POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Desa Keliki Kawan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar merupakan kampung seni yang melahirkan ratusan pelukis lukisan klasik Keliki Kawan. Namun, sebagian besar mengeluh karena kurangnya perhatian pemerintah, baik daerah maupun pusat.
Ngakan Made Sudarsana, salah satu dari ratusan pelukis di Keliki Kawan, Payangan, ditemui Rabu (18/10/2023) menuturkan, dia melukis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Bahkan saat SMP meraih juara I lomba melukis yang digelar Shankar’s International Children Competition India. “Saya mendapat piagam penghargaan dan medali emas,” dakunya dengan bangga.
Dia juga mendapat penghargaan sebagai juara lomba melukis yang digelar di berbagai negara, seperti di Jepang dan Korea. “Saya merasa bangga dengan penghargaan internasional yang didapat. Namun, perhatian dari pemerintah sendiri justru tidak ada,” keluhnya.
Sudarsana menegaskan, Keliki Kawan merupakan kampung seniman yang dikenal di berbagai negara. Bahkan sebagian besar warga Keliki Kawan merupakan pelukis. Hanya, selama ini sama sekali tidak mendapat perhatian dari pemerintah.
Hasil menjual lulusan digunakan untuk menghidupi keluarga. Tapi karena jarang mengikuti pameran, lukisannya jadi kurang dikenal. “Kami butuh tempat untuk pameran, sehingga lukisan klasik Keliki Kawan lebih dikenal,” pintanya.
Selama ini hanya turis yang datang berkunjung ke desanya yang mengenal lukisannya. Itu pun jarang ada yang membeli. “Kami susah memberikan harga lukisan, karena untuk menjadi sebuah lukisan perlu waktu beberapa hari, bahkan beberapa bulan. Apalagi itu merupakan karya seni yang perlu mood untuk mengerjakan,” ungkapnya.
Selama ini, kata Sudarsana, justru wisatawan yang memberi kesempatan untuk ikut pameran. Seperti pada bulan Mei 2024 mendatang, dia akan mengikuti pameran di Belanda. “Saya sudah dua kali didatangi panitia, tapi kepastiannya nanti pada bulan Maret 2024 mendatang,” tegasnya.
Made Gubag Sudariana yang juga seniman lukis asal Melinggih Kelod, Payangan merasa tergerak untuk membangkitkan Kampung Seni Keliki Kawan. “Memang perlu perhatian dari pemerintah, sehingga hasil karya para pelukis bisa cepat laku dan mereka bisa menghidupi keluarganya,” ujarnya.
Gubag mengupayakan solusi agar seniman di kampung seni tersebut bisa menikmati hasil karyanya. Sekarang mereka hanya melukis saja, tapi untuk penjualannya mengandalkan kepada turis yang berkunjung saja.
“Jangan sampai seniman tersebut enggan melukis lagi karena hasil karyanya menumpuk. Kita harus carikan solusi, lukisan klasik Keliki Kawan tetap eksis, tidak hilang karena minimnya perhatian pemerintah,” janjinya. adi
























