Wujudkan Pendidikan Ramah Anak NTB, Niken Minta Asesmen dan Kolaborasi Posyandu Digencarkan

  • Whatsapp
BUNDA PAUD NTB, Niken Widyawati Saptarini Zulkieflimansyah, saat mengisi diskusi daring Pengembangan PAUD Holistik Integratif untuk Perkembangan Anak, Selasa (22/12/2020). Foto: ist
BUNDA PAUD NTB, Niken Widyawati Saptarini Zulkieflimansyah, saat mengisi diskusi daring Pengembangan PAUD Holistik Integratif untuk Perkembangan Anak, Selasa (22/12/2020). Foto: ist

MATARAM – Menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjadi pembelajar sepanjang masa, menjadi tantangan dalam jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Karena itu, langkah asesmen untuk mengidentifikasi kebutuhan anak, baik secara fisik maupun pertumbuhan mental, sebagai upaya mewujudkan pendidikan yang ramah anak harus dilakukan.

Bunda PAUD NTB, Niken Widyawati Zulkieflimansyah, Selasa (22/12/2020) mengatakan, dalam masa emas pertumbuhan, anak-anak juga memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang bervariasi. Hal ini mengharuskan para orangtua dan penyelenggara PAUD bersama stakeholders terkait dapat memahami kebutuhan perkembangan masing-masing anak. Untuk itu diperlukan kemitraan dan kolaborasi berbagai pihak yakni PAUD, Bina Keluarga Balita (BKB) dan Posyandu Keluarga.

Bacaan Lainnya

“Praktik dalam kemitraan dalam penyusunan kebijakan PAUD adalah pokja (kelompok kerja) yang berisi berbagai pihak dalam pelaksanaan APUD seperti sudah dilakukan di NTB,” ujarnya saat mengisi diskusi daring Pengembangan PAUD Holistik Integratif untuk Perkembangan Anak.

Menurut Niken, dengan pendekatan sistematis seperti itu, penyelenggaraan program PAUD Holistik Integratif dapat dilaksanakan dengan baik. Selain mengintervensi 50 PAUD di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di 10 kabupaten kota se-NTB, jelasnya, implementasi program PAUD Holistik Integratif serta pendidikan karakter di NTB untuk asesmen kepada anak juga dapat dilakukan. Apalagi PAUD Holistik Integratif merupakan kolaborasi tiga lembaga yakni PAUD, BKB, dan Posyandu Keluarga dalam satu atap. 

Baca juga :  Gianyar Terapkan Uji Kir Sistem Elektronik, Kadishub Mohon Permakluman

Terkait peran istri kepala daerah sebagai Bunda PAUD, dia menilai di masing-masing daerah dapat dimanfaatkan untuk mengkoordinasikan simpul-simpul lembaga yang terlibat pengembangan pendidikan dan kesehatan anak. “Inilah peran paling prioritas dan penting, karena hanya Bunda PAUD yang bisa melakukan,” cetusnya.

Niken menuturkan, tantangan di NTB secara angka partisipasi cukup baik. Hampir di semua desa terdapat PAUD yang tinggal ditingkatkan kualitasnya menjadi holistik dan integratif. Karena itu, dukungan semua pihak sangat menentukan dengan memberi perhatian yang konsisten. “Pada masa pandemi memang belum ada PAUD yang buka, tapi kita selalu memberi motivasi melalui webinar agar pendidikan tetap berjalan dengan keterbatasan,” ulasnya.

Direktur Eksekutif PSPK, Nisa Felicia, menambahkan, program PAUD Holistik dan Integratif di NTB layak diduplikasi di Indonesia. Alasannya, hal ini sebagai bentuk upaya melaksanakan penyelenggaraan pendidikan ramah anak dengan melibatkan banyak pihak. “Ini dapat menjadi sistem model bagaimana membangun pendidikan ramah anak dengan asesmen lengkap oleh banyak pihak,” urainya saat webinar dalam rangka ulang tahun kelima PSPK tersebut.

PSPK adalah lembaga nirlaba yang bekerja sama dengan banyak pihak dalam rangka pengembangan pendidikan. Salah satunya adalah provinsi NTB dalam mengembangkan PAUD Holistik dan Integratif. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.