KARANGASEM – Beragam tradisi hingga saat ini masih tetap dilaksanakan warga Karangasem. Salah satunya tradisi siat sarang di Desa Adat Selat, Karangasem yang kembali digelar menjelang hari raya Usaba Dimel yang akan berlangsung pada 3 Februari 20222. Siat sarang dilangsungkan pada Senin (31/1/2022).
Sebelum tradisi siat sarang dimulai, terlihat sejumlah warga dan pemuda mengumpulkan sarang yang diupacarai dari masing-masing rumah menuju pertigaan Pasar Selat.
Setelah terkumpul, pemuda yang hadir mengikuti tradisi tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok sisi selatan tidak memakai baju, dan kelompok disisi utara tetap memakai baju.
Sebelum tradisi siat sarang dimulai, tokoh desa adat setempat hadir di tengah-tengah kedua kelompok pemuda untuk memberi penjelasan serta aba-aba dimulainya siat sarang.
Kelian Ngukuin Desa Adat Selat, Jero Mangku Wayan Gede Mustika, menjelaskan, tradisi siat sarang merupakan rangkaian aci petabuhan yang bermakna sebagai pecaruan atau nyomia bhuana agung dan alit.
Warga yang secara tulus sadar memerangi dan mengendalikan hawa nafsu yang menyerupai perilaku bhuta kala, agar mampu dikendalikan. “Supaya betul-betul menjadi pikiran tulus dan suci menyambut upacara Usaba Dimel mendatang,” tuturnya, Selasa (1/2/2022).
Mustika menjelaskan, inti dari tradisi siat sarang adalah pengendalian diri. Sarang yang dilempar memiliki makna melepas hawa nafsu yang ada dalam hati, serta melepas perilaku Sad Ripu dalam diri masing masing. Dengan demikian, pada saat upacara Usaba Dimel sudah betul-betul somia.
Sarang yang digunakan sendiri, jelasnya, merupakan sarang yang sebelumnya digunakan sebagai alas membuat jajan yang akan dihaturkan saat Usaba.
Sebelum Sarang terlebih dulu diupacarai, sejumlah sarana pelengkap dalam upacara petabuhan seperti tenge-tenge yang berisi gambar bhuta kala dikumpulkan lalu dimasukkan ke dalam sarang.
Setelah diupacarai, ditaruh depan rumah sebelum dikumpulkan. “Ini tujuannya agar hawa nafsu bhuta kala dikumpulkan untuk diberikan labaan di bale agung, sehingga itu keluar dan bisa dikendalikan. Kemudian di sini kembali dilepas melalui tradisi siat sarang,” pungkasnya.
Beralih ke wilayah Timbrah, Desa Timbrah pada Sasih Kawulu menggelar Usaba Dalem dengan persembahan babi guling dalam jumlah sangat banyak.
Ratusan babi guling itu menghiasi Pura Dalem Desa Pakraman Timbrah, Senin (31/1/2022) dihaturkan setempat untuk piodalan di Pura Dalem Desa Pakraman Timbrah, Kecamatan Karangasem pada Sasih Kawulu.
Pengrajeg Desa Timbrah, I Nengah Sudarsa, menguraikan, setiap kepala keluarga dikenakan persembahan satu ekor babi guling. Total ada 870-an jumlah babi. Selain itu, desa juga menghaturkan satu ekor godel (anak sapi) bangun urip untuk caru di Pura Dalem.
“Caru godel dibuat bangun urip, sedangkan sisanya dibuat lawar barak (merah) putih untuk di-lungsur atau dibuat magibung oleh krama desa di Natar Pura Dalem setelah persembahyangan,” ungkapnya.
Menghaturkan ratusan babi guling ini, lanjut dia, dilaksanakan bukan hanya pada Usaba Dalem, tapi juga pada Usaba Sumbu pada Tilem Sasih Kasa yakni piodalan di Panti Kaler dan Pura Balai Agung Desa Adat Timbrah.
“Makna ritual ini merupakan sebuah ungkapan rasa syukur dan bakti kepada Ida Bhatari Durga atas karunia keselamatan dan kesejahteraan krama desa,” simpulnya. nad
























