Dari DKT II Aksi Jalur Rempah Nusantara, Perlu Kajian Mendalam tentang Rempah di Bali

  • Whatsapp
PARA narasumber dalam Kelompok Terpumpun (DKT) II dalam rangka pendukungan Aksi Jalur Rempah Nusantara di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, Karangasem, Sabtu (7/11/2020). Foto: ist
PARA narasumber dalam Kelompok Terpumpun (DKT) II dalam rangka pendukungan Aksi Jalur Rempah Nusantara di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, Karangasem, Sabtu (7/11/2020). Foto: ist

KARANGASEM – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Bali menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) II dalam rangka pendukungan Aksi Jalur Rempah Nusantara yang dilaksanakan di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, Karangasem, Sabtu (7/11/2020).

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari DKT I yang telah dilaksanakan pada Rabu (4/11/2020). Pada diskusi kali ini BPNB Provinsi Bali mengundang 25 peserta dari kalangan birokrat, budayawan, akademisi, serta tokoh masyarakat di Kabupaten Karangasem. Tema dari DKT II masih tetap seperti DKT I, yaitu “Karangasem dalam Lintasan Jalur Rempah Nusantara”.

Bacaan Lainnya

“Dengan sasaran yang lebih spesifik yaitu menjaring masukan-masukan ataupun saran dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan, dalam rangka merevitalisasi dua pelabuhan di Karangasem yang terpetakan menjadi pusat lintasan Jalur Rempah Nusantara yaitu Pelabuhan Tulamben dan Pelabuhan Padangbai,” ujar Kepala Subbag Tata Usaha BPNB Provinsi Bali, I Wayan Suca Sumadi, saat membuka acara, mewakili Kepala BPNB Provinsi Bali.

Tujuan dari Program Jalur Rempah Nusantara adalah merevitalisasi kebudayaan bahari dan mengembangkan diplomasi budaya.Adapun masukan-masukan hasil dari DKT yang dilaksanakan nantinya diharapkan mampu mendukung Jalur Rempah Nusantara sebagai Warisan Dunia (World Heritage), untuk mendapatkan pengakuan dari UNESCO yang ditargetkan pada tahun 2024.

Baca juga :  3.026 Pasien Covid-19 di Bali Telah Sembuh, 455 Masih Dirawat

Para narasumber pada diskusi ini sebagai kelanjutan dari DKT I yaitu; I Putu Arnawa (Kadis Kebudayaan Karangasem), yang membahas rencana aksi jalur rempah di Pelabuhan Tulamben dan Padangbai berdasarkan RPJMD Kabupaten Karangasem. Akademisi Dr. I Made Regeg, M.Si, membicarakan tentang rempah dalam pengobatan tradisional masyarakat Karangasem. Budayawan I Nengah Suarya membicarakan perdagangan rempah di Pelabuhan Tulamben dan Padangbai dalam kaitannya dengan Jalur Rempah Nusantara.

Diskusi berjalan sangat interaktif. Adapun hasil rumusan dari DKT II, pertama, pentingnya sesegera mungkin untuk mengembangkan transportasi laut sebagai solusi alternatif, karena semakin lama transportasi darat akan mengalami banyak kendala. Kedua, perlu adanya regulasi dari pemerintah pusat maupun daerah untuk mewujudkan solusi alternatif transportasi laut berupa payung hukum yang jelas.

Ketiga, rempah dalam pengobatan tradisional masyarakat sudah sangat familiar, untuk itu agar segera dikembangkan dalam masyarakat sehingga membuka peluang usaha pariwisata dan obat-obatan tradisional berbahan baku rempah yang memenuhi standar BPOM. Keempat, perlu pengembangan pemanfaatan rempah terutama fungsi rempah dalam sarana upacara bagi masyarakat khususnya di Bali.

Kelima, perlunya ada kajian tentang perdagangan di pelabuhan lainnya yang mendukung Pelabuhan Tulamben dan Padangbai, seperti Pelabuhan Taman Ujung-Sukasada. Keenam, perlunya kajian lebih luas tentang persilangan budaya pada Pelabuhan Tulamben dan Padangbai sebagai lintasan Jalur Rempah Nusantara.

Ketujuh, perlunya kajian mendalam tentang rempah sebagai pengobatan tradisional di Bali yang memang banyak memiliki lontar-lontar pengobatan tradisional agar memiliki manfaat besar bagi masyarakat. Kedelapan, perlunya sosialisasi agar pemahaman Jalur Rempah Nusantara dapat dipahami secara lebih luas sampai pada masyarakat bawah, terutama bagi pengembangan perkebunan rempah, pengolahan obat, pengolahan bumbu rempah dalam kuliner, serta wisata sejarah jalur rempah. rap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.