Keluhan Warga Masih Batas Wajar, Komisi 4 Berharap Efek Ekonomi KTT G20 Berlanjut

Rai Warsa dan Rawan Atmaja. Foto: hen
Rai Warsa dan Rawan Atmaja. Foto: hen

DENPASAR – Sukses pelaksanaan KTT G20 di Nusa Dua, Bali memantik harapan besar agar kesuksesan serupa menular kepada kegiatan bersifat massal selanjutnya yang diagendakan di Bali. Selain berimbas kepada sisi ekonomi lokal, hajatan berskala besar kian menguatkan citra positif keamanan Bali di mata internasional.

Anggota Komisi 4 DPRD Bali, Rawan Atmaja, Senin (21/11/2022) menuturkan, Bali sangat merasakan efek domino secara ekonomi dari KTT G20. Yang paling mencolok tentu dapat dilihat di kawasan Badung Selatan yang menjadi tuan rumah. Tingkat hunian hotel, terutama hotel bintang lima yang sempat mati suri dihantam pandemi Covid-19, melonjak drastis. Kondisi itu seturut dengan meningkatnya pendapatan karyawan hotel, yang selama dua tahun terakhir sangat suram.

Bacaan Lainnya

“Tidak cuma hotel berbintang yang laku, yang sekelas rumah kos saja sampai penuh tamu waktu KTT G20 itu. Yang menginap itu biasanya aparat keamanan yang harus berjaga dekat lokasi KTT, tapi tidak kebagian kamar hotel. Ini artinya warga benar-benar mendapat berkah dari kegiatan yang dilangsungkan di lingkungan mereka,” papar politisi Partai Golkar asal Kuta Selatan, Badung tersebut.

Disinggung dampak ekonomi terlihat hanya dinikmati warga Badung Selatan, Rawan tegas membantah. Kata dia, sepintas memang demikian yang terlihat di permukaan. Hanya, kebutuhan logistik makanan yang disajikan kepada peserta KTT G20 tidak mungkin disediakan oleh sebatas Badung Selatan saja. Misalnya sayur, telur, daging ayam dan kebutuhan lainnya tetap didatangkan dari daerah lain di Bali.

“Di Badung berapa banyak pengusaha ayam atau petani sayur? Pasti kebutuhan daging untuk delegasi, aparat keamanan dan lain-lain dalam jumlah puluhan ribu didatangkan dari kabupaten lain. Itu artinya efek ekonomi menyebar dan merata, semua kebagian,” paparnya.

Anggota Komisi 4 lainnya, Made Rai Warsa, menimpali, melihat gurihnya efek ekonomi G20, banyak masyarakat berharap ada kegiatan serupa kembali dibuat di Bali. Misalnya konser musik. Pendek kata, KTT G20 memberi pesan bahwa Bali masih sangat ideal menjadi tuan rumah atau lokasi kegiatan massal. Antara lain Piala Dunia U-20 yang sedianya dilangsungkan di Bali. 

“Bali ini masih jadi magnet pariwisata, itu hal positif yang mesti dipertahankan. Meski demikian, kami berharap kita boleh berpuas diri dulu. Mesti terus berinovasi untuk memperbaiki kekurangan yang ada,” sebut politisi PDIP asal Gianyar itu.

Soal adanya keluhan kemacetan akibat pengalihan arus lalu lintas di jalur yang dilewati delegasi KTT G20, baik Rawan dan Rai Warsa menilai hal itu masih dalam batas wajar. Karena dalam skala besar, keduanya melihat keluhan itu sebatas konsekuensi logis belaka. Yang penting sosialisasi dan antisipasi yang dikeluhkan tetap dijalankan pemerintah dan aparat keamanan.

“Kalau keluhan macet ya memang ada satu dua, tapi tidak sampai bikin pengguna kendaraan ngelakson kencang. Ini kan artinya mereka masih menoleransi keadaan, namanya juga acara internasional, pengamanan juga pasti sangat ketat,” sahut Rawan.

“Walau macet, banyak juga yang posting video iring-iringan mobil tamu negara, ada posting kedatangan pesawat kepala negara di Bandara Ngurah Rai. Intinya, keluhan pasti ada, tapi tidak sampai mengganggu sekali kepentingan masyarakat yang lewat di sana,” tandas Rai Warsa. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses