MATARAM – Ketua Majelis Pembina Nasional (Mabinas) PB PMII, Muhaimin Iskandar, menilai bangsa Indonesia sangat membutuhkan kiprah kader PMII dan alumninya. Eksistensi PMII dipandang merupakan salah satu kekuatan penggerak perubahan bangsa. Apalagi kader maupun para lulusan PMII mampu menjadi kekuatan yang mentransformasikan masyarakat dan negara. Kader dan alumni diajak bersatu bersama Nahdlatul Ulama (NU).
“Di sini kita perlu bersyukur menjadi bagian dari gelombang menuju keadaan perubahan yang lebih baik, dan menjadi bagian dari ombak besar kekuatan bangsa ini. Saya titip kekuatan penggerak perubahan bangsa yang dimiliki PMII dan alumninya agar terus dipertahankan,” ajak Muhaimin saat menghadiri Silaturahmi Kebangsaan Bersama Kader dan Alumni PMII NTB di Gelanggang Pemuda, Kota Mataram, Rabu (1/2/2023).
Di hadapan ribuan kader PMII di NTB, Ketua Umum DPP PKB itu menilai seorang aktivis atau mantan aktivis PMII, tanpa disadari, seluruh langkah dan gerakannya membangun jejaring yang efektif dan produktif. Apalagi di PMII terjalin antara kekuatan individual dengan kekuatan kultural yang saling berkaitan. Dua hal itu adalah kekuatan yang sangat besar, sangat mewah.
“Intelektual, transformer, penggerak, aktivis yang mengelola umat. Politik hanya salah satu etape dari seluruh rangkaian. Jabatan bupati hanya terminal, tujuannya gubernur,” ulasnya.
Kader PMII, sambungnya, adalah orang-orang yang pernah mengalami atau mendapat perpaduan antara teori, gagasan, dasar-dasar, dogma dan doktrin yang diterapkan dalam “laboratorium langsung” di tengah masyarakat. Karena itu, Muhaimin mengajak para kader PMII lebih banyak bersyukur. Sebab, mendapat warisan dan mandat historis yang mengalir deras hingga hari ini, dalam satu wadah dan satu darah besar kekuatan Nahdlatul Ulama (NU).
“Ini patut kita syukuri karena NU memang lahir di luar jangkauan nalar, di luar kemampuan teoritik kita melihat NU. NU lahir sudah dipersiapkan dengan rancang bangun yang komprehensif, lahir langsung besar,” paparnya.
Jika seluruh kekuatan di NU dan PMII bersatu, ucapnya, akan menjadi kekuatan perjuangan luar biasa. Sebab, saat ini terjadi perubahan dramatis di tingkat global dan nasional, misalnya perkembangan teknologi menyentuh segala sendi kehidupan, bahkan membalikkan kondisi dari maya ke nyata dan sebaliknya. Perubahan itu dipandang sebagai cerminan kegagapan global dalam ideologi, ekonomi, dan agama.
“Ada yang keliling kampanye ide khilafah, bebas. Di sisi lain, kelompok sekularisme kampanye tidak penting agama, dan sebagainya,” lugasnya bernada menyesalkan.
Melihat situasi ini, dia berpesan PMII dan NU tidak boleh tinggal diam, harus turun gunung menyempurnakan keadaan Indonesia di masa mendatang. Kehadiran PMII dan NU merupakan panggilan dan tanggung jawab untuk mengambil peran semaksimal mungkin di semua level, struktural maupun kultural, politik dan nonpolitik. “PMII dan Ikatan Keluarga Alumni PMII memiliki ruang sangat luas untuk berperan lebih nyata,” katanya mengajak. rul
























