Pecandu Narkoba Jangan Takut Rehabilitasi

  • Whatsapp
KEPALA BNNP Bali, Gde Sugianyar Dwi Putra. Foto: ist
KEPALA BNNP Bali, Gde Sugianyar Dwi Putra. Foto: ist

DENPASAR – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali meminta masyarakat yang dirinya, keluarga bahkan orang sekitar yang merupakan pecandu narkoba tidak takut untuk melapor dan melakukan rehabilitasi di BNNP Bali. ‘’Jangan takut bagi para pecandu narkoba untuk mengajukan rehabilitasi, tidak dipungut biaya, tidak diproses hukum serta kerahasiaan dan privasinya dijamin,’’ ujar Kepala BNNP Bali, Gde Sugianyar Dwi Putra, saat berbicara pada kegiatan ‘’Pengembangan Kapasitas P4GN Pada Lembaga Adat dan Komunitas Berbasis Kearifan Lokal’’ yang digelar BNNK Denpasar dengan mengundang 30 bendesa adat di Kota Denpasar, belum lama ini.

Menurut Sugianyar, di Bali ada banyak pecandu yang ingin sembuh dari ketergantungan mereka tetapi takut mengajukan diri untuk mengikuti rehabilitasi. Selama ini informasi yang diperoleh masyarakat adalah informasi yang tidak benar, melapor sama dengan menyerahkan diri. Padahal mereka akan dilayani dan tak akan ditindak secara hukum (bila mengikuti rehabilitasi).

Bacaan Lainnya

‘’Mereka (pecandu) akan disembuhkan karena sembuh itu merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara dalam rangka membangun Indonesia bersih dari narkoba,’’ lugasnya.

Sugianyar menilai para penyalahguna narkoba itu termasuk dalam kategori orang yang sakit dan perlu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.  ‘’Mereka itu korban jadi mereka harus disayangi, apalagi mereka hanya para pengguna,’’ lanjut mantan Kepala BNNP NTB itu.

Baca juga :  Tim Yustisi Denpasar Denda 11 Pelanggar Prokes, 4 Orang Jalani Rapid Test Antigen

Mengutip data revalansi penyalahguna narkoba di Bali pada 2020, Sugianyar menyebutkan mencapai 15 ribu. Sementara yang direhabilitasi hanya sedikit sekali sekitar 450 orang. Sehingga pengendalian demand (permintaan) harus juga dilakukan supaya 15 ribu penyalahguna narkoba ini tidak berubah menjadi pengedar dan kemudian dipidakan, yang akhirnya membuat tingkat hunian lapas membeludak alias overload.

Ia menyebut, khusus untuk jumlah kapasitas Lapas Kerobokan saat ini sebanyak 323 orang. Namun berdasarkan data sampai akhir Juli 2021, Lapas Kerobokan kini dihuni oleh tahanan dan narapidana sebanyak 1.550 orang. Dari total penghuni Lapas Kerobokan tersebut yang berasal dari kasus narkotika sebanyak 65-70 persen dari jumlah hunian Lapas Kerobokan. ‘’Jadi, Lapas Kerobokan saat ini sudah over capacity 500 persen atau melebihi over capacity secara nasional,’’ terang mantan Kabid Humas Polda Bali ini.

Karenanya, upaya-upaya yang dilakukan oleh BNNP Bali saat ini, sambung Sugianyar, sejalan dengan tagline War On Drugs (perang melawan narkoba) seperti yang diprogramkan Kepala BNN RI Komjen DR Petrus Reinhard Golose. Dimana penanggulangan penyalahgunaan narkotika harus dilakukan secara holistik. Yakni mengedepankan hard power approach sebagai langkah pemberantasan, smart power approach melalui pengembangan teknologi informasi, dan upaya soft power approach yaitu pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan kearifan lokal dan rehabilitasi. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.