Sudah Saatnya Bali Miliki RS Khusus Infeksi

dr. Bagus Darmayasa. Foto: ist
dr. Bagus Darmayasa. Foto: ist

DENPASAR –  Merujuk data terakhir, Bali sudah masuk dalam “papan atas” daerah dengan kategori terparah Covid-19 di Indonesia. Dari serangkaian masalah yang dihadapi Bali, persoalan utama adalah terbatasnya kapasitas dan daya tampung rumah sakit yang merawat pasien positif Covid-19. Dalam konteks inilah Bali sudah saatnya memiliki Rumah Sakit Khusus Infeksi.

Demikian dikemukakan praktisi kesehatan yang juga Direktur Rumah Sakit Puri Raharja dr. Bagus Darmayasa dalam perbincangan dengan POS BALI di Denpasar, Kamis (17/9) kemarin. Dari dokter yang suka melukis ini, juga terungkap aneka kendala yang dialami tenaga kesehatan di Rumah Sakit, berbagai upaya Pemprov Bali yang dinilai cukup maksimal, serta gagasan yang bersifat terobosan untuk menahan laju ‘daya rusak’ Covid-19 di Pulau Dewata. 

Bacaan Lainnya

Sebagaimana diketahui, virus ganas Covid-19 cepat menyebar dan mewabah merenggut nyawa manusia. Hingga Kamis (17/9) kemarin, Covid-19 telah merenggut nyawa 9.222 orang dari232.628 orang yang terkonfirmasi positif di seluruh Indonesia. Bencana ini juga mengharu biru perekonomian, membuat panik pemimpin dan warga negara se-dunia dan mengacak-acak aktivitas dan kohesi sosial.

Bali yang menjadi salah satu pintu masuk utama Indonesia dari luar negeri, telah menjadi salah satu zona paling berbahaya. Kurva pasien positif Covid-19 di Bali menanjak tajam. Data terakhir di Bali, Kamis (17/9) menunjukkan, sudah 194 pasien meninggal dunia dari 7.492 orang yang terkonfirmasi positif. Kondisi ini terbaca secara jelas pada kurvaCovid-19 Bali, yang tampak menanjak tajam.

Dari fakta ini, Bali yang semula termasuk dengan penanganan terbaik, kini terseok menduduki “papan atas” daerah dengan kategori terparah Covid-19 di Indonesia. Pandemi Covid-19 membawa seribu satu ekses negatif yang membuat Pemerintah Daerah Bali cukup kewalahan. Bagaimanatidak,selainharus membuat terobosan untuk mengatasi potential lostakibat lumpuhnya sektor pariwisata sebagai penyangga utama perekonomian Bali, juga harus berjibakumerawat dan memotong matarantai virus mematikan itu.

Tentang perawatan pasien positif, Pemerintah Daerah se-Bali telah mengeluarkan kekuatan maksimal. Misalnya dengan mengerahkan dan mengalokasikan semua sumber daya. POS BALI mencatat, sebanyak 55 RS Rujukan di Bali yang ditetapkan pemerintah setempat untuk menerima rujukan pasien Covid-19, nyaris penuh. Sementara pasien positif Covid-19 dalam seminggu terakhir terus berdatangan. Petugas kesehatan kewalahan. Kapasitas tempat tidur ruang isolasi di 15 RS Rujukan yang semula 486 unit, kini ditambah menjadi 503 unit.

Dari serangkaian masalah yang dihadapi Bali, setelah dianalisis dengan saksama, ternyata yang paling urgent adalah terbatasnya kapasitas dan daya tampung rumah sakit yang merawat pasien positif Covid-19. Saat ini, semua Rumah Sakit yang merawat pasien Covid-19 di Bali sudah over capacity.

Imbas dari kenyataan ini menjadi bercabang; di satu sisi perawatan pasien tidak bisa maksimal. Di sisi lain, rumah sakit kesulitan membendung pasien non Covid-19 yang juga memiliki kepentingan yang sama dari penularan virus berbahaya ini. Memang, jalan tengahnya darurat yang diambil adalah men-set up sejumlah ruang menjadi Ruang Isolasi. Namun dalam praktiknya, ruang isolasi tidak mampu membentengi petugas dari keganasan Covid-19. Juga tak mampu menghindarkan petugas kesehatan dan pasien lain daripenularan Covid-19pasien yang diisolasi.

Menurut Direktur Rumah Sakit Puri Raharja (RSPR) Denpasar, dr. Bagus Darmayasa, mendisain “Ruang Isolasi” yang memenuhi syarat, bukan pekerjaan gampang. Sebab, banyak kondisi khusus yang diperlukan untuk ruang khusus tersebut. Kondisi khusus dimaksud, tandasnya, adalah bahwa setiap ruang isolasi wajib menggunakan tekanan udara positif dan negatif.Tekanan udara negatif digunakan untuk pasien infeksi yang penularannya bisa terjadi lewat udara.

“Nah, tekanan udara negatif mungkin udara dari dalam ruang isolasi yang mengandung kuman penyebab infeksi tidak keluar dan mengontaminasi udara luar. Sebaliknya ruangan isolasi juga menggunakan tekanan udara positif, untuk pasienyang rentan mengalami infeksi. Tekanan udara positif didapatkan dari udara bersih yang telah disaring dan dibersihkan, kemudian dipompa ke dalam ruangan terus-menerus. Hal ini membuat udara yang masuk ke ruangan isolasi tetap steril,” jelas dr. Bagus Darmayasa.

Tokoh Kesehatan Bali yang berturut-turut pernah menjabat Direktur RS Jiwa Bangli dan Direktur RS Bali Mandara ini menjelaskan, pasien penderita penyakit yang direkomendasikan untuk dirawat di ruang isolasi itu meliputi : SARS, MERS,Covid-19, Difteri, Kolera, Tuberkulosis, Infeksi organisme yang resisten terhadap beragam obat (multi-drug resistant organisms/MDRO), Cacarair, serta pengidap HIV/AIDS.

Demikian beratnya syarat yang wajib dipatuhi untuk sebuah “Ruang Isolasi” sebagaimana dirasakan selama merawat Pasien Covid-19, di Bali, menggugah dr. Bagus Darmayasa mendorong pihak berwenang dan stake- holderterkait untuk berjuang menghadirkan “Rumah Sakit Khusus Infeksi”di Bali.

Mengapa harus Rumah Sakit Khusus Infeksi? “Ya, karenaujian besar sedang kita hadapi saat ini, dimana untuk merawat pasien Covid-19 yang terus berdatangan, Ruang Isolasi di RS-RS di Bali sudah tidak sanggup menampung. Juga tidak efektif memberi pelayanan karena syarat-syarat sebuah Ruang Isolasi sulit dipenuhi secara memadai,” kata Advisor BIMC Kuta yang juga seniman ini.

Dia menegaskan, Rumah Sakit Infeksi merupakan jawaban atas tantangan yang saat ini dihadapi, juga tantanganmasa depan kesehatan Bali. Dalam dunia yang mengglobal, virus ganas yang mewabah di seantero dunia dan merenggut nyawa secara massal terus mengintai.

Dengan adanya “RS Khusus Infeksi” maka Bali telah siap menghadapi kondisi terburuk, yang sewaktu-waktu melanda dunia. Keunggulan RS Khusus Infeksi antara lain pada aspek Keamanan Keamanan karena semua protokel kesehatan yang dikelurkan WHO tidak begitu sulit untuk dipatuhi.

Mengapa? “Karena rumah sakit khusus berarti seluruh sistem dan pranata, sumber daya serta sarana dan prasarana penunjangtelah disiagakan secara kehusus bersamaan dengan Rencana Penanggulangan Bencana (Hospital Disaster Plan) untuk menghadapi pandemi seperti Covid-19 ini,” ujar Tim Legal Pendiri RS BIMC Nusa Dua, RS Siloam Bali, Ecos Clinic Kuta dan Diagnos Laboratorium Denpasar ini.

Kecuali itu, lanjutnya, RS Khusus Infeksi, juga memiliki kelebihan dalam lebarnya ruang yang menjadi area khusus. Pada ruang isolasi pada RS biasa, pasien infeksi seperti Covid-19 menempati ruang khusus yang wajib diisolasi dari dan terhadap pasien non infeksi yang juga membutuhkan pelayanan rumah sakit. Dalam hal ini, baik peralatan dan petugas yang dikerahkan, kewalahan membendung kemungkinan penularan visus paseien infesksi kepada pasien non infeski.

“Kalau di RS Khusus Infeksi, semua kawasan di RS tersebut tergolong khusus sehingga petugas tak lagi bekerja keras untuk menseterilkan ruang rawat masing-masing pasien,” jelas dr Bagus.

Untuk itulah, dokter yang suka melukis ini berpendapat, pendirian RS Khusus Infeksi menjadi penting bagi pembangunan kesehatan Bali. Sebab, posisi Bali yang menjadi pintu utama masuknya wisatawan asing akan selalu menghadapi ancaman penyebaran virus berbahaya, yang untuk menghadapinya, RS Khusus Infeksi menjadi salah satu sarana yang amat penting.

“Harus diakui bahwa membatasi atau memperketat pengawasan pintu masuk turis asing, sangat merugikan Bali yang andalan utamanyapada sektor pariwisata. Di sisi yang lain, dengan terbukanya Bali untuk turis asing, berpotensi membukaruang bagi tersebarnya berbagai virus. Maka, jalan tengah terbaik adalah mengantisipasinya dengan fasilitas kesehatan khusus untuk pasien infeksi,” ujarnya. Sekali lagi, dr Bagus menekankan, sudah saatnya Bali memiliki RS Khusus Infeksi. Hal itu sangat perlu dan bahkan mendesak. Sebab manfaatnya, selain untuk menangani pasien Covid-19,  secara jangka panjang jugamenjadi nilai tambah Bali sebagai destinasi wisata. Di mana bisa memberi rasa aman dan nyaman bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Dewata. gre

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses