Ketog Semprong Syawalan Akbar, Momen Tingkatkan Harmoni Antarumat Beragama

SALAH satu atraksi kesenian yang ditampilkan dalam Semarak Idul Fitri dan Ketog Semprong Syawalan Akbar 1443 H, di Lapangan Kebun Raya Eka Karya Bali, Senin (9/5/2022). Foto: ist

TABANAN – Ribuan umat muslim memadati Lapangan Kebun Raya Eka Karya Bali, serangkaian acara Semarak Idul Fitri dan Ketog Semprong Syawalan Akbar 1443 H, Senin (9/5/2022). Acara tersebut juga dihadiri Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, yang berharap agar kegiatan tersebut bisa dijadikan momen untuk meningkatkan harmoni antarumat beragama.

Hadir pula Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta; anggota DPD RI, H. Bambang Santoso, perwakilan dari MUI Provinsi Bali, dan undangan lainnya. Termasuk Camat Baturiti, Perbekel Desa Candikuning, tetua adat Kampung Islam Candikuning, para ulama, dan tokoh masyarakat setempat.

Bacaan Lainnya

Festival Ketog Semprong, kata ketua panitia yang juga Kawil Candikuning II, Aril Askaseta, merupakan kesenian tahunan, yang menyajikan pentas seni kreativitas dan kearifan lokal Kampung Islam Candikuning dengan kolaborasi kesenian Bali.

“Festival ini bertujuan untuk mengimplementasikan nilai agama dalam banyak dimensi. Salah satunya adalah menjaga kerukunan, baik inter dan antarumat beragama,” ungkapnya.

Dikatakan pula bahwa tradisi ketog semprong memiliki arti tumpah-ruah, dan sekaligus dimaknai dengan Lebaran Ketupat. Ini membuktikan wujud kecintaan umat Islam kepada Tabanan, dan Bali umumnya, dengan menampilkan beragam kolaborasi kesenian yang bernuansa Islam dan Bali.

Masyarakat berbaur bersama menyambut dengan semangat suka cita pada momen silaturahmi, yang hanya bisa terselenggara pascahari raya Idul Fitri atau tujuh hari setelah lebaran.

Baca juga :  Kamis Ini, Pasar Banyuasri Dibuka

Bagi masyarakat Candikuning, lanjut Aril, festival ini juga dimaknai sebagai ajang untuk berjumpa dan bersua. Tak hanya dengan saudara, keluarga maupun masyarakat setempat, namun juga meningkatkan manfaat sebagai tempat jumpa rakyat dengan pemimpinnya.

“Tempat pemimpin bisa menyapa masyarakat secara langsung, saling bersinergi membangun mimpi, dan menciptakan masyarakat Tabanan yang aman, unggul, dan madani,” ujarnya.

Meskipun pelaksanaan tradisi tersebut sempat tertunda sejak pandemi Covid-19, namun semangat umat muslim Candikuning tetap menggelora. Hal tersebut pun mendapatkan apresiasi dari Bupati Sanjaya.

“Saya apresiasi semangat dan kekompakan umat muslim, yang gaungnya sangat luar biasa. Tabanan membuktikan bahwa kita bisa menjaga toleransi antarumat beragama. Saya juga berharap kegiatan ini bisa terus dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang,” ujar Sanjaya.

Apresiasi serupa juga diungkapkan Bupati Badung, Giri Prasta. Menurutnya, Kabupaten Tabanan khususnya Desa Candikuning, telah dijadikan sebuah role model di Provinsi Bali.

“Di Pulau Bali ini, di Kabupaten Badung dan Tabanan, keberadaan umat muslim telah mampu mewarnai pembangunan. Mengacu sila ke-5 Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, maka semua insan sama dapat dan sama rasa,” ujar Giri Prasta. gap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.