KALAU BISA, BERSYUKURLAH DI SEGALA CUACA!

  • Whatsapp
Mr/Pak Joger. Foto: ist
Mr/Pak Joger. Foto: ist

(Untuk 40 tahun ke atas) 

MENURUT penelitian penulis (Mr/Pak Joger) yang tidak terlalu teliti dan juga menurut pengamatan penulis yang tidak terlalu cermat, tingkat kecerdasan bersyukur maupun kualitas kepekaan rasa syukur “manusia biasa” (bukan “manusia luar biasa” atau “super-human” atau “orang suci”) biasanya atau pada umumnya cenderung menurun dan/atau bahkan bisa saja malah berbanding terbalik (bertolak belakang) dengan peningkatan jumlah (kuantitas) harta kekayaan yang berhasil dia kumpulkan maupun akumulasikan secara rutin dalam waktu bertahun-tahun. Contohnya Saudara Tedatsa (Sdr. Te-man da-ri t-eman sa-ya, bukan nama sebenarnya), ketika belum punya sepeda, dia selalu bepergian ke sana ke mari dengan berjalan kaki dalam rangka rajin berdoa, bekerja, berkarya, berusaha, berhemat, berjuang, dan menabung agar punya kemampuan finansial untuk membeli sebuah sepeda dayung bekas yang masih berfungsi secara baik sebagai kendaraan atau alat mempercepat dan mempermudah mobilitasnya.

Bacaan Lainnya

Kehadiran sepeda dayung bekas itu, ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat kecerdasan bersyukur maupun kualitas rasa syukur Sdr. Tedatsa yang selama berbulan-bulan tetap bersyukur dalam bentuk rajin membersihkan dan merawat secara sangat baik dan sukacita sepeda dayung bekasnya itu. Karier dan penghasilan Sdr. Tedatsa pun mulai menanjak sesuai dengan kinerja dan penilaian atasannya yang juga senang dan bahagia melihat kegembiraan dan kebersyukuran Sdr. Tedatsa. Setelah tiga tahun hidup bersyukur dengan sepeda dayung bekasnya itu, Sdr. Tedatsa pun punya kemauan serta kemampuan untuk membeli sebuah sepeda motor baru. Lalu, kehidupan Sdr. Tedatsa yang sudah punya pekerjaan tetap dan juga sudah punya sepeda motor baru itu pun mulai menarik bagi lawan jenis atau wanita sederhana yang sudah dewasa, dan karena sama-sama saling mencintai, status Sdr. Tedatsa pun berubah menjadi Bapak Tedatsa yang hidup bersyukur dan bahagia bersama Ibu Tedatsa (mantan pacarnya).

Baca juga :  Bali Harus Lebih Ketat Antisipasi Arus Balik Usai Lebaran

Karier dan status sosial Pak Tedatsa yang bersyukur dan bahagia itu pun terus meningkat. Ibu Tedatsa yang juga bersyukur dan bahagia pun tekun merawat dan mendidik dua anak mereka yang cerdas-cerdas dan sehat-sehat. Pada usianya yang ke 40, Pak Tedatsa pun diangkat menjadi kepala bagian keuangan, gajinya meningkat dua kali lipat, fasilitas maupun jaminan sosial yang diberikan perusahaan pun meningkat, mobil-mobil baru dibeli, sopir-sopir maupun tukang kebun pun direkrut, pembantu rumah tangga ditambah, rumah baru yang besar dan bagus dibeli, sekretaris yang lebih muda dan lebih cantik pun dipilih, deposito maupun berbagai macam asuransi pun menumpuk memberikan rasa aman yang makin tinggi kepada segenap anggota keluarga Tedatsa, dan para tetangga pun iri dan melongo, sampai pada suatu hari, beberapa polisi berpakaian sipil membawa surat perintah penangkapan terhadap Pak Tedatsa yang ternyata selama tiga tahun belakangan ini sudah “khilaf” menggelapkan uang perusahaan yang dipimpinnya. Sekretarisnya juga ikut ditangkap, karena bukan hanya terlibat, tapi justru dia lah pemicu dan pendorongnya. Sedangkan Ibu Tedatsa malah hampir setiap hari didatangi para penagih utang ini maupun utang itu. Anak-anak yang sekolah di luar negeri terpaksa dipulangkan.

Lalu banyak orang, termasuk penulis (Mr/Pak Joger) pun makin percaya pada hipotesisnya yang antara lain berbunyi “Ternyata kecerdasan bersyukur atau kualitas rasa syukur manusia biasa, cenderung memudar dan/atau bahkan menurun secara bertolak belakang dengan meningkatnya jumlah harta, kekayaan, kekuasaan, maupun kenikmatan hidupnya“. Dan kemudian, Pak Tedatsa maupun sekretarisnya yang dibina di penjara yang berbeda pun sama-sama rajin baca buku-buku rohani. Istri dan anak-anak Pak Tedatsa yang sudah jatuh miskin pun terpaksa hidup sangat hemat, sederhana, dan prihatin, tapi anehnya, setelah beberapa-belas tahun berlalu, si anak sulung yang dibesarkan secara sangat sederhana pun tumbuh dan berkembang menjadi pengusaha muda yang sangat baik, jujur, ramah, rajin, bertanggungjawab,  berimajinasi, berinisiatif, berani, bersyukur, bermanfaat, tekun, dan tahu diri yang benar-benar sukses dan/atau bahagia lahir batin. Dan adiknya yang juga dididik secara sangat sederhana dengan penuh rasa syukur pun malah berhasil mendapat kedudukan yang bagus di sebuah perusahaan besar, di mana kariernya menanjak terus berkat tingkat kecerdasan bersyukurnya yang tinggi, teguh, dan matang.

Baca juga :  Garis Tangan, Buah Tangan dan Tanda Tangan

Lalu marilah kita berdoa, semoga kedua anak Pak Tedatsa, anak-anak kita, maupun anak-anak orang lain, benar-benar mau dan mampu mengambil hikmah dari pengalaman hidup orang tua mereka, sehingga kecerdasan bersyukur maupun kualitas rasa syukur mereka pun tidak mereka turunkan atau pudarkan di segala cuaca, termasuk ketika jumlah kekayaan, kenikmatan, maupun kekuasaan yang berhasil mereka peroleh, rawat, maupun tumbuhkembangkan sedang tinggi maupun meningkat. Terima kasih! 

JOGER, KUTA, BALINESIA, 14032021. SUBUH. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.