Membangun Hindu Nusantara

Made Nariana. foto: dok

Oleh Made Nariana

BUNG KARNO pernah mengatakan: “ Kalau jadi orang Islam janganlah menjadi orang Arab. Kalau jadi orang Hindu, jangan menjadi orang India. Kalau menjadi orang Kristen, jangan menjadi orang Yahudi. Tetaplah menjadi orang Indonesia dengan budaya Nusantara yang begitu indah”. Nah, apa makna dari yang dikatakan Bung Karno itu?

Bacaan Lainnya

Sebagai rakyat Indonesia dalam wadah NKRI, dengan dasar negara Pancasila, UUD 1945 dan prinsip hidup Bhineka Tunggal Ika, kita harus menghargai perbedaan keyakinan, agama, adat istiadat dan budaya yang ada di tanah air. Perbedaan itulah yang justru memperkuat Persatuan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar.

Dalam kaitan agama Hindu, saya melihat juga ada adat, budaya yang berbeda antara Hindu di Bali, Hindu di Jawa, Hindu di Kalimantan dan Sumatra. Tidak semua umat Hindu dapat melaksanakan apa yang dilakukan umat Hindu di Bali. Maka muncul gagasan, mengembangkan Hindu Nusantara.

Saya memahami, Hindu Nusantara tidak berarti Umat tidak harus seragam dalam melaksanakan pengorbanan yadnya kepada Ide Hyang Widhi Wasa di tanah air. Silahkan sesuai dengan “dresta”, budaya dan adat masing-masing daerah.

Rupanya Umat Hindu di Bali yang paling lengkap sebab ada kaitan dengan budaya masyarakat. Karena lengkapnya, (sekalipun ada rujukan nista, madya dan utama) — sering juga dikonotasikan sesajennya sangat “ruwet”. Tetapi jutru ini juga yangmenghidupkan ekonomi rakyat Bali. Kondisi ini juga menjadikan daya tarik wisatawan ke Bali.

Memang muncul guyonan di masyarakat. Masyarakat Bali sibuk upacara, orang lain menikmati hikmahnya! Kita jual tanah beli bakso, orang lain jual bakso beli tanah…Payah deh! Umat Hindu Bali juga memiliki toleransi yang begitu tinggi.

Terlepas adanya kaitan sejarah masa lampau, kita sering dikesankan mau “membalikan” umat Hindu di Jawa dalam hal menghaturkan sesajen (Piodalan) ke hadapan Ide Bethara. Bahkan semua sulinggih juga didatangkan dari Bali, dalam sebuah upacara di Pura di Jawa. Pemedek penganyaran juga dari Bali.

Apakah harus demikian? Salahkan kesan Umat Hindu di Jawa, bahwa kita dari Bali mencampuri urusan “ngaturang piodalan” mereka Pura di daerahnya sendiri? Kalau memang ada kaitan dengan sejarah, sebaiknya juga jangan terlalu mencampuri. Maaf, saya belum mendapatkan jawaban tuntas soal ini.

Sebaliknya, kita di Bali, ada sejumlah pendapat bahwa Bali dengan jargon “mule keto” hendaknya jangan diganggu. Kalau demikian halnya, apa kita di Bali boleh mengganggu umat Hindu di Jawa atau Kalimantan?

Saya punya pemikiran, umat Hindu di Jawa tidak perlu menjadi orang Bali. Sebaliknya umat Hindu di Bali, juga tidak perlu menjadi orang Jawa dan seterusnya. Dalam kaitan melakukan pengorbanan yadnya seperti Karya Piodalan misalnya, biarkan mereka melakukan dengan cara dan adatnya sendiri, adat dan budaya Jawa.

Kalau semua banten dan pendeta dibawakan dari Bali, cita-cita membangun Hindu Nusantara tidak akan tercapai. Kalau mau membantu (me-punia) bantu mereka dengan dana. Bantu bangunkan Pura yang indah. Setelah itu serahkan sepenuhnya kepada umat Hindu setempat memeliharanya.

Saya sendiri bingung melihat sesajen Caru yang begitu banyak. Apalagi bagi umat Hindu kita di Jawa. Jangan sampai, umat Hindu yang mulai bangkit di Jawa merasa berat, begitu melihat sesajen gaya Bali di bawa ke Jawa.

Hindu di India juga mengenal “banten”. Tapi cukup “Prasdaksina”, terdiri atas kelapa, telor, beras plus bunga. Tidak ada canangsari, bentuk sesajen dengan hiasan bunga yang indah bikinan gadis-gadis Bali yang cantik!

Saya percaya dan bangga, umat Hindu di Bali memang paling kreatif dengan adat dan budaya mereka. Segala sesuatu dipersembahkan dengan seni yang tinggi, disertai lantunan genta dari sulinggih, alunan gambelan yang memukau dengan kekidungan yang merdu.

Namun jika di Jawa adat dan budayanya cukup dengan buah-buahan dalam sebuah keranjang kecil, dibeli di pedagang buah di jalanan – tentu tidak salah. Disertai “penganteb” pemangku atau sulinggih dengan Bahasa Jawa – barangkali juga tidak apa-apa. Terpenting niatnya iklas, total sujud kepada Ide Hyang Widi Wasa.

Sebaiknya kita bangun Umat Hindu Nusantara dengan tidak melakukan intervensi. Jangan muncul kesan “membalikan” semua Umat Hindu di Nusantara dengan gaya dan budaya Bali! Sebab umat Hindu di Bali juga tidak mau diganggu dengan sikap sampradaya yang konon kurang menghargai leluhur dan “babantenan”. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses