Membaca Romantisme Ubud-Batur dari Dulu hingga Kini

  • Whatsapp
Foto: Para narasumber dipandu moderator dalam Rembug Sastra PARA narasumber dipandu moderator dalam Rembug Sastra "Ubud dan Batur dalam Perspektif Teks dan Kesejarahan" di Museum Puri Lukisan Ubud, Sabtu (5/9). Foto: ist
Foto: Para narasumber dipandu moderator dalam Rembug Sastra PARA narasumber dipandu moderator dalam Rembug Sastra "Ubud dan Batur dalam Perspektif Teks dan Kesejarahan" di Museum Puri Lukisan Ubud, Sabtu (5/9). Foto: ist

GIANYAR – Sebelum menjelma menjadi destinasi wisata dunia, Ubud merupakan salah satu daerah agraris di kawasan Bali Tengah. Latar belakang keagrarisan ini menjadi akar keterhubungan yang kuat antara Ubud dan Batur.

‘’Tetua kami di Ubud memiliki istilah Ubud sebagai anak emas Batur. Istilah ini begitu membekas di hati masyarakat Ubud sejak dulu, yang berangkat dari limpahan anugerah yang didapat Ubud atas keberlimpahan air dari Ida Sane Madue Toya (beliau yang memiliki air, red),’’ kata tokoh Puri Ubud, Tjokorda Gde Dharmaputra Sukawati, dalam Rembug Sastra “Ubud dan Batur dalam Perspektif Teks dan Kesejarahan” yang digelar di Museum Puri Lukisan Ubud, Sabtu (5/9).

Menurut kepercayaan masyarakat Ubud, air yang mengaliri sawah di sekitar kawasan Ubud berasal dari Danau Batur. Konsep ini pula yang kemudian diterjemahkan secara lebih lanjut ke dalam pemujaan kehadapan Ida Bhatari Dewi Danuh, dewata penguasa air Danau Batur. ‘’Kepercayaan inilah yang kemudian terus terbangun, hingga akhirnya melahirkan hubungan-hubungan intim antara Ubud dan Batur yang terpelihara hingga saat ini,’’ jelasnya.

Baca juga :  UPUB Kendaraan Bermotor Dishub Gianyar Raih Akreditasi B

Untuk menjejak relasi Ubud-Batur, ia menggunakan lima konsep penelusuran, yakni menurut pura, puri, para, pari, dan purana. Tentang pura, di kawasan Ubud ditemukan banyak sekali pura pemujaan sawah dan tegalan, seperti Pura Ulun Suwi, Pura Empelan, Pura Subak, Pura Masceti, Pura Sakenan, dan Pura Alas Arum. Bahkan, beberapa diantaranya dinamai sebagai Pura Gunung Lebah dan Pura Ulun Danu yang mengarah kepada pemujaan Batur.

Dalam konsep puri, sejumlah tokoh puri disebut telah mendedikasikan dirinya sebagai pemuja Batur yang taat. Selain menyoal ketahanan pangan, capaian-capaian politis Ubud di kemudian hari seringkali diyakini sebagai anugerah yang diterimanya dari sosok Bhatari Batur. Keterkaitan ini kemudian membangun relasi tentang para atau khalayak luas, dimana orang-orang Ubud sangat pantang mengganggu, apalagi mengusir para pengelana Batur yang datang ke Ubud.

Persawahan yang subur dari anugerah air Batur turut menegaskan relasi Ubud-Batur menurut konsep pari (padi). Sementara, menurut konsep purana, teks Raja Purana Pura Ulun Danu Batur saat ini masih menjadi pegangan Ubud untuk senantiasa ingat memuja Bhatari Danuh.
‘’Relasi-relasi ini kemudian diwujudkan melalui partisipasi Ubud dalam pelaksanaan yadnya di Batur, seperti Ngusaba Kadasa, pakelem, bahkan pada pelaksanaan karya agung di Pura Gunung Lebah kehadiran Bhatari Batur juga tedun (hadir, red),’’ tandasnya.

Baca juga :  Tak Jeri Hadapi Pandemi, PDIP Bali Ajak Warga Bertani Manfaatkan Halaman

Dari sudut pandang Batur, I Ketut Eriadi Ariana (Jero Penyarikan Duuran Batur), menjelaskan bahwa romantisme Ubud-Batur berakar dari konsep pemujaan purusa-pradhana simbol kesejahteraan. Konsep pemujaan yang diterjemahkan dalam entitas Ida Bhatara Sakti Makalihan ini melahirkan praktik penghormatan terhadap air dan praktik pertuantanahan secara tradisional.

Terhadap praktik pertuantanahan tradisional, Raja Purana Batur menjelaskan sejumlah desa di sekitar Ubud yang diperkenankan memanfaatkan sawah duwe (milik) Bhatari Batur. Sebagai gantinya, mereka harus mempersembahkan sebagian hasil panen ke Batur.
‘’Danau Batur diyakini telah mengalir ke kawasan Bali selatan maupun Bali utara. Teks Pratekaning Usana Siwa Sasana menyebut daerah yang teraliri air Batur sebagai pasihan, dimana anggotanya rata-rata masyarakat subak atau desa yang memiliki hak dan kewajiban tertentu selama proses ritus yang berjalan di Pura Batur,’’ kata alumnus Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana ini.

Baca juga :  Objek Wisata Dibuka, Ekonomi Masyarakat Mulai Menggeliat

Lebih jauh dia memaparkan, konsep pasihan bisa dimaknai sebagai konsep subsidi purba, dimana masyarakat yang berlimpah air memiliki kewajiban moral untuk mensubsidi kawasan resapan air di Pegunungan Kintamani, sehingga keseimbangan dapat terwujud. Konsep ini kemudian dikuatkan melalui studi Badan Geologi Kementerian ESDM yang menjelaskan bahwa air yang terserap di Pegunungan Kintamani baru akan menyembul ke permukaan yang berada di atas 7 km setelah bibir kaldera.

Keterikatan Batur-Ubud juga dapat dilihat dari konsep relasi pura dan puri. Keluarga Puri Ubud sebagai pewaris darah Dalem Waturenggong memiliki tugas khusus menjaga eksistensi palinggih Dalem Waturenggong di Pura Ulun Danu Batur. ‘’Dalam ruang kelisanan Batur, raja termasyur Bali ini memiliki jasa yang besar selama proses penyatuan Batur di masa silam, sehingga saat ini kami menyembahnya sebagai bhatara,’’ pungkasnya. eri

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.