Terjangkit PMK, Puluhan Sapi di Bali Dimusnahkan

DENPASAR – Pertahanan Bali jebol dalam mengantisipasi penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak. Sebanyak 63 hewan ternak sapi di Provinsi Bali dilaporkan terjangkit PMK per Sabtu (2/7/2022). Padahal sebelumnya pada 10 Juni 2022 lalu, Bali diklaim berada dalam zona hijau atau bebas dari PMK.

“Kasus pertama di Gianyar 38 kasus, Buleleng 21 kasus, dan di Karangasem 4 kasus,” ujar Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, saat dikonfirmasi, Minggu (3/7/2022), terkait temuan kasus PMK di Bali.

Bacaan Lainnya

Setelah adanya temuan kasus PMK di Bali, lanjut Sunada, pengiriman sapi ke luar Pulau Bali langsung dihentikan sejak Sabtu (2/7/2022). Termasuk menutup akses hewan ternak di wilayah yang terdampak PMK agar tidak menyebar ke kabupaten/kota lainnya. Menurutnya, meski hanya baru ditemukan 63 kasus PMK di Bali, namun hal ini harus menjadi perhatian serius. 

Sunada menyampaikan, untuk hewan ternak sapi yang terjangkit PMK di Gianyar sudah dilakukan stamping out (pemusnahan). Sebab, sesuai SOP yang beredar bahwa hewan ternak yang sudah terjangkit PMK memang harus dimusnahkan.

Setelah sebanyak 38 sapi di Gianyar dimusnahkan, kata dia, sampai saat ini belum ada lagi hewan ternak bergejala PMK di kabupaten tersebut. Dia memperkirakan kasus PMK sudah bersih di Gianyar tepatnya di Desa Medahan, lokasi temuan kasus PMK tersebut.

Di Kabupaten Buleleng, lanjut Sunada, kasus PMK pada sapi ini muncul di wilayah Desa Lokapaksa, Buleleng. “Itu ada 21 kasus dan sudah dimusnahkan sebanyak 17 ekor, dan tersisa 4 ekor. Untuk di Karangasem rencananya kita juga lakukan stamping out,” tegasnya.

Dia menjelaskan, stamping out merupakan pemotongan paksa atau musnahkan. Pemusnahan dilakukan untuk menghilangkan sumber-sumber penyakit PMK. Jika sudah melakukan pemusnahan pada hewan ternak yang sumber penyakit PMK, dia meyakini Bali akan kembali menjadi zona hijau.

‘’Itu ada SOP- nya. Selama ternak positif PMK tidak boleh ke mana-mana dan kita lakukan pemotongan secepat mungkin. Ini virus dan dibawa oleh angin juga. Paling tepat stamping out, walaupun ternak sembuh dia menjadi pembawa virus jadi harus dimusnahkan,” tegas Sunada.

Sementara itu, menurut laporan dari Karangasem, jumlah sapi yang dinyatakan positif terjangkit PMK justru telah mencapai 7 ekor.“Hasil lab sudah keluar, ada tujuh sampel sapi yang dinyatakan positif PMK. Empat ekor di wilayah Rendang milik seorang pengepul, tiga ekor di wilayah Segara Katon, Kelurahan Subagan,” papar Kepala UPTD Puskeswan Karangasem, drh. Pande Gede Arya Saputra, seizin Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem, Ida Bagus Suastika, Sabtu (2/7/2022).

Dia menguraikan, sapi-sapi yang dinyatakan positif PMK memiliki gejala mulai dari hilang nafsu makan, mulut keluar buih atau busa, serta melepuh pada bagian kuku kaki. Berdasarkan hasil penelusuran, empat ekor sapi yang dinyatakan positif PMK di wilayah Kecamatan Rendang dibeli pengepul di Pasar Bebandem sekitar seminggu lalu. Hanya saja saat ditelusuri nama penjualnya, pengepul tersebut mengaku tidak ingat. 

Untuk tiga kasus PMK di wilayah Segara Katon, Subagan, ulasnya, semula pihaknya menerima laporan sapi sakit sebanyak 15 ekor. Setelah dicek ternyata gejalanya mengarah ke PMK, sehingga dilakukan pengambilan sampel. Hasilnya tiga ekor dinyatakan positif. “Kami sudah langsung lakukan karantina dan penyemprotan di kandang sapi tersebut, serta terus melakukan pemantauan intensif,” jelas Saputra.

Sementara itu, dari Buleleng dilaporkan, sedikitnya 21 ternak sapi terjangkit virus PMK. Dinas Pertanian (Distan) Buleleng belum tahu penyebab puluhan ternak sapi tersebut bisa terjangkit virus PMK.“Jumlahnya 21 ekor, tapi kami masih menunggu informasi dari petugas di kecamatan,” kata Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distan Buleleng, Made Suparma, Minggu (3/7/2022).

Sebanyak 21 ternak sapi terjangkit PMK tersebar di tiga desa di Buleleng yakni Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt; Desa Pengulon, Kecamatan Gerokgak; dan Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak. Suparma menguraikan, ternak sapi yang terjangkit PMK ini milik peternak lokal. Karena itu, tidak mungkin mereka membeli sapi dari luar Bali secara mendadak. Apalagi instansinya menutup akses pengiriman sapi dari luar Bali masuk ke Buleleng sejak PMK mewabah. 

“Kami masih bingung, soalnya dari kemarin kami nggak ada memasukkan sapi ke Bali. Sebelumnya belum pernah mendatangkan sapi dari luar Bali. Kami masih mendata penyebab pasti virus PMK yang menyerang ternak warga lokal di tiga desa itu,” ungkapnya.

Melihat hal ini, Suparma mengaku akan mendata dahulu laporan dari kecamatan. Untuk pencegahan, ternak sapi yang terjangkit virus PMK akan diberi vitamin untuk bisa meningkatkan daya tahan tubuh, serta memberi cairan pembunuh virus di kandang sapi.

“Untuk petunjuk lebih lanjut dari pusat, kami akan memberi disinfektan atau biosecurity karena PMK ini merupakan penyakit baru. Kami di Dinas masih belum berani melakukan tindakan lebih jauh lagi,” pungkas Suparma. alt/nad/rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses