Tanaman Pekarangan Jaga Ketahanan Pangan

  • Whatsapp
Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya
Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya

DENPASAR – Ketahanan pangan keluarga menjadi hal mendasar yang harus dikuatkan di tengah pandemi Covid-19. Setiap elemen masyarakat dapat ambil bagian, salah satunya dengan memanfaatan ruang pekarangan untuk lahan pangan.

Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Dr. Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya, S.P., M.Agr., menyarankan sejumlah langkah yang dapat ditempuh untuk menguatkan ketahanan pangan dari tingkat keluarga. Langkah-langkahnya dapat dimulai dengan cara-cara sederhana, misalnya dengan menanam sayur atau bumbu-bumbu dapur.

Bacaan Lainnya

‘’Di tengah situasi yang tidak menentu seperti sekarang, pemanfaatan pekarangan sangat diperlukan. Setiap orang bisa melakukan, misalnya yang paling sederhana dengan menanam bayam atau sayuran lain, mungkin sumber-sumber makanan alternatif lain,’’ katanya saat dihubungi posmerdeka.com, Minggu (26/4/2020).

Metode-metode pertanian seperti metode hidroponik, vertikultur, hingga tabulampot dapat diterapkan dalam lingkungan pekarangan sempit di perkotaan. Sedangkan, jika ruang pekarangan lebih luas, tanaman-tanaman lain seperti umbi-umbian, dan sejenisnya dapat ditanam untuk cadangan pangan alternatif.

‘’Intinya mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan, minimal untuk sayuran. Kalau yang menengah bisa menanam dalam pot, bisa tanam sayur, atau menanam ketela pohon misalnya. Di lahan perkotaan yang sempit, bisa juga gunakan model vertikultur. Langkah ini belum terlambat melakukan, jangan sampai ketika situasi benar-benar darurat nanti kelimpungan sendiri,’’ ucapnya.

Baca juga :  Kejari Gianyar Edukasi Perbekel Gunakan Dana Desa untuk Covid-19

Sementara itu, selama beberapa pekan Covid-19 turut menjalar di Bali, pihaknya mengungkapkan kebutuhan pangan Bali masih aman. Hasil pertanian dengan pangsa pasar ke masyarakat lokal Bali belum begitu terganggu.

Hantaman cukup serius justru lebih dirasakan oleh para petani yang terhubung langsung dengan industri pariwisata, lantaran pasarnya yang nol. Sehingga, kalangan ini dipandang perlu mendapat perhatian lebih untuk mengalihkan pasar dari industri pariwisata ke pasar masyarakat lokal.

‘’Jika berbicara pertanian Bali, hasil pertanian kita ada dua, ada digunakan untuk konsumi orang Bali dan ada untuk kebutuha  konsumsi yang lebih spesifik, misalnya untuk hotel. Untuk kebutuhan pertama ini saya pikir sampai saat ini masih aman, yang terhambat adalah golongan kedua karena pasarnya hilang,’’ katanya.

Namun, lanjutnya, kata aman yang dimaksud memiliki syarat mutlak terpeliharanya jalur distribusi dari petani ke konsumen. ‘’Sampai saat ini, kita lihat pasar tradisional masih ada, sehingga jalur distribusinya masih aman. Ke depan jalur ini yang perlu diperhatikan agar tetap lancar,’’ imbuhnya.

Selain itu, persoalan tenaga kerja pertanian yang selama ini banyak dikerjakan oleh tenaga kerja luar Bali turut akan memberi gangguan. Oleh karenanya, ketiadaan tenaga kerja pertanian ini perlu diisi. ‘’Selebihnya adalah persoalan distribusi sarana pertanian yang harus lancar sampai pada petani. Pupuk misalnya, harus mencukupi, harus diperoleh dengan mudah oleh petani,’’ ujarnya.

Baca juga :  Penanganan Covid-19 di NTB, BPK Temukan Kerugian Negara Lebih dari Rp5 Miliar

Ditambahkan, pandemi Covid-19 hendaknya turut menjadi refleksi pengelolaan pertanian Bali ke depan. Pariwisata dan pertanian harus hadir saling menguatkan Bali. ‘’Regulasi-regulasi soal itu sudah ada, tinggal sekarang bagaimana kita harus mengawasi dengan serius, jangan hanya Perda (Peraturan Daerah, red) atau Pergub (Peraturan Gubernur, red) semata. Harus nyata dilakuakan di lapangan,’’ pungkasnya. 015

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.