Oleh Made Nariana
SUATU saat saya ditanya teman lewat wasthap (WA). “Bagamana, apa you nggak pengen jadi Gubernur atau Bupati. Maju saja, kan pengalaman cukup, sejak kecil aktif organisasi……”, kata sahabat saya itu sumringah.
Apa dia guyon atau serius, saya nggak tahu. Namun saya jawab begini. “Soal keinginan semua ingin bro. Jangankan saya… dadong (nenek) saya saja pengen menjadi pemimpin…..”. Saya yakin, banyak yang pengen menjadi Gubernur Bali atau Bupati Badung.
Persoalannya apakah berani? Apakah mampu, apakah kredibel? Apakah punya kapasitas? Apakah punya jaringan atau relasi ke pihak yang patut memberikan rekomendasi? Apakah punya paling tidak tiga O (otak, orang dan ongkos)?. Terlalu banyak pertanyaan harus di jawab, jika pengen menjadi pemimpin di jaman seperti sekarang.
Saya ingin menjelaskan tiga O. Pertama otak, maksudnya intelektual yang diperlukan dalam jaman serba canggih saat ini. Intelektual itu penting, sebab seorang pemimpin akan membuat berbagai kebijakan buat daerahnya. Intelektualitas dasar utama dari seseorang mampu memiliki visi jauh ke depan dan misi dalam melaksanakan visinya.
Kemudian O kedua, orang!. Orang ini maksudnya pengikut. Pemilih yang akan memilih pemimpin dalam pilkada. Pemilihnya harus paling banyak. Kalau yang bersangkutan dianggap memiliki kapasitas, intelektual dan kemampuan manajerial, pasti pemilihnya akan paling banyak sehinga menang dalam pilkada.
Bagaimana O ketiga? Tidak lain ongkos. Soal ongkos penting. Prabowo Subianto, capres yang sebentar lagi dilantik sebagai Presiden pernah mengatakan, bahwa jika ada anak buahnya pengen jadi bupati atau gubernur pertanyaannya bukan siapa kamu. Apa pendidikanmu, apa titelmu, bagaimana keturunanmu dan seterusnya. “Yang saya tanya berapa kamu punya uang?,” kata Prabowo suatu saat saya dengar di media sosial (medsos).
Ongkos (uang) sangat penting. Sekarang pemilih kurang bergairah, jika tidak ada uang sebagai ongkos ke TPS. Pengalaman pilpres dan pileg saya lihat dengan nyata. Uang beredar kayak kentut. Tidak kelihatan tapi terasa baunya di mana-mana.
Sekalipun sudah digelontor dengan bansos dan hibah untuk perbaikan pura, bale banjar, wantilan, jalan dan upacara besar-besaran, ternyata dianggap tidak ada pas pemilu. Rakyat masih ingin sentuhan uang cash (riil) di depan matanya. Memprihatinkan memang! Tapi begitulah!.
Saya pengen menjadi Bupati dan Gubernur. Kalau seperti yang saya jelaskan persyaratannya, memang niat menjadi kendor. Tidak mungkinlah. Sangat nonsen (omong kosong) orang bilang.
Saya lihat bisa begitu hanya yang terhormat Bapak Jokowi yang hanya tukang mebel dapat menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI dan Presiden dua periode. Sekalipun beliau lupa dengan siapa pengusungnya selama puluhan tahun, itu persoalan pribadi yang bersangkutan.
Terlepas dari itu, banyak pula yang tetap pengen jadi Gubernur atau Bupati. Hanya pengen, sekalipun hanya satu dua yang akan lolos dengan berbagai pertimbangan ekonomi, politik dan budaya!
Silakan mimpi menjadi apa saja. Toh mimpi nggak bayar kok!. (*)
























