Kegiatan Penyuluh Bahasa Bali di Payangan, Merawat Lontar, Menjaga Warisan Budaya

  • Whatsapp
PENYULUH Bahasa Bali Kecamatan Payanganmerawat lontar di Banjar Pengaji, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Gianyar. Foto: adi
PENYULUH Bahasa Bali Kecamatan Payanganmerawat lontar di Banjar Pengaji, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Gianyar. Foto: adi

GIANYAR – Penyuluh Bahasa Bali yang bertugas di Kecamatan Payangan, Gianyar, tetap merawat lontar di wilayah binaan meski di tengah banyak pembatasan akibat pandemi. Lontar yang dirawat yang berisi wariga dan usadha di rumah warga Banjar Pengaji, Desa Melinggih, Payangan.

Penyuluh Bahasa Bali Kecamatan Payangan, I Wayan Suarmaja, Senin (28/9/2020) menuturkan, dia merawat lontar berjumlah 41 cakep. Itu dilakukan lantaran beberapa kondisi lontar ada yang rusak, karena tiga generasi penerus tidak ada yang menekuni. Sejumlah embatan-embatan juga didapati dalam kondisi rusak.

Bacaan Lainnya

Materi lontar tersebut, sambungnya, kebanyakan tentang wariga yang mengarah ke pebayuhan oton atau tenung paweton. Selain itu, ada juga lontar yang berkaitan dengan usadha (pengobatan). Meski sejak tiga generasi sampai saat ini tidak ada yang menekuni, tapi saat ini masih disimpan dengan baik. “Kami di Penyuluh Bahasa Bali melaksanakan kegiatan ini direncanakan dua kali, karena jumlah naskah yang cukup banyak,” urainya.

Lebih lanjut dia mengatakan, berhubung kondisi pandemi,tim yang turun untuk merawat lontar juga dibatasi. Dia hadir bersama rekannya sebanyak delapan orang, itu pun semua wajib dengan menerapkan protokol kesehatan. Menurutnya, di tengah pandemi ini, Penyuluh Bahasa Bali belum bisa memaksimalkan kegiatan, terutama dalam merawat lontar secara langsung. Restriksi kegiatan dan kewajiban menaati protokol kesehatan, itulah soalnya.

Baca juga :  Sayur dan Minuman Tradisional Laris Manis di Pasar Gotong Royong Krama Bali PDIP Denpasar

Sebagai jalan keluar, kegiatan lebih memanfaatkan pemberian materi atau pemahaman terkait Bahasa Bali melalui media sosial dan pembahasan secara virtual. Salah satunya nama-nama buah, nama-nama jumlah uang, dan lain sebagainya. “Selama pandemi, kegiatan kami tidak bisa maksimal karena ruang gerak terbatas,” pungkasnya. 011 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.