membuat kebijakan yang lebih baik dari itu. Kalaupun kebijakan tersebut niatnya baik, tapi jika waktunya tidak tepat, dapat berakibat tidak baik terhadap publik.

Disinggung bahwa PDIP dan Gerindra berkoalisi di pusat tapi dia justru bersikap seperti oposan terhadap PDIP yang memerintah di Bali, Juliarta hanya tertawa. Dia beralasan, kekritisan itu justru sebagai medium untuk menjaga performa Gubernur agar tetap disukai masyarakat. “Pilkada masih jauh memang, tapi kalau misalnya Gubernur dicintai rakyat, lalu koalisi dengan Gerindra,kan jadi lebih mudah menjual pada saat itu,” katanya terkekeh.

Baca juga :  Catat..! Susi Pudjiastuti akan Berbagi Kisah dengan Mike Tyson

Tidak khawatir ditegur partai sikap kritis ini? “Nggaknggak ada masalah, ngapain khawatir? Posisi saya sebagai anggota DPRD menyuarakan aspirasi rakyat, masa sudah bersuara malah disalahkan?” tandasnya kalem.

SE Gubernur tanggal 28 Januari 2021 itu ditujukan kepada pimpinan lembaga/unit kerja instansi vertikal, pimpinan perguruan tinggi, bupati/wali kota se-Bali, kepala OPD Pemprov, direktur BUMN/BUMD, pimpinan perusahaan swasta, dan pimpinan organisasi/LSM. Gubernur mengimbau menggunakan pakaian berbahan kain tenun endek produk lokal Bali pada aktivitas tiap Selasa. Imbauan itu untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bali, dan berlaku sejak Selasa (23/2/2021). hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.