KARANGASEM – Akses jalan Banyu Campah-Kebung, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem jebol beberapa hari lalu. Para petani, siswa dan masyarakat lainnya yang biasa menggunakan jalan tersebut untuk melintas jadi kena dampak, dan terpaksa menyeberangi sungai agar bisa lewat.
Untuk bisa menyeberangi sungai, masyarakat terlebih dahulu turun melewati jurang sedalam kurang lebih 4 meter, kemudian kembali naik untuk menuju ke jalan. Jurang tersebut dibuatkan tangga darurat secara swadaya oleh warga sekitar, agar lebih memudahkan saat naik-turun.
Tapi beberapa warga yang ditemui di lokasi berujar, bila turun hujan, tangga buatan tersebut sangat licin, sehingga beberapa warga yang melintas sempat terpeleset.
I Ketut Dangin (50), salah seorang petani asal Banjar Dinas Celetiga, Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen, berkisah, sejak akses jalan itu jebol, dia terpaksa turun ke sungai di bawah jalan yang jebol agar bisa lewat ke wilayah Banyu Campah.
Beruntung saat ini airnya sedang surut. “Kalau airnya besar, ya terpaksa cari jalan alternatif yang jaraknya sekitar 4 kali lipat jauhnya,” keluhnya, Minggu (23/10/2022).
Dangin menambahkan, sejak jalan tersebut jebol, selain petani, para siswa SD, SMP hingga SMA cukup banyak yang harus menyeberangi sungai untuk ke sekolah. Karena jika melewati jalan alternatif lain, jaraknya lumayan jauh.
Ni Ketut Adnyani (15), siswa kelas IX SMPN 1 Sidemen, mengaku terpaksa harus jalan kaki dan menyeberangi sungai saat ingin berangkat ke sekolah. Jika lewat jalan alternatif, bisa menghabiskan sekitar 1 liter bensin. Dari rumah dia jalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh dengan sungai yang akan diseberangi.
“Setelah lewat sungai, saya kembali jalan kaki sekitar 500 meter menuju ke rumah teman di wilayah Banyu Campah untuk nebeng ke sekolah,” tutur warga Banjar Dinas Celetiga ini.
Adnyani berujar teman-temannya cukup banyak yang lewat sungai untuk pergi ke sekolah. Namun, jika rumahnya jauh, biasanya diantar dengan sepeda motor sampai jalan yang jebol tersebut.
Setelah itu baru menyeberangi sungai, dan setelah lewat juga dijemput temannya. Sementara untuk siswa SD, setelah diantar orangtua, langsung jalan kaki menyeberangi sungai menuju ke sekolah masing-masing.
Petani lainnya, I Kadek Adnyana (30), juga mengaku terpaksa harus menyeberangi sungai untuk pergi ke sawah. Jika menggunakan sepeda motor, dia bisa tekor di bensin.
Suka tidak suka terpaksalah dia jalan kaki sejauh 2 kilometer dari rumah untuk sampai ke sawah. “Tapi jika air sungainya besar, harus cari jalan alternatif walaupun jauh. Kalau tidak begitu, sapi peliharaan sayanggak ada yang ngasih makan,” paparnya.
Perbekel Desa Telaga Tawang, I Komang Muja Arsana, mengaku akan segera mencarikan solusi dengan membuat jembatan darurat untuk sementara. Minimal masyarakat supaya bisa lewat dengan menggunakan sepeda motor.
“Rencananya akan membuat jembatan darurat, tapi tetap harus kami rapatkan dulu dengan para tokoh masyarakat untuk berkoordinasi. Bila disetujui, kami akan langsung bangun,” katanya.
Kabid Bina Marga Dinas PUPR dan Perkim Kabupaten Karangasem, I Wayan Surata Jaya, menambahkan, perbaikan ruas jalan Banyu Campah-Kebung sepertinya belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.
Meski begitu, instansinya akan mengupayakan agar pada awal tahun 2023 mendatang jalan sudah bisa diperbaiki. “Rencananya akan diperbaiki di awal tahun 2023 mendatang dengan menggunakan dana APBD. Semoga saja secepatnya dapat terwujud,” lugasnya singkat. nad
























