Krisis Penjualan Sapi Jantan, Peternak Mulai Putus Asa

SAPI jantan sepi pembeli. Foto: ist
SAPI jantan sepi pembeli. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Pasar sapi jantan di berbagai daerah tengah lesu. Di Gianyar, kondisi ini terasa semakin berat bagi para peternak kecil, yang menggantungkan kehidupan sehari-hari dari hasil penjualan ternak. Sapi jantan yang biasanya menjadi sumber pendapatan utama kini tak kunjung laku, meski sudah ditawarkan hingga tiga bulan lebih.

Di Desa Taro, Tegallalang, sejumlah peternak mengaku frustrasi. Mereka sudah berulang kali menawarkan sapi ke pedagang, namun respons yang datang nyaris tidak ada. Salah satunya adalah I Made Niki, yang mengaku berbulan-bulan menunggu pembeli, tapi tak jua tiba.

Read More

“Sudah sejak lama saya tawarkan dan infokan untuk dijual, tapi tetap tidak ada yang menawarnya,” keluhnya, Rabu (26/11/2025).

Situasi ini diperparah dengan meningkatnya biaya pakan. Tak sedikit peternak yang terpaksa membeli rumput demi menjaga ternak tetap terpelihara, meski tahu bahwa kondisi pasar sedang tidak berpihak pada mereka.

Di tengah situasi ini, para peternak berada pada posisi serbasulit. Menjual terlalu murah berarti rugi besar, tapi memelihara terus berarti biaya pakan terus membengkak. Banyak peternak kini berharap ada intervensi pemerintah, mulai dari pengendalian impor hingga bantuan akses pakan murah. Tanpa langkah konkret, dikhawatirkan banyak peternak kecil terpaksa gulung tikar.

“Kami hanya ingin harga yang adil. Kalau sapi tidak laku, kami mau makan apa?” ungkap salah satu peternak lainnya.

Para peternak hanya bisa berharap pasar kembali pulih, sebelum kondisi semakin memburuk dan melemahkan fondasi ekonomi mereka.

Menurut drh. Arya Dharma dari UPTD Puskeswan III Gianyar, penurunan penjualan sapi jantan dipengaruhi berbagai faktor. “Berbagai masalah pasar menyebabkan sapi Bali siap potong susah terjual,” ungkapnya.

Dia menuturkan, daya beli masyarakat yang menurun membuat permintaan daging sapi ikut melemah. Rumah potong hewan dan pedagang menahan pembelian, karena penjualan di tingkat konsumen stagnan. Tingginya harga pakan—mulai dari dedak, jagung, hingga konsentrat—juga membuat pedagang lebih selektif dan hanya mengambil sapi dengan ukuran ideal.

Selain itu, permodalan pedagang yang tersendat ikut memperlambat perputaran pasar. Jenis sapi yang tidak sesuai kebutuhan, seperti terlalu kecil, terlalu tua, atau terlalu kurus, semakin sulit dilepas. Masuknya sapi impor dan daging beku juga memukul pasar lokal, menawarkan harga stabil dan kualitas seragam yang menarik bagi pembeli. Belum lagi saat ini bukan musim puncak permintaan kurban.

“Di luar periode Idul Adha, permintaan sapi jantan cenderung menurun. Perbedaan harga antara harapan peternak dan tawaran pedagang turut membuat transaksi kerap buntu,” terangnya.

Kondisi fisik sapi—mulai dari kesehatan, bentuk tubuh hingga kondisi gigi—juga menjadi faktor krusial yang menentukan apakah sapi diterima atau ditolak. adi kampungbet kampungbet kampungbet

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.