Demi Keselamatan Pemain, Askot PSSI Denpasar Minta Kaji Ulang Venue dan Jadwal Piala Soeratin

  • Whatsapp
KETUA Umum Askot PSSI Denpasar, AA. Ngurah Garga Chandra Gupta. foto: ist

DENPASAR – Setelah melihat fakta-fakta di lapangan, akhirnya Askot PSSI Denpasar melayangkan surat ke Panitia Pelaksana (Panpel) Piala Soeratin rayon Bali 2021 yang ditembuskan juga ke Asprov PSSI Bali, tentang peninjauan kembali venue dan jadwal pertandingan, baik di kelompok usia 17 tahun (U17), U15 maupun U13.

Ada dua venue (tempat pertandingan), dimana untuk U15 dan U13 yang melibatkan 36 tim dipusatkan di Stadion Mengwi, Kabupaten Badung. Sementara U17 dipusatkan di Stadion Debes Kabupaten Tabanan, plus pertandingan babak 8 besar Liga 3 Rayon Bali 2021.

Bacaan Lainnya

Terkesan Panpel kejar target Desember ini seluruh pertandingan harus tuntas, maka terjadilah jadwal sangat padat pada dua venue tersebut yang akhirnya berdampak terhadap kondisi lapangan. Umumnya, lapangan yang dipakai setiap hari tentu akan rusak (keras). Apalagi ditambah hujan, tentu saja tingkat kerusakannya makin parah.

Faktanya, baru seminggu kompetisi bergulir, kondisi lapangan di kedua venue sudah rusak parah. Lebih ironis lagi, Panpel sepertinya tidak mau ada partai tunda, ada kesan pertandingan dipaksakan dilangsungkan walau dalam kondisi hujan lebat sehingga lebih dari 60 persen lapangan tergenang air dan berlumpur.

Baca juga :  Dampak Corona, Ribuan Pekerja Pariwisata Dirumahkan

Di sisi lain, Panpel tidak menyiapkan lapangan alternatif jika terjadi partai tunda. Sementara, dua venue yang ada sudah padat dengan jadwal pertandingan setiap harinya minimal dua partai. Bahkan di Stadion Mengwi sempat terjadi empat partai pertandingan mulai pagi sampai sore.

Ada tiga poin pada surat Askot PSSi Denpasar dengan no 78/Askot PSSI-DPS/XI/2021 tertanggal 30 November 2021 yang ditandatangani Ketua Umumnya, AA. Ngurah Garga Chandra Gupta.

Pertama; Kondisi lapangan yang sangat tidak layak karena saat ini musim hujan. Dengan curah hujan tinggi sehingga membuat lapangan menjadi becek, ditambah lagi dengan itensitas jumlah pertadingan membuah lapangan bertambah rusak.

Kedua; Kondisi lapangan yang rusak sangat berdampak pada kualitas permainan tim dan sangat berbahaya pula bagi para pemain, seperti cedera. ”Kalau cedaranya parah, maukah Asprov bertanggung jawab. Maaf agak ekstrim, tapi ini semua demi keselamatan pemain yang notabene bibit-bibit potensial Bali ke depannya,” kata Chandra Gupta yang akrab disapa Turah Mantri.

Ketiga; Dengan memperhatikan kondisi tersebut, maka panitia pelaksana mempertimbangkan mencari solusi terbaik terutama terkait lapangan serta mengkaji ulang kembali jadwal pertandingan.

”Lapangan yang rusak, bagaimana kita bisa melihat kualitas permainan para pemain. Ingat, Soeratin kan ajang pembinaan pemain muda dari jenjang kelompok umur,” tegas Turah Mantri.

Yang jadi pertanyaan dan sampai saat ini belum ada jawaban dari Asprov PSSI Bali, kenapa Askab PSSI Jembrana yang siap menggelar Liga 3 justru tidak direspon. Dan kenapa Askab PSSI Tabanan yang nyata-nyata mengatakan tidak berminat jadi tuan rumah Liga 3, justru dipaksakan jadi tuan rumah. Ada apa ini? yes

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.