Mengelus Giri, Mengusik (Soliditas) Banteng

  • Whatsapp
Gus Hendra
Gus Hendra

MENINGKATNYA suhu Bumi akibat gerak semu Matahari seakan berkelindan dengan meningkatnya suhu perpolitikan di Bali dalam membincang, dan meraba-raba, siapa saja calon Gubernur pada Pilkada Bali 2024 nanti. Belum apa-apa, Partai Golkar memberi kejutan dengan wacana siap mencalonkan Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta, sebagai kandidat yang akan diusung. Adalah Korwil DPP Partai Golkar Bali-Nusra, I Gde Sumarjaya Linggih, Selasa (26/10/2021) lalu menguatkan pernyataan Ketua DPD Partai Golkar Badung, I Wayan Suyasa untuk menjagokan Giri itu.

Alasannya sederhana: Giri dinilai sukses memimpin Badung, dan mampu menang dengan angka fantastis, 94,64 persen, saat Pilkada Badung 2020. Secara data, angka itu sangat menggiurkan untuk mengelus Giri sebagai calon Gubernur.

Bacaan Lainnya

Pernyataan politik mereka itu sejatinya wajar-wajar saja, karena siapa pun bisa dicalonkan oleh partai mana pun, yang penting sama-sama cocok. Namun, publik di Bali tahu Giri masih berstatus kader PDIP, pun menjadi Bupati Badung karena diperjuangkan PDIP. Singkat kata, pagi-pagi Golkar mengirim sinyal siap mencalonkan Giri yang merupakan kader partai lain; suatu sikap yang terlihat berani dan spekulatif.

Diakui atau tidak, secara semiosis Golkar jelas sedang melancarkan psywar terhadap calon lawan potensial mereka, yakni PDIP sebagai partai penguasa di Bali. Pada Pilkada 2018, calon Golkar yakni IB Rai Dharmawijaya Mantra-Ketut Sudikerta dikalahkan duet Wayan Koster-Cok Ace yang diusung PDIP. Menyitir pernyataan Demer, sapaan akrab Sumarjaya Linggih, sangat terbuka peluang Golkar mencalonkan Giri . “Bisa saja, Golkar sangat terbuka dan milik publik, makanya sering disebut PT go public,” kelakar Demer. Pernyataan itu menyiratkan Golkar sangat pragmatis, dan serius menyiapkan diri merebut kekuasaan di Bali.

Baca juga :  Baliho Airlangga Mulai “Menyapa” Warga, Sugawa Bantah Terkait Sosialisasi Capres

Menyimak wacana itu, meski Pilkada 2024 masih sangat jauh, bisa dimaknai sekurang-kurangnya dalam tiga hal. Pertama, Golkar sedang membujuk Giri untuk merapat sekaligus menyilakan menunggangi Golkar sebagai kendaraan politik. Itu berarti, entah direkomendasi PDIP atau tidak, Giri pasti bisa melenggang ke Pilkada 2024. Sebab, sudah rahasia umum Giri sangat berhasrat “naik kelas” menjadi Gubernur Bali masa depan.

Itulah kenapa dia main dengan melambung ke DPP Partai Golkar saat Pilkada Badung 2020, untuk “menggergaji” duet Diatmika-Muntra sebagai calon penantang yang dijagokan Golkar di Bali. Jika sampai ada rival alias tidak paslon tunggal, nyaris mustahil Giri bersama Suiasa (Giriasa) bisa menang dengan angka sefantastis itu.

Kedua, wacana mengusung Giri yang kader PDIP jelas bukan mustahil ditempuh. Mau bukti? Lihat saja pencalonan Giriasa sejak Pilkada Badung 2015 dan 2020. Meski dicalonkan PDIP tahun 2015, Giriasa mendapat suntikan dukungan dari perpecahan Golkar antara kubu Agung Laksono dan Aburizal Bakrie. Kubu Agung Laksono ikut mendukung Giriasa. Kemudian, seperti diulas di atas, Giri kembali mendapat bantuan dari elite Golkar untuk memenangkan Pilkada Badung 2020.

Meski belum tentu mencalonkan Giri, karena politik itu dinamis, tapi sekurang-kurangnya Golkar mencoba mendapat coattail effect dari Giri. Terlepas dari kekurangan Giri mengelola keuangan Badung yang menyebabkan sejumlah program bombastis jadi tersungkur, harus diakui Giri memiliki posisi tawar cukup menjanjikan. Jargon “Bupati bares” yang dikonstruksi pendukungnya sejak tahun 2016 lewat media massa dan, terutama, media sosial, memiliki efek amplifikasi signifikan di Bali, khususnya di kalangan bawah. “Jadi Bupati saja bares (royal), apalagi kalau jadi Gubernur?” begitu kira-kira asosiasi di benak publik yang ingin dibentuk loyalis Giri.

Baca juga :  Bupati Karangasem Dinilai Minim Komunikasi, Fraksi Golkar Tuding Pembangunan Stagnan

Ketiga, Golkar secara halus menyingkap ke publik bahwa ada “sesuatu” antara Giri dan Koster, dan kondisi itu yang sedang coba dikapitalisasi untuk kepentingan elektoralnya. Sudah jadi konsumsi publik juga antara Giri dan Koster ada kompetisi internal di partai, entah apa pemantiknya. Dengan mengeksplorasi rekahan calon lawannya itu, Golkar seperti tidak butuh terlalu banyak amunisi untuk maju ke palagan. Dalam batas tertentu, strategi belah bambu ini mengimitasi pola PDIP saat Pilkada Badung 2015, yang mengeksploitasi adanya dua kubu dalam tubuh Golkar, yakni versi Munas Ancol dan Munas Bali.

“Kenali dirimu sendiri, dan kenali pula musuhmu. Niscaya dalam 100 pertempuran akan ada 100 kali kemenangan.” Begitu nasihat Sun Tzu sebagai master strategi perang yang hidup 544 SM sampai 496 SM dalam buku terkenalnya, “The Art of War”. Kali ini Golkar lebih dulu melempar dadu untuk memulai permainan, sembari menanti dan membaca reaksi calon lawan. Meski kecil kemungkinan PDIP akan terjebak dalam perang urat syaraf itu, tapi sekurang-kurangnya Golkar mampu menunjukkan bahwa mereka memiliki persediaan isu yang bisa diguncangkan sesuka hati.

Otto von Bismarck, mantan Perdana Menteri Prusia (Jerman) berkata politik adalah seni segala kemungkinan. Jadi, tinggal menanti saja apakah mengelus Giri –mirip program Giri yakni Badung Angelus Buana— sembari meretakkan soliditas Banteng itu akan berhasil sesuai skenario, ataukah justru akan menjadi bumerang bagi Golkar. Kelak, sang kala yang akan memutuskan. Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.