Remaja Jangan Tabu Bicarakan Kesehatan Reproduksi

KADISDIKPORA Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, foto bersama siswa baru peserta MPLS di SMP PGRI 5 Denpasar, Rabu (12/7/2023). Foto: tra
KADISDIKPORA Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, foto bersama siswa baru peserta MPLS di SMP PGRI 5 Denpasar, Rabu (12/7/2023). Foto: tra

POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Siswa yang duduk di bangku SMP sudah memasuki masa-masa pubertas. Mereka akan mengalami perubahan baik secara fisik maupun psikis. Salah satu perubahan besar yang dialami adalah perubahan sistem reproduksi.

‘’Karenanya, penting sekali untuk membekali para siswa SMP dengan pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) secara komprehensif sebagai langkah membentuk karakter remaja positif,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, saat memantau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sejumlah sekolah di Denpasar, Rabu (12/7/2023).

Bacaan Lainnya

Agung Wiratama mengawali pemantauan di SMP PGRI 2 Denpasar. Setelah itu lanjut ke SMP (SLUB) Saraswati 1 Denpasar, SMP PGRI 3 Denpasar, dan SMP PGRI 5 Denpasar. Tiap sekolah yang dikunjungi, Agung Wiratama menekankan, menjaga kesehatan alat reproduksi bagi para remaja sangatlah penting sehingga tidak tabu untuk dibicarakan.

Agung Wiratama mengaku banyak anak remaja yang juga masih malu untuk membicarakannya dengan orangtua mereka atau sebaliknya orangtua yang merasa pembicaraan ini adalah pembicaraan yang tidak lazim dilakukan. Padahal pendidikan tentang kesehatan reproduksi sangat penting untuk dilakukan sejak dini untuk mencegah terjadinya permasalahan-permasalahan yang terkait dengan alat reproduksi pada remaja. Hal ini dilakukan demi masa depan para remaja itu sendiri.

Menurut Wiratama, kurangnya edukasi terhadap hal yang berkaitan dengan reproduksi nyatanya bisa memicu terjadinya hal-hal yang tak diinginkan. Salah satu hal yang sering terjadi karena kurangnya sosialiasi dan edukasi adalah penyakit seksual menular, kehamilan di usia muda, hingga aborsi yang berakibat pada hilangnya nyawa remaja.

Karenanya, ia memandang arti penting pendidikan kesehatan reproduksi secara komprehensif. Momentum MPLS inilah dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi bahaya HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi remaja. Dengan begitu, sejak dini dapat menjaga diri para remaja dalam pergaulan bebas, lebih aware dengan perubahan pada dirinya dan juga dapat mendeteksi kelainan pada tubuhnya lebih dini.

Ia menyebutkan, selain sekolah, orangtua juga menjadi subjek penting dalam pembekalan kesehatan reproduksi bagi anak-anaknya. Kerja sama kedua komponen ini sangat dibutuhkan demi mencegah dan melindungi para siswa dari perilaku seksual berisiko yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi, sekaligus membentuk sikap dan nilai-nilai positif yang akan memberdayakan mereka menjadi pribadi yang sehat.

Di sisi lain, diakui Agung Wiratama, baru sebagian guru yang memahami, mengetahui, dan peduli akan kesehatan reproduksi siswa. Padahal mereka menjadi subjek penting dalam kesehatan reproduksi siswa.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, Kesehatan Reproduksi Remaja pada 2017 menunjukkan sekitar 54 persen remaja laki-laki dan 20 persen remaja perempuan tidak pernah berdiskusi sama sekali tentang kesehatan reproduksi dengan siapa pun sebelum mereka mengalami menstruasi atau mimpi basah pertama kali. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses