Cerita Siswa Jembrana Peraih Medali di Tokyo Kehabisan Bekal, Berpindah-pindah Tempat Menginap, Andalkan WiFi Gratis

PUTU Agus Restu Astika Putra (kiri), siswa SMA asal Jembrana saat menerima penghargaan di Tokyo, Jepang. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, JEMBRANA – Putu Agus Restu Astika Putra (18), siswa kelas XII SMA Negeri 2 Negara, membanggakan sekolah dan Jembrana, bahkan Indonesia karena berhasil meraih medali emas dalam ajang Japan Design dan Invention Expo 2023 (JDIE) di Tokyo. Sayangnya, meskipun berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia, siswa ini harus rela luntang-lantung di Negeri Sakura Jepang karena kehabisan bekal.

Prestasi yang gemilang ini berhasil diraih oleh Agus Restu setelah ia berhasil mengalahkan peserta dari 25 negara lain yang turut berpartisipasi dalam kompetisi tersebut. Untuk bisa lolos mengikuti kompetisi internasional yang diselenggarakan World Invention Intelectual Property Association dan Chizal Corporation, peserta harus melalui tahapan-tahapan seleksi.

Bacaan Lainnya

Namun ternyata setelah mendapatkan surat bahwa lolos seleksi, diterangkan bahwa untuk keberangkatannya, baik biaya perjalanan maupun penginapan ke Negeri Sakura, menggunakan dana pribadi.

“Biayanya sendiri. Saya harus menghemat. Jadi saya memilih tiket pulang yang murah saja. (Selama di Jepang) saya juga harus berpindah-pindah tempat menginap, mencari hotel kapsul murah yang tersedia di Jepang,” tutur Agus Restu dihubungi melalui pesan WA pada Senin (10/7/2023).

Agus mengatakan, dirinya harus berjuang bertahan hidup di Jepang. Bekalnya yang terbatas harus dihemat untuk biaya makan selama di Jepang. Makannya juga mencari makanan yang termurah dan harganya terjangkau dan selalu memanfaatkan jaringan internet gratis. “Saya harus menghemat makanan agar bisa pulang. Saya mengandalkan WiFi gratis untuk berkomunikasi dengan keluarga di rumah,” kisahnya.

Setelah kabar mengenai rencana Restu untuk bermalam di bandara tersebar melalui media sosial (medsos), sejumlah orang langsung menghubunginya dan menawarkan bantuan. Bahkan, seorang teman tim dari Indonesia menawarkan agar ikut menginap di hotel tempat mereka menginap sebelum pulang ke Tanah Air.

“Astungkara saya tidak perlu menginap di bandara untuk malam terakhir di Jepang. Karena kebetulan ada teman yang juga dari Indonesia yang mengajak nginap di hotelnya sebelum pulang. Banyak juga yang menghubungi dan menawarkan bantuan. Selasa (11/7/2023) akan berangkat ke Bandara Narita di Jepang untuk kembali ke Indonesia dan diperkirakan akan tiba di Bali pada Kamis (13/7/2023),” ujarnya sembari memohon doa agar perjalananya lancar dan selamat sampai di Jembrana.

Di sisi lain, Kepala SMAN 2 Negara, I Wayan Sudiarta, Selasa (11/7/2023) mengatakan, Putu Agus Restu Astika Putra, mengikuti kompetisi ke Jepang dengan program mandiri dan dengan biaya sendiri. “Anak ini memang punya cita-cita akan melanjutkan ke kedokteran. Menurut pengakuannya, Agus secara pribadi mencari informasi ajang kompetisi itu. Agus juga mengikuti seleksi sudah 3 bulan,” katanya.

Lebih lanjut Sudiarta mengatakan, setelah mengikuti seleksi dan pihak panitia di Jepang mengirim surat bahwa Agus lolos seleksi, sehingga Agus meminta pertimbangan kepada guru di sekolah.

“Kita bingung, di lain pihak, Agus mengikuti program mandiri sehingga dia tidak mendapatkan bantuan dana. Setelah kami berkomunikasi dengan Tim Dana BOS sekolah, akhirnya disepakati membantu dengan hanya sampai pembelian tiket pulang pergi dari dana BOS,” tuturnya.

Mengingat, sesuai aturan selama ini, di SMAN 2 Negara tidak memungut biaya apapun kepada siswa, termasuk tidak memungut uang komite. Sehingga pihaknya bersama guru-guru lainya urunan dan dapat mengumpulkan dana sukarela sebanyak Rp1 juta untuk tambahan bekal Agus serta uang tiket untuk pulang pergi yang bersumber dari dana BOS.

“Namanya saja sekolah gratis, kita mempunyai sumber anggaran hanya dana BOS, itupun harus ada regulasi. Boleh kita di sana ikut perlombaan, kalau lomba tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Untuk nasional kita tidak banyak juga menganggarkan, itu pun lewat aplikasi. Untuk nasional itu dibiayai provinsi, sedangkan mengikuti ajang kompetisi sampai ke luar negeri, itu dibiayai nasional,” jelas Sudiarta. man

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses