POSMERDEKA.COM, KARANGASEM – Penggunaan E-Pos gate untuk meminimalisir terjadinya kebocoran di sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD) khususnya dari sektor pajak galian C, mendapat perhatian Panitia Khusus (Pansus) yang membidangi pendapatan. Hal itu terungkap saat Pansus I yang dipimpin I Nengah Sumardi melangsungkan rapat kerja (raker) yang melibatkan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) serta sejumlah OPD terkait.
Seperti yang dikatakan anggota Pansus I, Putu Deny Suryawan Giri, penggunaan E-Pos gate semestinya bisa dioptimalkan di era yang serbadigital ini. Selain untuk mencegah permainan antara sopir dan oknum penjaga portal, kartu E-Pos gate juga untuk mengetahui muatan truk yang mengangkut galian C. “Kalau bisa E-Pos gate agar didirikan di bawah tikungan Berina, Desa Kaang-Kaang. E-Pos gate ini agar benar-benar dioptimalkan dengan baik,” serunya.
Senada dengan Suryawan Giri, anggota Pansus I lainya, I Komang Sudanta mengatakan, dengan PAD Karangasem yang masih di kisaran Rp500 miliar, sangat jauh jika berbicara tentang kemandirian fiskal. Karena itu, kata Sudanta, pemerintah daerah harus bisa mengoptimalkan setiap potensi yang bisa mendongkrak PAD. Sudanta juga mempertanyakan standardisasi truk yang mengangkut material galian C.
“Ini temuan kita di Pos Rendang, truk yang membawa pasir sampai penuh tetapi dalam fakturnya tonasenya hanya 7 ton. Kita harapkan biar ada kejelasan standar kubikasi, sehingga lebih memudahkan pengawasan,” lugasnya.
Selain itu, Sudanta mendesak BPKAD agar ada perbedaan warna dalam faktur. Misalnya faktur berwarna untuk kubikasi 7 ton, termasuk warna lainya dengan kubikasi yang berbeda. Menurutnya, faktur yang ada saat ini sangat memudahkan diakali oknum pengusaha nakal. “Karena warna fakturnya sama semua, jadi harus ada pembeda untuk setiap warna, itu lebih memudahkan melakukan pengawasan,” sarannya.
Ketua Pansus I, I Nengah Sumardi, menyoroti turunnya jumlah truk yang mengangkut galian C dari Karangasem. Sumardi mengatakan, jika disampaikan jumlah truk sebanyak 1.300 per hari, sedangkan sebelumnya jumlah truk mencapai 1.600, semestinya dijelaskan dasar kenapa bisa turun. Sumardi juga menyebut temuan saat Pansus I turun ke lapangan, ada fakta-fakta yang tidak bisa diungkapkan dalam rapat kerja. Namun, Sumardi mengaku bakal mendalami kontrol BPKAD kepada petugasnya yang turun.
“Seperti temuan kita di lapangan, fakturnya rata-rata 4 kubik. Kenyataannya truk sampai penuh begitu, saya pikir los pajak kita cukup tinggi,” ungkapnya.
Kepala BPKAD Karangasem, I Nyoman Siki Ngurah, mengakui, dari pendataan yang pernah dilakukan, angka truk sempat menyentuh di angka 1.800 truk per harinya. Namun, untuk di awal tahun, biasanya jumlah truk yang mengangkut material mengalami penurunan karena belum ada proyek dari pemerintah. “Biasanya truk bertambah jika pada bulan-bulan Agustus sampai Desember, kalau awal tahun memang kisarannya seperti itu,” ucapnya.
Terkait kubikasi muatan truk, dia mendaku menemukan hal yang sama. Namun, biasanya petugas di portal bakal mengisi catatan di balik faktur yang disetorkan. Untuk optimalisasi penggunaan E Pos gate, pihaknya masih membenahi mekanisme, terutama kajian kelayakan karena sebelumnya sempat menjadi temuan BPK.
“Kami juga saat ini sedang merancang untuk melakukan pengawasan dengan membentuk tim pengawas bersama. Di dalamnya ada unsur Polres, Kodim, Pengadilan, Kejaksaan, Satpol PP dan Perhubungan,” pungkasnya. nad
























