Pemahaman Upakara Minim, Umat Beban Berupacara Yadnya

  • Whatsapp
UMAT Hindu saat melaksanakan ritual ngedetin, rangkaian upacara pitra yadnya. Sejauh ini, pemahaman masyarakat mengenai upakara atau bebantenan minim, sehingga pelaksanaan upacara dirasakan menjadi beban. foto: ist

DENPASAR – Pelaksanaan upacara yadnya dalam agama Hindu di Bali seringkali dikesankan sebagai sesuatu yang rumit dan memakan waktu dan biaya yang tinggi. Hal ini kemudian menjadikan masyarakat Hindu merasa beban berupacara yadnya.

Menurut Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, persoalan ini sesungguhnya terjadi lantaran pemahaman masyarakat Hindu masih minim terkait dengan upakara dan tingkatan-tingkatan upacara yadnya.“Permasalahan selama ini sebenarnya adalah karena masyarakat tidak ngerti upakara dan mana inti dari pelaksanaan upacara tersebut. Pelaksanaan agama di masyarakat masih banyak didominasi oleh adat dan tradisi sehingga seolah-olah agama Hindu adalah agama rumit dan sulit,” jelas Ida Rsi di Denpasar.

Bacaan Lainnya

Sulinggih asal Gria Bhuwana Dharma Santhi, Sesetan ini menjelaskan, ketidakpahaman itu yakni dalam membedakan mana disebut tumpeng lima (peras pengambian), tumpeng pitu, tumpeng sia, tumpeng solas, udel kurenan (pedatengan), pulo gembal, dan bebangkit. Menurutnya, selama ini pengetahuan mengenai jenis dan tingkatan upakara tersebut hanya dipahami segelintir orang terutama pemangku, sulinggih, dan tukang banten.

Sayangnya, kata Ida Rsi, banyak terjadi justru pemahaman didapatkan hanya dari kebiasaan atau tradisi setempat tanpa sumber rujukan sastra.“Sering kita dengar, ada yang bertanya pada seorang tukang banten, malah dijawab hanya mula keto. Dan setelah saya tanya juga ternyata ada tukang banten yang bekerja sesuai tradisi semata, tidak punya pemahaman yang memadai sebenarnya,” tutur sulinggih yang banyak menulis buku ini.

Baca juga :  Bupati dan DPRD Tabanan Sepakati Lima Ranperda Jadi Perda

Lebih lanjut Ida Rsi Bhujangga memaparkan, sebuah upacara menjadi besar seringkali bukan karena inti dari upakara itu. Besarnya biaya justru karena tambahan-tambahan yang sesungguhnya merupakan tetandingan ayaban. Misalnya dalam sebuah upacara pengabenan. Menurut Ida Rsi, sebuah upacara pengabenan tidak harus memakai sarana banten bebangkit atau pulogembal. Padahal bebangkit atau pulogembal sesungguhnya hanyalah banten ayaban atau pengiring saja.

Adapun inti atau dasar upakara bebantenan untuk pengabenan adalah nasi angkeb, bubur pirata, panjang ilang, dyus kamaligi serta eteh-eteh pengaskaran, pengadang-adang, dan tirtha pengentas. Ida Rsi kembali menegaskan, sesungguhnya banten ayaban pengiring boleh berupa banten pras pengambean, udel kurenan, pulogembal, atau bebangkit.

Ida Rsi menguraikan, salah satu alasan yang membuat upacara ngaben menjadi mahal adalah di beberapa desa di Bali masih ada aturan dresta yang mengharuskan upacara pengabenan dengan upacara banten bebangkit dan pulogembal. Apabila tidak menggunakan upacara tersebut, pengabenan tidak mau dipuput oleh sang sulinggih atau menjadi cemoohan masyarakat sekitar. “Tidak benar seperti itu. Tradisi itu harus dibenahi. Desa adat dalam hal ini bendesa dan kelian adat mempunyai peranan penting dalam membenahi kondisi ini. Awig-awig jangan tajam ke dalam, tapi justru tumpul ke luar,” ujarnya.

Ida Rsi menambahkan, untuk menjaga keberadaan agama Hindu di Bali, kini sudah tidak bisa masyarakat Bali hanya berenang-renang dalam tradisi tanpa mengkaji dan mendalaminya lebih lanjut. Sebab, tidak semua tradisi yang selama ini dijalankan cocok untuk hari ini, apalagi hal itu berkaitan dengan kemampuan keuangan masyarakat. Yang ujung-ujungnya tentu juga akan mempengaruhi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Bali.

Baca juga :  Toko KUD Kubutambahan Terbakar, Kerugian Ratusan Juta

“Maka dari itu, diperlukan reformasi ritual dalam beragama. Bukan kita meninggalkan tradisi tetapi merevitalisasi tradisi yang kita miliki. Bukan menyederhanakan upacara, tapi memahaminya dan melaksanakan sesuai situasi dan kondisi saat ini. Agamalah yang harus ditradisikan, bukan tradisi yang diagamakan,” jelas Ida Rsi.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti pada tahun 2012 telah menulis buku berjudul Reformasi Ritual: Mentradisikan Agama Bukan Mengagamakan Tradisi. Buku ini selanjutnya dibuat berseri. Beberapa seri yang sudah terbit di antaranya Pedoman Praktis Upacara Piodalan di Sanggah/Merajan, Pedoman Praktis Upacara Ngaben Pranawa, dan Tuntunan Praktis Upacara Upakara Nyekah/Memukur.

Melalui buku-buku pedoman praktis ini, Ida Rsi Bhujangga berharap pemahaman masyarakat semakin terbuka. “Sebelum menjadi sulinggih, saya sering melihat kenyataan di lapangan masyarakat bingung ketika ingin berupacara. Ketika bertanya ke tukang banten maupun ke griya, belum tentu mendapatkan informasi dan pemahaman yang benar. Akhirnya ketika pulang belum merasa plong, justru masih banyak pertanyaan di benak mereka,” katanya. rap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.