BUMDes Mengelola Desa Wisata: Fakta dan Asa

  • Whatsapp
NI Kadek Sinarwati. foto: dok

Oleh Ni Kadek Sinarwati
(Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Ganesha)

SETELAH hampir dua tahun pandemi covid-19 mencekam kehidupan, maka dalam kondisi new normal, kebutuhan berwisata akan dibutuhkan banyak orang. Hasil survey yang dilakukan www.inventureknowledge.id menemukan bahwa 83,1 persen responden yang diberikan kuesioner menyatakan setuju setelah divaksin berwisata ke desa di masa dan pasca pandemi karena relative aman (Suryanto, 2021). Hasil survey ini memberikan peluang bagi pengembangan wisata pedesaan. Lalu bagaimanakah keberadaan BUMDes dalam pengembangan desa wisata?

Bacaan Lainnya

Fakta menunjukkan bahwa sebelum pandemi Covid-19 melanda telah terdapat BUMDes yang sukses mengelola usaha jasa wisata. Peningkatan laba usaha yang dihasilkan telah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. BUMDes Tirta Mandiri di Desa Ponggok. BUMDes Desa Kutuh yang mengelola usaha SPA dengan nama SPA Pancali di Kawasan Objek Wisata Pantai Pandwa terbukti mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pembangunan ekonomi desa.

Publikasi pada jurnal ilmiah yang memuat temuan riset tentang peran BUMDes dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa sebagai hasil usahanya mengelola usaha wisata diantaranya: Sumiasih, 2018 menemukan bahwa BUMDes Pakse Bali mampu mengelola sektor pariwisata desanya dan dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya.

Baca juga :  Legislatif Dukung Rencana Pengalihan Arus Lalin ke Kintamani

Pengelolaan sektor pariwisata melalui BUMDes Pakse Bali dilakukan dengan memperhatikan jenis sektor wisata, modal, pengelola, pola pengelolaan, strategi pemasaran, pertanggungjawaban dan pembagian hasil secara efektif dan terstruktur sehingga dapat menjadi contoh untuk desa lain yang belum mampu mengelola potensi wisatanya. Nugrahaningsih dan Muttaqin (2018) menemukan bahwa BUMDes di Desa Bulusulur Kecamatan Wonogiri mengelola desa wisata dan mampu meningkatkan pendapatan asli desa.

Asa mengoptimalkan peran BUMDes dalam pengembangan desa wisata mengacu pada fakta yang ada semakin membara. Semestinya BUMDes yang memiliki kewenangan mengelola potensi desa mampu mengembangkan wisata desa, ketika memang di desa terdapat objek dan budaya dan layak dikembangkan.

Mengacu Dream House Model yang dikembangkan oleh Ohlsson‐Corboz (2007) dalam Tahwin dan Kusumaningsih (201800, asa ini akan menjelma menjadi fakta jika BUMDes menetapkan mimpinya dalam dengan batasan waktu, kemudian melakukan analisis SWOT dan terakhir menetapkan indikator dan target capaian. Dua pilar utama penyangga pencapaian mimpi (mengembangkan desa wisata) adalah melakukan revitalisasi dan kolaborasi.

Revitalisasi dilakukan pada dua aspek yaitu aspek tata kelola dan aspek usaha. Kolaborasi dimaksudkan BUMDes dalam mengembangkan desa wisata hendaknya berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan baik intern (yang ada di desa) seperti komunitas yang ada di desa, pelaku usaha mikro, lembaga keuangan mikro di desa dan ekstern yang ada di luar desa (Universitas, dan perusahaan swasta maupun BUMN di luar desa). Pondasi kokoh yang harus dimiliki BUMDes dalam meraih mimpi mewujudkan Desa Wisata dalam Dream House Model adalah fokus pada quality dan konsistensi. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.