DPRD Bali Pertanyakan Hibah Rp 3,3 Triliun untuk Hotel dan Restoran

  • Whatsapp
AAN Adhi Ardhana. Foto: gus hendra
AAN Adhi Ardhana. foto: gus hendra

DENPASAR – Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berencana menggulirkan stimulus berupa hibah pariwisata pada Oktober-Desember 2020, untuk industri hotel dan restoran di seluruh Indonesia. Tujuannya agar pengusaha mampu bertahan dan meyakinkan masyarakat bahwa industri ini aman dikunjungi. Meski sangat menggiurkan, wacana tersebut justru dipertanyakan anggota Komisi II DPRD Bali, AAN Adhi Ardhana. “Kita harus tanya dulu, bentuk hibahnya macam apa?” katanya, Minggu (4/10/2020).

Bagi politisi PDIP itu, rencana pemerintah pusat tersebut tentu menjadi hal cukup menarik bagi pengusaha hotel dan restoran di Bali. Apalagi sejauh ini pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian Bali, dengan sekira 58 persen pertumbuhan ekonomi berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pariwisata. Dia juga menyebut kontraksi ekonomi Bali di Triwulan II mencapai minus 10,98 persen. Sektor transportasi dan penyediaan akomodasi berkontraksi minus 39,48 persen, dan makan-minum mengalami kontraksi minus 33,1 persen karena berkelindan dengan pariwisata.

Bacaan Lainnya

“Rencana pemerintah pusat itu, dan semoga itu benar terwujud, paling tidak memberi tetesan kehidupan di tengah kekeringan wisatawan dalam dunia pariwisata dunia. Kalau dunia saja lesu, Bali ya pasti terdampak juga,” ulasnya.

Baca juga :  Pendeta Midian Sirait: Mari Bantu Pemerintah Atasi Covid-19

Karena dana hibah itu terlihat sangat “gurih” di mata industri pariwisata, dia menilai pemerintah kabupaten/kota dan DPRD kabupaten/kota harus proaktif bertanya mengenai apa dan bagaimana bentuk hibah yang akan diluncurkan secara lebih detail. Alasannya, jika membaca wacana di media massa, hibah dimaksud terlihat lebih sebagai proyek padat karya. Masih menurut media, kata dia, yang dicontohkan adalah program sertifikasi protokol kebersihan, kesehatan, keamanan, dan ramah lingkungan atau clean, healty, safety, environment (CHSE).

Pelaksanaan proyek padat karya dimaksud, sambungnya, juga tidak hanya dilaksanakan Kemenparekraf saja, melainkan juga melibatkan lembaga asesor dan karyawan hotel. Sepintas, ini suatu hal yang akan membantu karyawan hotel dan restoran. Hanya, tetap saja kembali harus ditanyakan detailnya seperti apa. “Maksudnya, tidak hanya sekadar mengumumkan akan memberi hibah senilai sekian, tapi ternyata yang menerima justru bukan kalangan hotel dan restoran sebagaimana dimaksud,” pungkasnya.

Dikutip dari harian Kompas, Jumat (2/10), Direktur Manajemen Industri  Kemenparekraf, Henky Manurung, Kamis (1/10) lalu menyebut instansinya siap menggulirkan hibah pariwisata Rp 3,3 triliun. Hibah ini merupakan bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan sedang menyiapkan kerangka hibah untuk industri perhotelan dan restoran di 85 kabupaten/kota itu, dan dana disalurkan melalui pemerintah daerah. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.