TPS 3R Minim, Sampah Diminta Kelola Jadi Eco Enzyme

  • Whatsapp
TIM DLH Buleleng saat melakukan pelatihan pembuatan Eco Enzym, menyasar PKK dan KWT di Desa Bengkel, beberapa waktu lalu. Foto: ist
TIM DLH Buleleng saat melakukan pelatihan pembuatan Eco Enzym, menyasar PKK dan KWT di Desa Bengkel, beberapa waktu lalu. Foto: ist

BULELENG – Pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Busungbiu hingga kini masih belum maksimal. Hal ini dikarenakan, baru ada tiga desa yang sudah memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Reduce, Reuse, Recycle (3R) dari total 15 desa di Kecamatan Busungbiu. Sisanya, 12 desa masih memanfaatkan lahan milik warga sebagai lokasi penampungan sampah.

Camat Busungbiu, Gede Putra Aryana, mengatakan, desa yang baru memiliki TPS 3R adalah Desa Kedis, Busungbiu, dan Tinggarsari. Putra Aryana mengaku, sudah mendorong 12 desa lainnya agar menyiapkan lahan untuk proses pembangunan TPS 3R yang dana pembangunannya dibantu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng.

Bacaan Lainnya

‘’Desa selama ini mengaku tidak punya lahan. Sekarang desa dinas masih berkoordinasi dengan desa adat. Sebaiknya tidak ada pemisah aset antara adat dan dinas. Ini kan untuk kepentingan semua krama di desa. Ini sedang dikoordinasikan, ya mudah-mudahan berjalan sesuai harapan,’’ kata Putra Aryana, Minggu (18/10/2020).

Terhadap sejumlah warga yang tinggal di 12 desa yang masih belum memiliki TPS 3R, ternyata masih membuang sampah di lahan pribadi milik warga. Bahkan ada juga, beberapa warga kedapatan membuang sampah sembarangan di sungai.

Baca juga :  Masih Banyak Warga tidak Disiplin, Rai Mantra Rancang PKM Non PSBB

‘’Sampah-sampah itu menumpuk disana saja. Belum pernah diangkut ke TPA Bengkala. Kecuali sampah yang ada di TPS 3R baru diangkut ke TPA di Bengkala. Kami masih berusaha mencarikan solusi untuk persoalan sampah ini,’’ ujar Putra Aryana.

Melihat kondisi yang terjadi, dari Pemerintah Kecamatan Busungbiu sudah berulang kali mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan juga mengimbau mengelola sampah organik menjadi Eco Enzyme, yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. ‘’Kami juga imbau masyarakat untuk ikut berperan aktif memilah dan mendaur ulang sampah lewat bank sampah. Setidaknya dengan mengelola sampah, maka akan bisa mengurangi ada tumpukan sampah di TPS atau TPA,’’ jelas Putra Aryana.

Ditempat terpisah, Kabid Penaatan dan PKLH DLH Buleleng, Cok Aditya Wira Putra, mengaku, sudah turun beberapa kali ke sejumlah desa seperti di Desa Bengkel dan Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu untuk memberikan sosialisasi yang menyasar PKK dan KWT di desa tersebut.

Sosialisasi yang diberikan kepada warga di Kecamatan Busungbiu terkait dengan pengelolaan sampah organik menjadi Eco Enzyme, sehingga persoalan sampah bisa tertangani. ‘’Selasa (besok, red) kami akan turun memberi pelatihan kepada staf kantor Camat. Proses pengelolaan sampah organik bisa dilakukan dari sekup rumah tangga. Jadi, tidak dibuang begitu saja,’’ ujar Cok Aditya.

Menurut Cok Aditya, manfaat Eco Enziyme sangat banyak. Tidak hanya mengurai sampah, tapi juga bisa dijadikan sebagai pupuk organik yang menyuburkan lahan. ‘’Di wilayah Kecamatan Busungbiu merupakan kawasan perkebunan dan pertanian, jadi sangat cocok Eco Enziyme ini,’’ pungkas Cok Aditya. 018

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.