Peduli Polisi Kontestasi Kala Pandemi

  • Whatsapp
KAPOLDA Irjen Petrus Reinhard Golose bersama Ketua KPU Bali, I Dewa Agung Lidartawan, saat berkunjung ke KPU Bali. Foto: Ist
KAPOLDA Irjen Petrus Reinhard Golose bersama Ketua KPU Bali, I Dewa Agung Lidartawan, saat berkunjung ke KPU Bali. Foto: Ist

BILA bukti dukungan aparat keamanan dinanti KPU di Bali dalam persiapan Pilkada 2020, maka itu pula mereka peroleh. Kunjungan Kapolda Bali, Irjen Petrus Reinhard Golose, ke KPU Bali pada Rabu (17/6/2020) dan Kapolresta Denpasar, AKBP Jansen Panjaitan, ke KPU Denpasar pada Kamis (18/6/2020) lalu adalah jawabnya. Dua peristiwa beda waktu itu memiliki pesan sama: Polri menjamin berlangsungnya pilkada di Bali meski di tengah pandemi Covid-19.

Tak sekadar datang, Kapolda juga mengingatkan KPU Bali dan jajaran waspada dengan keamanan server (penyimpan data) mereka. Potensi ada gangguan peretas (hacker) tidak layak dianggap remeh. Sebagai solusi, Kapolda menyiapkan tim dari Kejahatan Siber Polda untuk mendukung KPU, terutama dalam merespons serangan hoaks atau informasi palsu di media sosial (medsos). Namanya Tim Kontra Narasi, yang siap patroli di dunia maya.

Baca juga :  Implementasi PPNSB Jangan Diganggu Ego Sektoral

Disadari atau tidak, disiapkannya Tim Kontra Narasi itu menyiratkan bagaimana Polri serius memetakan kerawanan yang berpeluang terjadi. Responsivitas ini patut diapresiasi. Di sisi lain, sikap itu juga bisa dibaca sebagai kegelisahan polisi dengan makin masifnya medsos dijadikan senjata dalam kompetisi politik.

Jika ditelusuri, di medsos tidak ada gate kepper atau editor sebagaimana lazim ada di media arus utama seperti media cetak, televisi, daring atau radio. Nirpenjaga itu membuat siapa saja, selama punya akun, bisa berbuat semaunya di medsos. Internet juga tanpa hierarki, sebab semua orang dalam posisi setara. Pun tidak mengenal birokrasi secara ketat, kaburnya batas-batas geografi, dan siapapun dapat berinteraksi tanpa perlu kenal satu sama lain.

Baca juga :  KPU Kaji Pilkada Lebih Baik Dibiayai APBN

Masalahnya, di medsos banyak akun palsu atau akun robot sliweran. Mudahnya membuat akun menjadikan medsos sebagai wahana paling ideal untuk “serangan udara”, termasuk menyebar narasi negatif atau palsu sampai fitnah demi menghantam lawan politik. Teknologi internet menciptakan budaya siber (cyber culture) yang kemudian menelurkan informasi sebagai komoditas, dan informasi itu mudah dieskploitasi untuk menjadi informasi sesat.

Bali niscaya tidak ingin mengimitasi Pilkada DKI yang, oleh banyak pihak, dinilai brutal karena memakai isu SARA untuk syahwat berkuasa. Dalam politik sah-sah saja menelanjangi kelemahan lawan, tapi konsekuensi sosiologis strategi itu juga mesti menjadi bahan pemikiran semua pihak. Apa guna berhasil menjadi kepala daerah, tapi mewarisi masyarakat yang terbelah dan sulit bersatu usai kontestasi? Betapa laranya pemimpin jika rakyat yang kalah memendam dendam, dan melampiaskan itu dengan berbagai cara asal “bisa membuat menggagalkan kerja pemimpin terpilih”.  

Baca juga :  PDIP Cueki Tantangan Golkar di Pilkada, Banteng Bangli Siap Hadapi “Dua Lawan”

Kita mendorong polisi menjaga ritme kerja dengan tetap aktif patroli di media sosial. Tidak masalah satu narasi menjurus ke kampanye negatif, sepanjang disertai bukti. Misalnya seorang calon dituding tidak layak memimpin karena pemarah, ketika ditempeli bukti pemberitaan di media kredibel tentang efek keramahan itu, strategi itu termasuk dalam kebebasan berekspresi. Namun, ketika menuding tanpa bukti alias kampanye hitam, khalayak pasti mendukung polisi menjerat pelaku dengan pasal di KUHP atau UU ITE.

Kini, spirit puputan menjaga Bali yang ditunjukkan Kapolda dan Kapolresta mestinya bisa menjadi injeksi semangat semua pihak di Bali, terutama yang berkontestasi. Jika dua pejabat bukan orang Bali saja bersedia mati-matian mengamankan Bali, seyogianya orang Bali, lebih-lebih yang berkompetisi di pilkada, bersikap dan berbuat lebih dari itu. Akankah publik melihat itu terjadi? Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.