Buleleng Serius Tangani Ancaman Rabies, Sebar Dokter Hewan di Tiap Kecamatan

KEPALA Distan Buleleng, Made Sumiarta. Foto: rik

BULELENG – Penyakit suspek rabies akibat gigitan anjing liar, kini menjadi perhatian serius di Buleleng. Tercatat dari awal tahun ini hingga akhir April 2022, terdapat 5 kasus orang meninggal dunia karena suspek rabies. Dinas Pertanian (Distan) Buleleng telah melakukan berbagai upaya, seperti gencar melakukan vaksinasi pada anjing peliharaan.

Kepala Distan Buleleng, Made Sumiarta, tak menampik bahwa kasus rabies akibat gigitan anjing liar masih menjadi ancaman di Buleleng. Meski begitu, Sumiarta menegaskan jika kasus rabies telah menurun setiap tahunnya.

Bacaan Lainnya

“Beberapa hari yang lalu sempat terjadi kasus rabies akibat gigitan anjing liar, tapi kami tidak menerima laporan. Kalau terdapat masyarakat digigit anjing, wajib melapor ke pemerintah desa,” kata Sumiarta di Singaraja, Senin (9/5/2022).

Sebagai upaya pencegahan kasus rabies, menurut Sumiarta, pihak Distan telah melakukan upaya secara berkelanjutan dan secara menyeluruh, melalui vaksinasi anjing ke desa-desa dan kelurahan. Berbagai metode pun dilakukan untuk melancarkan pelaksanaan vaksinasi.

Untuk mendukung upaya vaksinasi, Distan menyiapkan 8 orang dokter hewan untuk pelaksanaan vaksinasi baik di Distan dan masing-masing 2 dokter hewan di setiap kecamatan.

“Ini merupakan tim respon cepat kami dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Semua gratis dan dilayani selama 24 jam penuh,” ujar Sumiarta.

Baca juga :  Pasien Covid-19 Bali Meninggal Naik Lagi, Hari Ini Bertambah 6, Sembuh 91 dan Kasus Positif 130 Orang

Bukan hanya itu, Distan Buleleng sebelumnya juga telah melakukan koordinasi dengan pemerintah Kecamatan dan Desa/Kelurahan untuk mengimbau masyarakat, terkait laporan gigitan anjing liar maupun yang sengaja diliarkan oleh pemiliknya.

Bahkan Distan Buleleng, dijelaskan Sumiarta, telah memberikan saran kepada seluruh desa adat yang ada di Buleleng agar membuat pararem (aturan adat), jika ada kasus gigitan anjing maupun aturan memelihara anjing untuk tidak diliarkan.

“Hanya desa Bengkala yang sudah berhasil menerapkan pararem, jadi tidak lagi ditemui kasus gigitan anjing dan kasus rabies,” pungkas Sumiarta. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.