Kapolresta Ajak Empati Kondisi Bali

  • Whatsapp
KAPOLRESTA Denpasar, Kombes Jansen Aviatus Panjaitan. Foto: ist
KAPOLRESTA Denpasar, Kombes Jansen Aviatus Panjaitan. foto: ist

DENPASAR – Unjuk rasa mahasiswa di DPRD Bali, Kamis (8/10/2020) yang berakhir rusuh dinilai hanya membuat posisi Bali makin terpuruk. Ketika masih banyak daerah masih zona merah Corona, aksi unjuk rasa yang menghadirkan kerumunan orang justru menandakan tidak ada empati terhadap kondisi Bali. Pernyataan bernada menyesalkan itu diutarakan Kapolresta Denpasar, Kombes Jansen Aviatus Panjaitan, dihubungi pada Jumat (9/10/2020) malam.

“Kami mengajak ayo kita putus bersama-sama mata rantai Corona ini, Denpasar ini masuk zona merah lagi. Masa tidak ada peduli dan empati dengan ekonomi Bali? Mahasiswa seharusnya lebih paham keadaan ini,” sesalnya.

Bacaan Lainnya

Banyaknya pasien Corona yang dirawat di rumah sakit, kata dia, bukti bahwa virus tersebut tidak pilih-pilih korban. Orang yang menerapkan protokol kesehatan dengan ketat saja bisa terjangkit, apalagi sengaja mengabaikan protokol, dengan membuat kerumunan misalnya. Lebih-lebih ketika berunjuk rasa tapi esensi yang dipersoalkan tidak dimengerti.

Kapolresta menegaskan kembali pernyataan Kapolda Bali, Irjen Petrus Reinhard Golose, bahwa unjuk rasa tersebut disusupi pihak lain atau tidak murni lagi. Dia mendasarkan tudingan itu, karena ketika massa tiba di DPRD Bali, mereka langsung melempar polisi. Karena tidak ada pesan yang disampaikan, dia pun menilai pengunjuk rasa tidak paham isi Omnibus Law yang dituding menyusahkan kaum buruh itu. “Mereka hanya termakan hoaks bahwa Omnibus Law itu tidak berpihak kepada buruh,” seru alumnus Akpol 1996 tersebut.

Baca juga :  Selisih 1 Orang, Antara Pasien Sembuh Covid-19 di Denpasar dengan Kasus Positif

Disinggung kabar anggota Dalmas Polresta Denpasar yang usai pengamanan unjuk rasa menjalani tes cepat Corona, dia membenarkan. Dia juga tidak membantah ada sejumlah personel yang hasil tes cepatnya reaktif. Tes cepat itu bagian dari upaya mereka memastikan personel sehat dalam bertugas.

Bagaimana dengan tudingan polisi sengaja menembaki kampus Unud dengan gas air mata pada Kamis (8/10/2020) malam? Menurut Kapolresta, jajarannya sudah mengingatkan mahasiswa agar membubarkan diri menjelang pukul 18.00. Sebab, itu adalah batas waktu mereka menyampaikan pendapat sesuai UU 9/1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di depan umum. Namun, bukannya membubarkan diri, dia menuding ada provokasi dari oknum mahasiswa agar mereka merapatkan barisan dalam artian harfiah.    

“Tri Sandya itu jam 18.00 kan? Nah, sudah itu mereka tidak mau bubar juga. Makanya kami ambil tindakan tegas membubarkan, termasuk dengan gas air mata,” ungkapnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.