Penerapan Prokes di Industri Pariwisata, Pokli Pemprov Bali Dorong Bentuk Tim Pengawasan CHSE

  • Whatsapp
Ketut Jaman. Foto: alt
Ketut Jaman. Foto: alt

DENPASAR – Penerapan protokol kesehatan yang pertamakali di Bali dilakukan oleh hotel dan kemudian diikuti restoran. Kendatipun demikian, masih ada beberapa restoran yang belum menerapkan 100 persen protokol kesehatan, sehingga ini perlu adanya pengawasan. 

Hal tersebut disampaikan Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Provinsi Bali Bidang Pariwisata, Ketut Jaman, saat dimintai tanggapan terkait implementasi Protokol Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) di Bali, Kamis (15/10/2020).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, terkait objek wisata, dari pengamatan di lapangan, CHSE sebagian besar sudah diterapkan. Namun, masih memerlukan pengawasan. Misalnya tempat cuci tangan tanpa ada yang mengawasi, sering ada orang yang melanggar. “Oleh sebab itu, harus ada tim CHSE yang melakukan pengawasan yang mengawasi setiap kedatangan pengunjung,” lanjutnya.

Sementara terkait biro perjalanan wisata, lanjut dia, hampir 25 persen dari 400-an yang sudah terferivikasi, sedangkan MICE diperkirakan telah mencapai 50 persen yang sudah terverifikasi protokol kesehatan. ‘’Untuk di bidang angkutan pariwisata, itu mungkin sudah 75 persen. Khususnya yang menyediakan bus untuk angkutan pariwsata. Sedangkan sisanya masih dalam proses. Karena kegiatan verifikasi ini sedang berlangsung. Mudah-mudahan akhir November ini semuanya sudah melakukan,’’ bebernya.

Baca juga :  Haii... Rakyat Bali Disiplinlah!

Pihaknya juga mengakui banyak kendala di lapangan. Karena banyak tempat usaha yang “tutup”, sehingga saat diminta dilakukan verifikasi mereka tidak bisa melakukan karena alasan karyawannya ada di rumah serta alasan lainnya. “Jadi verifikasi itu ada empat. Pertama bidang hotel dan restoran, bidang angkutan pariwisata yang gabung dengan biro perjalanan wisata MICE, serta bidang daya tarik wisata,” tandasnya.

Sementara terkait adanya laporan tentang karyawan restoran yang tidak memakai masker saat melayani wisatawan, pihaknya meminta para pengusaha untuk kerap kali mengingatkan karyawannya agar disiplin menerapkan protokol kesehatan, terutama memakai masker. 

Karena, lanjut dia, akan terjadi seleksi alam, usaha yang menerapkan CHSE akan lebih banyak mendapatkan pengunjung. Sedangkan yang longgar, pengunjung akan enggan ke sana. ‘’Jadi ada seleksi alam. Mana yang bagus, nanti dia saja yang lebih banyak mendapatkan klien,’’ tungkasnya memungkasi. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.