Nelayan Wanasari Minta Penanganan Konkret Masalah Eceng Gondok

  • Whatsapp
KONDISI tanaman eceng gondok yang masih ada di alur Muara Tukad Mati. foto: ist

MANGUPURA – Kelompok Nelayan Wanasari Tuban mempertanyakan komitmen Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida, terkait masih terbuangnya tanaman eceng gondok dan sampah dari alur Tukad Mati menuju Teluk Benoa.

Mereka meminta agar dilakukan skema penyikapan pasti dalam mengantisipasi hal tersebut terulang kembali. Sebab, hal itu sangat berdampak pada aktivitas melaut, ataupun aktivitas penghijauan yang digiatkan selama ini.

Bacaan Lainnya

Ketua Kelompok Nelayan Wanasari Tuban, Made Sumasa, mendaku sudah bertemu dengan Camat Kuta, Nyoman Rudiarta. Tujuannya adalah untuk mengkomunikasikan persoalan itu kepada pihak BWS Bali Penida. Hal itu kemudian ditindaklanjuti BWS dengan diturunkannya petugas untuk mengecek ke lapangan.

Namun, ia mengaku belum tahu seperti apa langkah yang akan diambil BWS. ‘’Intinya kami ingin kejelasan dan kepastian soal komitmen terdahulu. Seperti katanya akan pasang alarm ketika menurunkan bendung gerak, dan sebagainya. Karena ini sangatlah berdampak kepada kami dan lingkungan,” tegasnya, Jumat (17/9/2021).

Sementara, PPK Satker Sungai Pantai I BWSBP, Ketut Asmara Putra, menerangkan bahwa prasarana pengendali banjir di hilir Tukad Mati sudah diserahterimakan ke bagian operasi dan pemeliharaan (OP).

Baca juga :  Seminar Regional FEB Unud, Rai Mantra Paparkan Langkah Strategis Tangani Covid-19 di Denpasar

Adapun langkah bagian OP dalam penanganan masalah itu adalah dengan melakukan pembersihan tanaman eceng gondok yang berada di hilir secara manual. Sedangkan tanaman eceng gondok yang berada di hulu akan dibersihkan menggunakan eksavator amphibi.

Ia menegaskan tidak ada maksud untuk membuang eceng gondok ataupun sampah ke Teluk Benoa. Namun karena kondisi hujan deras dan level debit air di alur Tukad Mati meningkat, maka bendung gerak terpaksa harus dibuka. Jika hal itu tidak dilakukan, dikhawatirkan akan berpotensi mengakibatkan terjadinya banjir.

Penanganan masalah tersebut sebenarnya memerlukan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Badung dan masyarakat sekitar alur sungai. Sebab sampah dan eceng gondok muncul dari kebiasaan membuang sampah dan limbah sembarangan.

Eceng gondok akan tumbuh jika nilai COD dan BOD airnya tinggi. ‘’Kebiasaan membuang limbah dan sampah ke sungai inilah yang membuat COD dan BOD air jadi tinggi. Jadi sebenarnya ini adalah sebuah PR bersama,’’ ujarnya menandaskan. gay

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.