Kalau Bisa, Janganlah Undang Investor!

  • Whatsapp

Oleh; Mr. Joger

(Untuk orang yang suka berlogika).

Bacaan Lainnya

KADANG-kadang penulis harus mengelus dada maupun mengernyitkan dahi ketika mendengar maupun melihat bagaimana “pemerintah kita yang sah dan baik” melakukan berbagai upaya positif untuk mengundang sebanyak-banyaknya investor (pengusaha penanam modal) yang benar-benar membawa uang beserta segala bentuk kinerja dan keterampilan mereka untuk mereka pertaruhkan dalam bentuk membangun pabrik maupun perusahaan (bisnis) agar benar-benar bisa menciptakan makin banyak lapangan pekerjaan bagi orang-orang kita yang memang benar-benar mau, mampu, dan suka bekerja maupun suka berkarya dalam rangka memperoleh penghasilan yang halal, legal, dan profesional.

Pada suatu hari ketika penulis bertemu kembali dengan salah satu teman baik penulis yang pengusaha besar asing yang sudah mengontrak sebuah rumah tinggal bagus, mewah, mahal selama 20 tahun, minimal tiga kali setahun dia datang ke Bali, dia sudah sangat fasih berbahasa Indonesia campur sedikit bahasa Bali (untuk mencegah pertanyaan lebih rinci yang aneh-aneh, penulis sengaja tidak menyebut kewarganegaraannya), ternyata dia malah dengan setengah bergurau mengomentari anjuran atau ajakan penulis untuk berinvestasi di Indonesia atau lebih tepatnya di Bali kita yang indah, subur, dan konon butuh banyak investor ini, ternyata inilah komentarnya, “Sebenarnya kalian tidak perlu repot-repot buang tenaga, pikiran, dan/atau apalagi banyak uang untuk mempromosikan negeri kalian agar para investor bersedia berinvestasi di Indonesia, cukup perlakukanlah para investor maupun pengusaha  dalam negeri kalian sendiri secara benar-benar baik, jujur, ramah, adil, beradab, transparan, konsisten, dan konsekuen, maka jangankan kami yang sudah sangat suka pada Bali, bahkan mereka yang belum pernah ke Bali pun akan beramai-ramai datang ke Bali sebagai akibat ajakan teman-teman mereka yang sudah benar-benar merasakan keamanan dan kenyamannya berinvestasi maupun hidup di Bali atau Indonesia, he..he..he” sambil menyeruput kopi luwak aslinya yang sangat dia sukai karena memang enak rasanya maupun sebagai akibat promosi “getok tular” atau “words of mouth” yang dilakukan oleh teman-temannya (termasuk dari penulis dan kawan-kawan). “Yang penting buktikanlah bahwa kalian memang benar-benar tidak mengundang investor hanya untuk kalian perlakukan secara buruk sebagai kelinci percobaan atau kambing-hitam atau kambing congek maupun sebagai sapi perahan saja…. Cerita-cerita miring tentang perlakuan oknum-oknum pejabat korup maupun preman liar terhadap para pengusaha sesama anak bangsa kalian sendiri saja sudah tidak sedikit menggerus minat orang untuk berinvestasi di sini, adanya pungutan ini, itu, maupun inu yang walaupun tidak banyak jumlahnya, tetapi pada dasarnya secara psikologis sangat mengganggu perasaan teman-teman saya yang belum terbiasa dengan kejadian-kejadian yang menurut mereka lucu dalam arti menjengkelkan”, imbuhnya sambil tersenyum dan tetap menyeruput kopi luwaknya yang benar-benar asli dan tidak murah harganya.

Baca juga :  Menepikan Ego Politik, Menyemai Harapan Publik

Sebelum penulis sempat mengomentarinya, dia malah mengeluarkan komentar lanjutan, “Seperti yang Pak  Joger tulis di kaus Joger, kan Pak Joger sendiri sudah secara jenaka mengatakan bahwa Bali is the best place  to forget our home work, as long our home is not in Bali, he..he..he”. Teman penulis yang kebetulan orang asing itu memang bukan hanya cerdas, tetapi juga sangat bijaksana. Walaupun dia memang sangat suka dan cinta pada Bali maupun Indonesia, bahkan pacar tetapnya juga sudah orang kita yang berkulit coklat manis, tetapi dia tetap saja tidak mau punya “rumah tetap” atau “home” di Bali, dia adalah orang merdeka yang tidak suka mengganggu maupun menyakiti hati siapa atau apapun (bahkan binatang peliharaannya pun dia dan pacarnya perlakukan secara baik, wajar, dan beradab), tetapi dia juga sama seperti kita, yaitu juga tidak mau diganggu dan/atau apalagi disakiti otak, hati, maupun kantongnya. Dia adalah orang yang altruis dan filantropis, tetapi tidak suka disuruh dan/atau apalagi dipaksa membantu maupun menyumbang yang tidak jelas asal maupun usulnya. Banyak orang mengira dia tidak suka bergaul, padahal dia sangat enak kita ajak berteman, yang penting kita memang benar-benar mau, mampu, sempat, ikhlas, dan mantap saling menyadari, saling memahami, saling menghormati, saling menghargai, dan/atau saling asah, saling asuh, dan saling asih secara wajar dan horisontal, tanpa beban atau tekanan yang aneh-aneh dan eksesif.

Baca juga :  Contingency Fund bagi Bali

Makanya, kalau memang mau, mampu, dan sempat mengerjakannya sendiri, untuk apa minta atau apalagi sampai “seolah-olah ngemis” bantuan atau uluran tangan orang lain? Kalau memang sudah  benar-benar mau, mampu, dan sempat mengelola sendiri, untuk apa jual tanah, apalagi tanah warisan nenek moyang kita kepada orang lain dan/atau apalagi orang asing? Tetapi kalau memang sudah harus kita  jual, dan sudah dibayar sesuai dengan harga yang sudah kita sepakati, janganlah telalu banyak maupun terlalu sering memikirkannya lagi apakah harga barunya sudah naik maupun sudah turun, biarlah pemiliknya yang baru memikirkan cara pengelolaan maupun pemanfaatannya, uruslah urusan atau tugas-tugas kita sendiri saja secara seoptimal mungkin, lalu syukurilah hasilnya, maka berbahagialah hidup kita. Dan kalau bisa, janganlah sikapi sesama kita seperti kita sudah secara tidak baik, tidak adil, dan tidak beradab diperlakukan oleh para penjajah maupun oleh para penindas dulu, tetapi sebaliknya, kalau bisa, sikapilah sesama kita sebaik mungkin, seadil mungkin, dan seberadab mungkin seperti kita suka dan ingin diperlakukan oleh sesama kita yang benar-benar baik, jujur, adil, ramah, dan menyenangkan. Jangan lupa, bahwa investor maupun pengusaha juga manusia, yang tentu saja juga boleh berusaha dan berkeinginan untuk hidup sukses, optimal, dan sehat secara kejiwaan, raga, pikiran, perasaan, perkataan, pendidikan, pergaulan, komunikasi, harga diri, maupun secara kantong. Merdeka! Terima kasih!

Baca juga :  Perkembangan Teknologi Dalam Dunia Pendidikan, Menguntungkan atau Merugikan?

Joger, Kuta, Balinesia, 10420121. Subuh. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.