Oleh : Made Nariana
KALAU dianggap Maret 2020, wabah Covid-19 mulai menjalar di Indonesia, termasuk Bali – kini berarti sudah 8 bulan masyarakat “ketakutan”, sehingga geraknya sangat terbatas. Awalnya tidak boleh keluar rumah, harus mencuci tangan sesering mungkin, menggunakan masker dan menjaga jarak dengan pihak lain.
Dalam new normal yang diterapkan dalam dua bulan ini, kondisi masyarakat secara bertahap diperbolehkan bekerja, tetapi tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) sesuai yang ditetapkan.
Bahkan aparat dan petugas mengadakan razia, jika ada anggota masyarakat melakukan pelanggaran seperti berkumpul, tidak menggunakan masker dan tidak menjaga jarak. Pasalnya, karena masih banyak anggota masyarakat yang terkena Covid-19.
Saya tidak menyebutkan jumlah, sebab kondisinya naik-turun di suatu daerah. Buktinya sampai sekarang, dunia pendidikan belum normal, di mana anak-anak sekolah belum dapat melakukan proses pendidikan dengan temu muka. Mereka masih belajar dengan sistem daring dari rumah masing-masing.
Muncul pertanyaan, masih begitu gawatkah Bali saat ini? Jawaban dari pertanyaan ini sangat tentatif. Minggu lalu saya melakukan perjalanan dari Badung ke Gianyar. Kebetulan lewat Ubud, salah satu destinasi wisata yang terkena dampak Covid-19. Di awal-awal Covid sampai masa pertengahan, Ubud seperti destinasi wisata yang “mati”. Berbagai toko yang menjual sovenir tutup. Rumah makan dan restoran yang biasa ramai juga tutup. Masyarakat lesu, karena kegiatan khususnya di bidang wisata/turisme berhenti.
Namun minggu lalu wisata Ubud mulai kelihatan “hidup”. Sejumlah rumah makan dan restoran mulai ramai. Memang tidak semuanya. Paling tidak, lalu lintas mulai agak macet sebagai pertanda kehidupan mulai bergerak.
Saya kira hal serupa juga terjadi di Denpasar, Sanur, Kuta dan sekitarnya. Apakah ini berarti masyarakat Bali mulai dapat menyesuaikan diri dengan kondisi Covid yang tidak dapat diramalkan kapan berakhir? Entahlah.
Indikator lain yang dapat saya catat, bahwa desa saya, Desa Baha, Mengwi, Kabupaten Badung, terkenal sebagai desa tukang cor bangunan. Di mana-mana masyarakat Bali membangun rumah bertingkat, tukang cornya pasti dari Desa Baha. Di desa tersebut ada lebih dari lima puluh tukang cor dengan memperkejakan buruh (tenaga kasar) masing-masing 10-15 orang. Bagaimana keadaannya selama Covid ini?
Saya memperhatikan, mereka tidak pernah libur. Selalu ada puluhan tukang cor mengajak buruh bekerja mengecor rumah penduduk. Ini artinya, orang membangun rumah masih banyak, sekali pun kondisi ekonomi selalu dikatakan merosot. Tukang cor dibayar rata-rata Rp125.000 sampai Rp150.000 per orang. Selama ini mereka jarang saya dengar mengeluh. Bahkan kalau boleh, mereka ingin selalu melakukan upacara kegamaan secara normal tanpa dibatasi dengan prokes.
Keluhan masyarakat yang dapat saya catat, jika ada bantuan dari atas yang tidak merata. Entah bagaimana proses pencatatannya, dari 200 warga yang dicatat untuk dilaporkan dapat bantuan terdampak Covid-19, sering ada puluhan orang atau kepala keluarga (KK) yang terlewatkan. Kondisi ini menyebabkan Klian Dinas kelimpungan mendapat protes, karena yang bersangkutan sulit memberikan jawaban.
Kini Covid-19 sudah melanda masyarakat hampir 9 bulan. Tidak tentu kapan akan berakhir. Namun masyarakat Bali nampaknya mulai ‘bisa bernapas’, karena wisatawan domestik dapat kelonggaran berkunjung ke Bali.
Akhir 2020, saya yakin Bali akan kebanjiran tamu domestik, sehingga sejumlah tempat wisata mulai ramai—seperti apa yang saya lihat minggu lalu di Ubud. (*)
























