POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Sebanyak 50 pemandu arung jeram (rafting guide) di Bali mengikuti Sertifikasi Kompetensi Kerja Bidang Kepariwisataan 2026 yang diadakan Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan LSP Pramindo di kawasan Masing Adventure Rafting, Ubud, Sabtu-Minggu (16-17/5/2026). Kegiatan ini menjadi langkah penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata, khususnya pemandu wisata petualangan berisiko tinggi di lintasan Sungai Ayung. Peserta berasal dari berbagai operator rafting yang beroperasi di kawasan Ubud.
Lead Asesor LSP Pramindo, Erwan Maulana, mengatakan, sertifikasi profesi penting dimiliki seluruh pemandu wisata, sebagai bentuk pengakuan resmi terhadap kompetensi kerja mereka. Menurutnya, masih banyak pemandu rafting yang bekerja bertahun-tahun, tapi belum memiliki legalitas profesi melalui sertifikasi kompetensi.
“Pemandu wisata wajib memiliki sertifikasi. Selama dua hari peserta mengikuti proses uji kompetensi melalui metode langsung dan tidak langsung, mulai wawancara, observasi lapangan hingga demonstrasi praktik,” ujarnya.
Dalam asesmen tersebut, peserta diuji terkait standar pelayanan wisata, mitigasi risiko, penanganan keadaan darurat hingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Peserta juga menjalani simulasi penyelamatan di sungai seperti teknik lempar tali penyelamatan, penanganan perahu terbalik hingga evakuasi wisatawan saat kondisi darurat terjadi di lintasan rafting.
“Asesor akan mengobservasi tindakan peserta lalu dibandingkan dengan bukti sesuai standar kompetensi. Dari situ ditentukan apakah peserta kompeten atau belum kompeten,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum FAJI Bali, I Ketut Weji, mengapresiasi dukungan Kementerian Pariwisata, asesor, dan pelaku industri rafting terhadap pelaksanaan sertifikasi tersebut. Ia menyebut saat ini terdapat sekitar 22 operator rafting di kawasan Sungai Ayung dengan jumlah pemandu mencapai sekitar 600 orang. Namun, sebagian besar disebut belum memiliki sertifikasi kompetensi resmi.
“Sertifikasi ini sangat penting. Walaupun mereka sudah bekerja sesuai SOP, tetap perlu legalitas profesi melalui sertifikasi,” terangnya.
FAJI Bali sebelumnya mengusulkan kuota 100 peserta kepada pemerintah pusat. Hanya, tahun ini baru dapat difasilitasi sebanyak 50 peserta. Menurutnya, program sertifikasi perlu terus dilaksanakan secara berkelanjutan mengingat rafting termasuk wisata berisiko tinggi, yang membutuhkan standar keselamatan ketat.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga persaingan usaha yang sehat antar-operator rafting demi menjaga citra pariwisata Bali, khususnya Ubud sebagai destinasi wisata aman dan nyaman. “Lintasan rafting di Sungai Ayung panjangnya sekitar 17 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Keselamatan wisatawan harus menjadi prioritas bersama,” tegasnya.
Selain peningkatan kompetensi SDM, pemerintah disebut telah melakukan mitigasi di jalur sungai seperti penebangan pohon rawan tumbang, dan pembersihan area sungai guna mengurangi risiko kecelakaan maupun longsor.
Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata, Fadjar Hutomo, menegaskan, sertifikasi bukan hanya penting bagi individu pemandu, tetapi juga bagi keberlangsungan industri wisata petualangan di Bali. Menurutnya, wisata rafting memadukan keindahan alam, adrenalin, dan pengalaman unik. Hanya, aktivitas tersebut memiliki risiko tinggi, sehingga aspek keselamatan harus menjadi perhatian utama.
“Keselamatan adalah prioritas utama. Aktivitas rafting di Sungai Ayung memiliki risiko tinggi dan jika terjadi kecelakaan bisa berdampak pada citra pariwisata Bali,” bebernya.
Pemandu rafting, sambungnya, juga dituntut memahami kondisi alam seperti cuaca, debit sungai hingga potensi bencana alam. Sebab, terkadang wisatawan juga tidak disiplin terhadap instruksi keselamatan. Karena itu pemandu harus benar-benar kompeten mengendalikan situasi di lapangan.
Fadjar menegaskan, sertifikasi profesi bukan sekadar formalitas administratif, melainkan komitmen membangun pariwisata berkualitas yang bertumpu pada keamanan dan kepercayaan wisatawan. Saat ini sertifikasi kompetensi pariwisata juga mulai diterapkan luas di berbagai sektor wisata petualangan di Indonesia, seperti pemandu gunung, balawista, penyelam hingga pemandu snorkeling. Di Bali, program sertifikasi profesi disebut semakin berkembang sejak pandemi Covid-19, dan kembali menggeliat seiring pulihnya sektor pariwisata. adi























