GIANYAR – Menetralisir pandemi Covid-19 di wilayah Tampaksiring, dilakukan prosesicaru ruwat bumi nangluk merana agung di bencingah Puri Agung Tampaksiring, Rabu (25/11/2020). Dalam pelaksanaannya akan digelar pementasan fragmen sakral berupa sesolahan barong rangda, wayang sudamala, topeng sidakarya, pusaka gong beri, genta kebo gladag, dan Sang Hyang Jaran. Hal itu diungkapkan penggagas prosesi upacara, Ida Bagus Made Bhaskara, Selasa (24/11/2020).
Dia menuturkan, dari berbagai prasasti tua, disebutkan ibu kota tertua di Tampaksiring. Salah satu bukti dengan adanya Pura Tirta Empul dan Pura Gunung Kawi yang sangat tua. “Banyak catatan sejarah yang menyebut bahwa pusat peradaban lampau pernah terpusat di Tampaksiring,” jelas Pembina Pasraman Dharmasila Tampaksiring ini.
Baginya, prosesi itu dilakukan karena menganggap pandemi tidak bisa diatasi secara sekala. Dia meyakin apapun itu pasti dilihat dua sudut pandang. Secara sekala pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk berupaya luar biasa menangani ini. Selain itu perlu juga secara niskala, karena dalam tradisi mistis Bali ada dua bentangan bhuana alit (manusia) dan bhuana agung (alam semesta)
Setiap yadnya (pengorbanan suci) yang dilakukan, jelasnya, untuk bhuana agung. Ruwat bumi ini tujuannya menyeimbangkan alam, salah satunya mengatasi pandemi. Dia menambahkan, dalam lontar Penurgan Dalem Tungkup, disebutkan, pada masa pandemi wajib melakukan upacara penolak baya atau penangluk merana. Maka saat ini dilakukan di dua titik: satu, di perempatan agung atau Catus Pata; kedua, di perbatasan desa.
“Perempatan agung simbol semesta. Catus Pata berdampingan dengan puri dalam sistem kosmologi, puri istananya Dewa, perempatan pasar simbol alam semesta. Yadnya untuk seluruh alam semesta,” ungkapnya.
Diungkapkannya, upacara ruwat bumi ini sebagai penetralisir penyakit, bukan membahayakan atau menyakiti. Sementara untuk fragmen sakral, dilakukan atas ada beberapa rujukan sastra inisiator rujukan. Salah satunya rujukan teks Siwa Gama, Kala Maya Tatwa, Penurgan Dalem Tungkup, Babad I Gde Mecaling yang menyebut pada sasih keenam pada 25 November nanti. Berbagai kekuatan negatif, baik bhuta kala termasuk gering, sasab, merana dinetralisir.
Dijelaskan pada teks tersebut, penyakit tercipta dari kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada teks Kala Maya Tatwa disebutkan Ida Bhatari Uma dikutuk menjadi Durga. Saat itu, beliau berada di Setra Gandamayu, dan Siwa berkehendak bertemu dengan istrinya, Bhatari Durga, dengan mengubah wujud jadi sosok Kala Maya.
Supaya sosok ini seimbang, terangnya, mereka melakukan sanggama spiritual di setra, dan berbagai wujud kekuatan negatif termasuk bentuk pertemuan dua kekuatan ini. Teks ini menjadi sumber perwujudan barong dan rangda; Durga sebagai rangda, Kala Maya sebagai barong, dan semua itu bagian dari kesemestaan.
“Ada pula pustaka Genta Ki Gebug Lantang, terbuat dari keroncongan sapi. Pada teks ini, keroncongan sapi bisa memanggil kekuatan halus, bhuta, samar, gamang, termasuk hal yang bersifat merugikan seperti penyakit,” lugasnya.
Dalam fragmen sakral juga ada Sang Hyang Jaran sebagai warisan kuno di Tampaksiring, dan sering dibawakan untuk mengusir gerubug (wabah). Fragmen ini ditarikan oleh sisia (siswa) pasraman. Karena ada aturan pemerintah terkait prokes, tidak mungkin membuat fragmennedunang sesuhunan di Pura Kahyangan Tiga karena masyarakat dikhawatirkan banyak berkerumun.
“Kami akan nuwur tirta, semua tirta suci di wilayah Tampaksiring di-tunas (diminta). Tirta ini mewakili kekuatan Dewa, itu yang ditarikan duwe pasraman,” tandasnya.
Proses akan digelar pukul 16.00-18.00 Wita, dan arus lalu lintas akan dialihkan sementara. Yang ikut acara inti hanya 50 orang. Kegiatan ini sinergitas antara pasraman, Desa Dinas dan Desa Adat Tampaksiring. adi
























