Duh! Desa Jehem Dikepung Tanah Longsor

  • Whatsapp
AKSES jalan menuju Cagar Budaya Candi Tebing putus akibat longsor. Foto: gia
AKSES jalan menuju Cagar Budaya Candi Tebing putus akibat longsor. Foto: gia

BANGLI – Bencana tanah longsor jadi masalah bagi warga Desa Jehem, Tembuku, Bangli usai hujan deras. Sedikitnya ada lima titik tanah longsor yang mengepung wilayah desa ini, dan merusak rumah warga serta fasilitas umum. Akses jalan satu-satunya menuju Cagar Budaya Candi Tebing dan objek wisata air terjun Goa Raja di Dusun Jehem Kaja putus, yang membuat kedua objek wisata itu jadi terisolir.

Perbekel Desa Jehem, I Nengah Tesan Darmayasa, Selasa (13/10/2020) membenarkan dampak cuaca ekstrem pada Sabtu (10/10/2020) mengakibatkan sejumlah kerusakan akibat terjangan tanah longsor. “Kami lapor ke Dinas Sosial ada lima titik longsor terjadi akibat hujan deras pada Sabtu lalu,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Titik-titik longsor dimaksud yakni yang menimpa rumah dan dapur keluarga I Wayan Bulus dan Wayan Mariana, dengan estimasi kerugian Rp50 juta. Tanah longsor juga menimpa balai gong di Pura Tamansari di Dusun Sama Griya, dengan estimasi kerugian Rp30 juta. Selanjutnya tembokpanyengker Desak Kompyang Nami di Dusun Tambahan Bakas juga rusak, dengan kerugian Rp3 juta.

Ada juga dapur keluarga Wayan Cidra jebol sampai hilang sebagian bangunannya, dengan kerugian mencapai Rp25 juta. Yang terakhir, tanah longsor memutus akses jalan menuju Cagar Budaya Candi Tebing, dan jalan di Jehem Kaja sepanjang kurang lebih 15 meter. “Jalan menuju Cagar Budaya Candi Tebing dan air terjun Goa Raja itu jebol sekitar pukul 09.00 Wita, dan kerugian material ditaksir 20 juta,” jelasnya.

Baca juga :  Duh! Imbas Hujan Lebat, Dua Jalan di Bangli Nyaris Putus

Dia menguraikan, sesuai anjuran pemerintah guna mencegah meluasnya pandemi Covid-19, kedua objek wisata itu memang ditutup sementara waktu. Namun, selama ini tetap saja ada pengunjung walau tak seramai seperti sebelum pandemi melanda. “Sekarang akses menuju ke sana benar-benar terputus, dan itu merupakan jalan satu-satunya,” sebutnya bernada lesu.

Berhubung anggaran desa dan pengelola objek wisata tersebut terbatas, dipastikan tidak bisa ditanggulangi dengan cepat. Begitu juga jika mengandalkan bantuan dari anggaran pemerintah, karena mesti melalui alur proses penganggaran. Untuk mempercepat mengatasi, dia berkata akan berusaha secara gotong royong. Caranya dengan membuat penggalian punia atau sumbangan agar objek wisata yang  baru dirintis itu bisa berkembang. “Kami akan segera melapor ke bagian cagar budaya untuk bisa mempercepat perbaikan,” tandasnya.

Kalak BPBD Bangli, I Ketut Gde Wiredana, mengaku belum tahu pasti berapa titik kebencanaan terjadi di wilayah Bangli. Begitu pula dengan perkiraan kerugian yang ditimbulkan. “Datanya belum ada, kami masih menunggu usulan atau laporan dari kepala desa lewat WA. Kejadiannya terlalu banyak,” jawabnya singkat saat dimintai tanggapan. 028

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.