KLU – Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Teknologi Kementerian Riset dan Teknologi Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek BRIN) Danang Rizki Ginanjar dan Staf Khusus Bidang Mitra Luar Negeri dan Perguruan Tinggi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Dodi Pranata Wijaya, mengunjung petani madu Trigona binaan LPPM Universitas Mataram di Desa Salut. Kedatangan rombongan kementerian itu disambut Plt. Bupati Lombok Utara, H. Syarifudin; didampingi Plt. Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian, Ir Hermanto; Kepala Bappeda, Heryanto SP., dan Kepala Desa Salut Bahrudin.
H. Sarifudin mengatakan, kedatangan stafsus kementerian memotivasi masyarakat desa dalam mengembangkan produk unggulan madu Trigona. Lebih lanjut dikatakan, madu tigona menjadi produk unggulan budidaya pada aspek pertanian dan peternakan.
‘’Dulu pernah kita didampingi juga NGO dalam pengembangan ini. Ke depannya, desa-desa lain bisa dikembangkan pula madu trigona sehingga dapat kita jadikan produk unggulan,’’ tuturnya.
Syarifudin menyampaikan, langkah yang dilakukan pemda, bukan hanya kali ini tetapi sudah berjalan hampir dua tahun. Kelompok ini awalnya dilakukan secara swadaya, bukan hanya di Desa Salut saja, tetapi di Sukadana dan Mumbul Sari.
Menjawab pertanyaan awak media, terkait hasil madu biasanya dipasarkan kemana? Syarifudin mengatakan, untuk saat ini kelompok menjualnya dengan cara biasa. Karena permintaan banyak, dan mungkin ke depan dengan produksi yang besar harus betul-betul disiapkan pasar dengan matang.
Pada kesempatan itu, Syarifudin yang juga Wabup Lombok Utara itu berharap pemerintah pusat dan provinsi memberikan perhatian khusus kepada Lombok Utara. Mengingat usia KLU baru 12 tahun, untuk mengejar ketertinggalan dengan kabupaten lain.
Sementara itu, Stafsus Bidang Komunikasi dan Teknologi Kemenristek BRIN, Dadang Rizki Ginanjar, bilang jika dirinya bersama Stafsus Kemendes PDTT menginisiasi sebuah program yang baru saja diluncurkan pada Agustus silam yaitu Program Desa Berinovasi. “Desa Salut merupakan desa awal yang kami kunjungi. Kita ingin Desa Berinovasi membawa teknologi, kita ingin membawa terapan ilmiah. Bagaimana akademisi tidak hanya belajar dengan buku tapi belajar bareng dengan masyarakat di lapangan. Tripoholic, ada pemerintah, akademisi dan dunia bisnis,’’ sebutnya.
Lebih lanjut dijelaskannya, saat ini di dunia, madu yang paling terkenal madu New Zealand yaitu Manuka Honey. Tetapi menurutnya, setelah diuji kandungannya masih lebih bagus madu Trigona Lombok. Oleh karenanya, bagaimana cara mengemas supaya berkompetisi dengan madu New Zealand, mulai dari kualitas packaging dan kuantitasnya sehingga nanti bisa menghasilkan 24 ton bahkan dua kali lipat. “Pada akhirnya bisa menyejahterakan masyarakat dan bisa mengekspor madu Trigona Lombok ke luar negeri,” katanya.
Dadang menambahkan, saat ini juga perlu pembinaan swadaya masyarakat. Swadaya bekerja ini diyakini bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan membuka pasar. Adanya swadaya masyarakat multipihak di Desa Salut, kata dia, menjadikannya sebagai percontohan untuk Desa Berinovasi. Nantinya madu di Lombok bisa dikonsumsi secara nasional bahkan internasional.
‘’Prospeknya saat ini sudah 5,9 ton per siklus, hampir 24 ton dalam setahun. Kalau kita perbanyak dengan teknologi, maka kita yakin madu di Desa Salut ini branding tropis madu ala Indonesia,’’ tandasnya.
Stafsus Bidang Mitra Luar Negeri dan Perguruan Tinggi Kemendes PDTT, Dodi Pranata Wijaya, berharap Desa Salut menjadi salah satu desa binaan pilihan dari program Desa Berinovasi, program dari Kemenristek BRIN dan Kemendes PDTT. Dalam waktu dekat, menteri akan berbicara testimoni desa-desa di Indonesia pada kancah international.
Menurutnya, pada kesempatan kali ini, pihaknya hadir sebagai tim asesmen Desa Berinovasi. Desa Salut sebagai desa binaan dalam pemberdayaan program. ‘’Kita berharap pada tahun 2021, madu trigona bukan hanya terkenal di nasional saja tetapi di kancah internasional,’’ harapnya.
Di sisi lain, Ketua LPPM Unram, Prof Muliartha, mengatakan, Desa Salut nantinya menjadi percontohan desa yang dikembangkan sebagai Desa Wisata Trigona. Ada pula binaan terkait kopi, gula merah, yang hampir menghasilkan 10 ton per bulan. “Ada pula black garlic sudah diekspor ke luar negeri,’’ sebutnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lombok Utara, Hermanto, mengaku uji coba produksi madu Trigona sudah berjalan namun pemasarannya dilakukan secara mandiri. Disinilah perlu pengembangan, pendampingan, dan bantuan pemerintah untuk para kelompok tani bisa menghasilkan produksi besar. “Kita mengharapkan BUMD yang sudah terbentuk nantinya bisa berjalan sehingga semua hasil produksi petani bisa masuk dan dipasarkan dalam jumlah besar. Karena sejauh ini permintaan madu Trigona cukup tinggi di Indonesia,’’ pungkas Hermanto. fik
























