Wacanakan Pasang GeNose, Pemkab Badung Perlu Anggaran Rp6-10 Miliar

  • Whatsapp
I WAYAN Adi Arnawa. foto: dok

MANGUPURA – Pemkab Badung, Bali berencana akan mengadakan alat GeNose C19. Alat tersebut merupakan pendeteksi Covid-19 melalui hembusan napas dan memiliki waktu sangat cepat dan akurasi tinggi dalam mengidentifikasi ada-tidaknya virus Corona pada orang yang dites. Untuk merealisasikan rencana itu, Pemkab Badung membutuhkan anggaran sebesar Rp6-10 miliar.

Plh. Bupati Badung, Wayan Adi Arnawa, menerangkan, antara kehidupan manusia dengan Covid-19 saat ini seolah tidak bisa dipisahkan atau hidup sejalan berbarengan dan berdampingan. Pemkab Badung, kata dia, mencoba merancang penerapan alat GeNose, yang diharapkan nantinya bisa terealisasikan ke depannya.

Bacaan Lainnya

Dengan adanya alat tersebut maka upaya pendeteksian awal Covid-19 di dalam tubuh manusia akan lebih mudah diketahui. Terlebih akurasi alat tersebut diketahuinya cukup tinggi dan sangat cepat dalam mengeluarkan hasil pemeriksaan.

“Kita sedang menyiapkan alat yang bisa membantu dalam rangka meskrining masyarakat ataupun siapapun yang berada di suatu tempat, yaitu GeNose. Kita sedang merancang dan mendiskusikan ini di dalam tim Satgas Covid-19 kabupaten, semoga dalam waktu dekat ini bisa di follow up,” ujarnya, belum lama ini.

Dengan implementasi alat tersebut di suatu lokasi, ia menilai tidak akan perlu lagi diberlakukan pembatasan operasional. Sebab, ketika ada orang yang datang dan hendak masuk ke dalam suatu kawasan, mereka bisa langsung terskrening.

Baca juga :  Timnas U-19 Indonesia vs Qatar Minggu Malam Ini, Shin Tae-yong: Laga akan Menarik

Dengan demikian akan diketahui mana yang positif dan tidak diperbolehkan masuk, serta mana yang negatif dan diperbolehkan masuk. Hal itu tentunya lebih efektif, efisien dan fleksibel, karena tidak perlu lagi memasang thermogun dan test swab (tes usap). “Ketika mereka sudah melewati pemeriksaan itu, siapapun yang berada di dalam kawasan tentunya mereka yang hasil pemeriksaannya negatif,” sebutnya.

Rencananya alat itu akan dipasang di kantor desa, lurah, kecamatan, pusat pemerintah, fasilitas publik, dan destinasi pariwisata. Dari kondisi keuangan saat ini, minimal rencana itu diharapkan bisa direalisasikan di perkantoran pemerintahan dulu sebagai percontohan.

Berikutnya baru mendorong pelaku wisata untuk memasang alat itu ke depannya. Dengan demikian orang yang masuk ke hotel atau restoran bisa melewati skrining, sehingga bisa dipastikan mereka aman ketika berada di dalam ruangan.

“Kami harap dengan langkah ini, apa yang diharapkan pelaku pariwisata dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi bisa diwujudkan. Seiring dengan itu kita harap pariwisata juga bisa mulai dibuka, dengan tetap menerapkan prokes ketat,” pungkas Adi Arnawa. gay

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.