Dharma Shanti Nyepi MKKS SMP Kota Denpasar, Guru Harus Mampu Memahami Esensi Catur Brata Penyepian

DENPASAR – Dharma Shanti Hari Raya Nyepi dan Perayaan Tahun Baru Saka 1944 merupakan suatu metode pedagogik kolosal agar umat hindu senantiasa bersyukur dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian dalam rangka menyambut tahun baru saka sebagai peringatan hari kebangkitan toleransi yang dibangun oleh Raja Kanishka I dan relevan dengan spirit Subhasita Vasudhaiva Kutumbakam. Penegasan itu disampaikan I Ketut Donder, dosen Teologi Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, saat menyampaikan dharma wacana Dharma Shanti Hari Raya Nyepi yang dilaksanakan MKKS SMP Kota Denpasar di SMPN 12 Denpasar, Kamis (24/3/2022).

Menurut Donder, esensi Catur Brata Penyepian mesti dioptimalkan fungsinya untuk mengedukasi masyarakat dalam membentuk karakter bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dalam kemanusiaan. Esensi kesadaran holistik Vasudhaiva Kutumbakam hanya dapat diimplementasikan melalui kesadaran bahwa dalam setiap ciptaan terdapat atman sebagai percikan brahman. ‘’Kesadaran ini sangat efektif dilaksanakan oleh siapa saja melalui Catur Brata Penyepian,’’ lugasnya.

Bacaan Lainnya

Pentingnya memahami esensi Catur Brata Penyepian, lanjut Donder, sangat penting memahami, menghayati dan melaksanakan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari amati karya, amati gni, amati lelungan, dan amati lelanguan adalah suatu metode pedagogik mengembangkan sifat ketuhanan dalam diri. Sebab, Catur Brata Penyepian mendidik semua orang untuk merenung sejenak, hanya 1/360 = 0,0028 waktu kehidupan manusia dalam 1 tahun.

Baca juga :  147 Warga Bondalam Dites Cepat, 16 Orang Hasilnya Reaktif, Hari Ini Dites Swab

‘’Seharusnya, jika umat manusia berharap hidup damai bahagia, maka dalam setahun harus memberikan konsumsi yang adil kepada empat macam kebutuhan fisik, mental spiritual. Apalagi itu bisa dilakukan oleh seorang guru, sebuah proses edukasi yang sangat luar biasa, dimana guru diharapkan dapat mentransfer pentingnya pemahaman esensi Catur Brata Penyepian kepada siswa, untuk selanjutnya bisa ditransfer pada lingkungan keluarga siswa dan sekitarnya,’’ ujarnya.

Melalui perenungan kontemplatik pada saat Catur Brata Penyepian, lanjut Donder, setiap umat Hindu semestinya semakin meningkat kualitas kesadarannya terhadap swadharma agama. Hal itu secara teori semestinya menjauhkan umat Hindu dari perilaku buruk. Sehingga secara otomatis kualitas swadharma Negara semakin meningkat.
‘’Itu artinya umat Hindu makin taat pada ajaran Catur Guru. Dengan demikian, Catur Brata Penyepian berefek positif pada pelaksanaan Catur Guru dan berefek positif terhadap pelaksanaan Catur Pilar (Empat Konsensus Dasar) Kehidupan Berbangsa dan Bernegara,’’ lugasnya.

Ketua MKKS SMP Kota Denpasar, I Wayan Murdana, S.Pd., M.Psi., mengatakan, Dharma Shanti Hari Raya Nyepi yang melibatkan kepala SMP negeri dan swasta se-Kota Denpasar bertujuan untuk mulat sarira (interospeksi diri) serta tetap menjalin kebersamaan dan persaudaraan (menyama braya). Ini sesuai dengan tema Dharma Santhi Nyepi Saka 1944 yakni “Melalui Vasudhaiva Kutumbakam Kita Tingkatkan Jati Diri dan Integritas Pendidik dan Tenaga Kependidikan’’.
Sementara itu, Kadisdikpora Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, menyampaikan, atas nama Pemerintah Kota Denpasar, mengungkapkan rasa bangga serta mengapresiasi acara Dharma Shanti Hari Raya Nyepi yang digelar MKKS SMP Kota Denpasar. Kegiatan itu dapat menjadi sarana bagi masyarakat Hindu, terutama para kepala sekolah untuk terus mempererat dan menjaga tali silaturahmi serta rasa kekeluargaan.

Baca juga :  Sungai Candigara Meluap, Puluhan Rumah Terendam Banjir

“Kegiatan ini sangat berarti dan menjadi contoh yang baik, agar para pendidik dan guru selalu merefleksikan diri kepada Maha Pencipta,” ungkapnya. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.