Mendamba Spirit sang Wira di Tanah Rawan Bencana

  • Whatsapp

SELANG beberapa jam usai teroris meledakkan bom dan baku tembak dengan polisi di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1/2016), Presiden Jokowi didampingi beberapa menteri mendatangi lokasi kejadian. Selain karena ingin selalu dekat dengan rakyat, meski sempat dilarang para pembantunya, Jokowi ingin menunjukkan kita tidak boleh takut dengan teror. Dia sekaligus mengirim pesan kepada dunia bahwa Indonesia mampu mengatasi terorisme.

Memperingati Hari Pahlawan pada 10 November 2020 di tengah pandemi Covid-19, kita seakan diajak merenung bagaimana wujud pahlawan itu secara kontekstual. Wira atau pahlawan yang lazim diimajikan sebagai orang yang mempertaruhkan jiwa-raga dalam peperangan, dapat berganti menjadi sosok berani mengedepankan kepentingan orang banyak. Bisa juga, misalnya, berwujud siapapun yang memilih untuk berada di tengah rakyat ketika terjadi bencana, alih-alih menyelamatkan diri.

Bacaan Lainnya

Membincang bencana, Kabupaten Karangasem termasuk wilayah rawan bencana, karena memiliki Gunung Agung yang berstatus aktif. Gunung Agung bahkan menjadi unsur lambang kabupaten ini. Yang jadi soal, meski daerahnya diintai erupsi, tidak pernah terdengar pemerintah daerahnya punya inovasi dan strategi tanggap bencana kegunungapian sebelum dan setelah erupsi tahun 2017 silam. Semisal memasukkan mitigasi bencana ke dalam kurikulum muatan lokal.

Baca juga :  Mas Sumatri Sidak Kesiapan Kenormalan Baru Pasar Tradisional

Sebagai komparasi, kita menengok Negara Jepang yang berada di area yang disebut Cincin Api Pacific, wilayah yang dilalui lempengan api bawah permukaan bumi. Cincin api menjadi penyebab gempa bumi dan erupsi vulkanis daratan di atasnya.

Sejak tingkat sekolah dasar, rakyat Jepang dididik menghadapi gempa, tsunami, dan banjir. Setiap bulan mereka dilatih peka terhadap alarm peringatan bencana dan, jika dalam ruangan, bersembunyi di bawah meja hingga gempa berakhir. Di luar ruangan, mereka akan berlari ke ruang terbuka yang tidak memiliki atap atau benda apapun yang dapat menimpa. Pemerintah juga memfasilitasi sekolah dengan alat simulasi gempa.

Langkah TK/PAUD Lingkungan Puri Damai, di Banjar Tunon Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Gianyar juga dapat dijadikan referensi bagaimana sejak awal mengajarkan anak pembelajaran di alam. Mereka diajak mengenal tumbuhan, diajari mengenal tanaman, apa manfaatnya, kemudian diolah dan bisa dimanfaatkan bagi kesehatan tubuh. Jika di Karangasem yang rawan bencana gunung api tapi metode sejenis tidak diajarkan, rasanya sulit menghindarkan lahir keraguan terkait visioner, kepekaan, dan kapabilitas kepala daerahnya.

Bercermin dari erupsi tahun 2017 silam, kehadiran seorang pemimpin yang setia menemani rakyatnya dalam kesusahan sejak awal sampai akhir, sangat dirindukan. Sebab, waktu itu terbetik rumor ada tokoh besar menyelamatkan diri ke luar Karangasem, bahkan sempat pula berupaya menyelamatkan aset-asetnya. Dalam budaya Bali, masyarakat didisplinkan melalui budaya lek (malu), termasuk lek melalaikan tanggung jawab ketika dipercaya sebagai pemimpin. Meski sangat manusiawi, rakyat Karangasem rasanya tidak sudi isu ada pemimpin seperti Jayadrata –Raja Sindhu yang melarikan diri dari kewajiban ksatria dengan sembunyi dikelilingi perwira Kurawa karena takut dengan sumpah Arjuna– itu terulang kembali.

Baca juga :  Nyepi, RSUP Sanglah Siagakan Enam Dokter Spesialis

Memilih untuk tetap bersama masyarakat kala Giri Tohlangkir erupsi, kandidat Bupati Karangasem, Gde Dana, berkata merupakan kewajiban pemimpin mengayomi dalam suka dan duka. Walau saat erupsi pertama terjadi dia sedang di luar daerah, esoknya dia bergegas kembali ke Karangasem. “Selama erupsi tyang berada di Karangasem, dan selalu menemani pengungsi,” kisahnya beberapa waktu lalu.

Entah Gde Dana sadar atau tidak, pilihan sikapnya itu bagai oase mereduksi jeritan warga Karangasem yang jadi pengungsi di Klungkung. Pengungsi di sini “membajak” Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta, yang aktif turun tangan menangani pengungsi di penampungan di Klungkung, sebagai Bupati Karangasem. Suwirta pula, dengan alasan kemanusiaan, yang ingin menghapus piutang RSUD Klungkung saat merawat pengungsi Karangasem. Padahal kebijakan itu berdampak lenyapnya hak jasa pelayanan (jaspel) untuk dokter, perawat, dan pegawai RSUD.

“Ikhlaskan jaspel itu dan tidak minta piutang terhadap saudara kita saat erupsi Gunung Agung. Jangan sampai niat baik kita selama ini jadi hilang karena terus menagih utang,” kata Suwirta, 9 Juli 2019 seperti dikutip dari kumparan.com. RSUD Klungkung sebelumnya menagih ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Namun, dari Rp1,6 miliar piutang, hanya Rp78 juta yang bisa dibayarkan menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) BNPB.

Menjejak Hari Pahlawan, kita wajib menapaktilasi spirit perjuangan palagan Surabaya yang lantang disuarakan Bung Tomo lewat corong Radio Pemberontakan, 10 November 1945. “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga”. Tekad senada juga dapat diamalkan warga Karangasem pada Pilkada 2020, untuk memilih kepala daerah yang tidak menyerah dalam situasi apapun demi dapat selalu bersama rakyat. Sekurang-kurangnya dapat meniru keberanian Presiden Jokowi yang datang ke lokasi aksi teror di Jakarta tersebut. Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.