Catat! BPBD Bangli Ingatkan Waspada Tanah Longsor

  • Whatsapp
KALAK BPBD Bangli, I Ketut Gede Wiredana. Foto: gia
KALAK BPBD Bangli, I Ketut Gede Wiredana. Foto: gia

BANGLI – Topografi Kabupaten Bangli yang berbukit dan menjadi kawasan hutan lindung, memang rentan dengan bencana alam pada saat musim hujan. Karena beberapa hari terakhir hujan terus mengguyur wilayah Bangli, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangli minta warga tetap waspada dengan potensi bencana tanah longsor dan pohon tumbang.

Kalak BPBD Bangli, I Ketut Gede Wiredana, Senin (2/11/2020) mengungkapkan, curah hujan di Bulan November ini semakin tinggi. Sesuai pengalaman sebelum-sebelumnya, memasuki Desember-Januari curah hujan akan terus meningkat. Menimbang data-data tersebut, dia minta seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan bencana. Khusus di Bangli, bencana yang acapkali terjadi ketika musim hujan yakni pohon tumbang dan tanah longsor.

Bacaan Lainnya

“Kami minta warga yang tinggal di bawah tebing agar selalu waspada bencana, sehingga ketika ada bencana tidak sampai makan korban jiwa. Jika ada tanah longsor dan pohon tumbang, supaya segera melaporkan ke kami agar bisa ditangani lebih cepat,” pesannya.

Lebih jauh Wiradana menjelaskan, berdasarkan pemetaan wilayah seringnya kejadian pada musim hujan, untuk bencana tanah longsor dibarengi pohon tumbang ada di Kecamatan Bangli. Yang termasuk rawan yakni di jalur Jalan Selati-Tanggahan Tengah, jalur Bukit Bangli ke utara sampai pertigaan Guru Kula, jalur Bunutin-Tamanbali, dan jalur Guliang Kangin-Belah Pane. Di Kecamatan Susut, sebutnya, jalur seganing Banjar Kawan-Penatahan, jalur Penatahan-Selat, jalur Demulih-Apuan, Kecamatan Tembuku sepanjang jalur Bangli-Rendang.

Baca juga :  Banjar Kerta Pala Bagikan Beras 1,5 Ton Kepada Warga

Di Kecamatan Kintamani, sambungnya, jalur wilayah Hutan Suter, jalur Kintamani-Singaraja, Batur Tengah menuju Bayunggede, Desa Kedisan hingga Desa Terunyan. Khusus desa-desa di pinggiran Danau Batur juga sering terjadi  tanah longsor disertai banjir bandang, kebanyakan terjadi di permukiman padat penduduk. “Untuk angin puting beliung masih sulit dipetakan, karena terjadi berdasarkan pola angin saat hujan yang membawa awan hitam (comulunimbus) sebagai pemicu,” jelasnya.

Bagi warga yang di rumahnya ada pohon membahayakan, dia mengimbau agar segera bisa dipangkas. Tujuannya pohon besar yang berada di seputaran tempat tinggal maupun pura tidak lagi membahayakan. 028

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.