Kembangkan “Soft Skill” untuk Cegah Penyalahgunaan Narkoba

BADAN Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bali menggelar pelatihan pengembangan soft skill di lembaga dan satuan pendidikan tahap 1 dihadiri 24 orang peserta dari 12 SMA/SMK di Badung terdiri dari guru BK dan perwakilan guru yang telah ditunjuk oleh kepala sekolah di Dalung, Kamis (22/5/2025). Foto: tra
BADAN Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bali menggelar pelatihan pengembangan soft skill di lembaga dan satuan pendidikan tahap 1 dihadiri 24 orang peserta dari 12 SMA/SMK di Badung terdiri dari guru BK dan perwakilan guru yang telah ditunjuk oleh kepala sekolah di Dalung, Kamis (22/5/2025). Foto: tra

POSMERDEKA.COM, MANGUPURA – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bali menggelar pelatihan pengembangan soft skill di lembaga dan satuan pendidikan tahap 1 dihadiri 24 orang peserta dari 12 SMA/SMK di Badung terdiri dari guru BK dan perwakilan guru yang telah ditunjuk oleh kepala sekolah di Dalung, Kamis (22/5/2025). Tiga narasumber dihadirkan di kegiatan itu.

Masing-masing, narasumber internal BNNP Bali dari Tim Pencegahan, Putu Soni Kurniawan, membawakan materi tentang P4GN. Berikutnya, Tim Rehabilitasi BNNP Bali, I Made Widana, membawakan materi mengenai adiksi, deteksi dini dan konseling, serta psikolog Norman Arindri Dangkua, membawakan materi mengenai regulasi diri, sikap asertif, dan reaching out.

Read More

Kegiatan dibuka oleh Ketua Tim Pencegahan BNNP Bali, Putu Soni Kurniawan, mewakili Kepala BNNP Bali, menekankan tentang maksud dan tujuan kegiatan. Dalam sambutannya, ditegaskan bahwa narkoba merupakan fenomena multidimensi yang menyentuh seluruh aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, hukum, sosial hingga ekonomi.

“Narkoba merupakan salah satu faktor yang dapat mengancam ketahanan nasional. Penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini berpotensi menimbulkan lost generation yang akan berdampak serius terhadap masa depan bangsa,” ujar

Ketua Tim Pencegahan BNNP Bali menekankan kembali bahwa kegiatan ini akan memberikan kesempatan kepada sekolah untuk memperkuat nilai dan mutu anak didik dalam menghadapi tantangan dan kemajuan teknologi yang sifatnya dapat diterapkan pada anak didik selanjutnya. Juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor baik pemerintah, swasta maupun masyarakat untuk menanggulangi masalah narkoba.

“Upaya pengurangan suplai (supply reduction) dan permintaan (demand reduction) harus berjalan beriringan. Salah satu langkah konkret adalah melalui penguatan soft skill siswa agar mampu menolak penyalahgunaan narkoba secara adaptif,” katanya.

Program pengembangan soft skill ini dirancang untuk memperkuat nilai dan mutu peserta didik agar siap menghadapi tantangan zaman serta kemajuan teknologi. Diharapkan, siswa akan memiliki kesiapan untuk hidup bersih dari narkoba, kepercayaan diri dalam bersosialisasi, serta memperkuat citra positif di lingkungan sekolah.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan Sekolah Bersih Narkoba (Sekolah Bersinar) melalui pelatihan keterampilan hidup serta penanaman budaya hidup sehat dan perilaku aman di lingkungan sekolah. “Kerja sama semua pihak, baik dari dalam maupun luar lembaga pendidikan, sangat dibutuhkan demi menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas narkoba,” pungkasnya. tra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.