Dispar Lobar Silakan Pelaku Pariwisata Berkreasi

  • Whatsapp
Foto: LOMBOK BARAT SALAH satu hotel di Lombok Barat yang mulai beraktivitas namun tetap mengedepankan protokol kesehatan. Foto: ade
Foto: LOMBOK BARAT SALAH satu hotel di Lombok Barat yang mulai beraktivitas namun tetap mengedepankan protokol kesehatan. Foto: ade

LOBAR – Masa pendemi Covid 19 membuat pelaku pariwisata di Lombok Barat memutar otak. Setelah tidak beroperasi sejak Maret hingga akhir Juni lalu akibat ditutup oleh pemerintah, kini para pengusaha dan pelaku pariwisata mulai membuka aneka kegiatan operasional usahanya.

“Pascaadanya Peraturan Bupati Nomor 50 Tahun 2020, kita memperkenankan seluruh usaha pariwisata beroperasi. Awalnya kalau pun hotel masih diperkenankan beroperasi, tapi tidak untuk kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Termasuk untuk spa, room karaoke, dan gym, saat itu belum kita perkenankan,’’ ujar Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, H. Saepul Akhkam, Selasa (25/8).

Dia menyebutkan, dengan surat edaran Nomor 973/156.2/Dispar/2020 tanggal 11 Agustus 2020, semua usaha jasa pariwisata dan tempat rekreasi yang memiliki pengelola, dipersilakan beroperasi asalkan menerapkan dengan ketat protokol kesehatan. ‘’Kita tidak ingin main-main dengan penyebaran virus berbahaya ini,” tegas Akhkam.

Baca juga :  Dokter Reisa: Dexamethasone Bukan Penangkal Covid-19

Sedari awal, imbuhnya, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat sangat mendorong seluruh sektor usaha pereknomian tetap bisa bergerak selama pandemi Covid-19, termasuk di bidang kepariwisataan. “Itu mengapa kita segera menyusunkan protokol kesehatan, menyosialisasikannya, dan melakukan supervisi pengawasan atas penerapannya agar tidak melahirkan klaster baru pada masa pandemi ini,’’ tegas Akhkam.

Saat ini, seluruh sektor usaha kepariwisataan di Kabupaten Lombok Barat sudah mulai menggeliatkan usahanya, termasuk hotel-hotel untuk MICE dan bahkan tempat hiburan malam di Kawasan Senggigi. Menurutnya, yang masih tertatih-tatih hanyalah bisnis travel atau agen perjalanan akibat belum normalnya perbangan dari dan menuju bandara.

‘’Itu mengapa kita mengajak para pelaku usaha kepariwisataan di Lombok Barat untuk menyasar pasar lokal. Masyarakat kita di Pulau Lombok ini, saya yakin juga ingin menikmati suasana yang berbeda dari rumah dan lingkungannya. Untuk itu penting bagi semua pelaku usaha untuk menawarkan berbagai atraksi yang variatif dan menarik,’’ ujar Akhkam.

Baca juga :  Terbentuk Relawan SMA Pendukung Giriasa di Badung

Hasil pantauan awak media, terutama di Kawasan Senggigi yang masih menjadi ikon kepariwisataan milik Lombok Barat, apa yang dinyatakan oleh kepala dinas tersebut ada benarnya. Situasi di Senggigi saat ini sudah sangat berbeda dengan kondisi di awal-awal pandemi Covid-19 ditetapkan sebagai bencana nonalam di Lombok Barat.

Lebih dari tiga bulan, Senggigi pernah seperti mati, namun saat ini terlihat berangsur normal. Beberapa kafe pun sudah mulai beroperasi kembali. Terutama di akhir pekan, hotel-hotel pun berangsur-angsur mulai diramaikan oleh pengunjung.

‘’Manajemen di beberapa hotel sudah mengkonfirmasi hal tersebut. Okupansi mereka sudah mulai merangkak naik, biarpun belum banyak. Rata-rata antara 15 sampai 20 persen, bahkan lebih di bulan Juli dan menjelang akhir Agustus ini. Rata-rata ramai di weekend. Di samping keberanian untuk melakukan penyesuaian harga, mereka ternyata kreatif menyajikan penawaran dan atraksi di hotel-hotel mereka,” terang Akhkam. 033

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.