Berkat E-Pungutan Pendapatan Perumda Pasar Buleleng Naik 20 Persen

DIRUT Perumda Pasar Arga Nayottama Buleleng, Made Agus Yudi Arsana. Foto: rik

BULELENG – Sistem pungutan berbasis online (e-Pungutan) yang sudah mulai diberlakukan pada Oktober 2018 di beberapa pasar di Kabupaten Buleleng memberi hasil signifikan dari pendapatan daerah. Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Arga Nayottama Buleleng mencatat ada kenaikan persentase pendapatan hingga 20 persen lebih per tahun.

Direktur Utama (Dirut) Perumda Pasar Arga Nayottama Buleleng, Made Agus Yudi Arsana, mengatakan, penerapan e-Pungutan ini sangatlah efektif dan transparan, terutama dalam hal menanggulangi tunggakan dan permainan dari oknum nakal. Dalam penerapan e-Pungutan, Perumda Pasar Buleleng bekerja sama dengan Bank BPD Bali.

Bacaan Lainnya

Bank tersebut menunjuk agen dalam men-collect (mengumpulkan) pedagang untuk mengisi saldo membayar kewajiban sekaligus meregistrasi pedagang hanya dengan KTP. “Petugas dari Perumda Pasar memungut dengan mesin Electronic Data Capture yang dipotong tagihannya lewat rekening saja,” kata Agus Yudi, Selasa (23/3/2022).

Proyek percontohan pertama untuk penerapan e-Pungutan adalah Pasar Kampung Bugis yang mencangkup Pasar Latri. Pihak Perumda Pasar dan pihak bank turun menjajaki satu persatu pedagang untuk bisa mendukung program ini. Hasilnya, pedagang memahami tujuan program ini meskipun masih ada beberapa yang sempat menolak.

Baca juga :  Wisuda Ke-138, Universitas Udayana Lepas 1.108 Wisudawan

Berdasarkan data, baru 6 pasar dari 13 pasar yang ada yang menjalankan program ini, yakni Pasar Anyar, Pasar Kampung Bugis, Pasar Latri, Pasar Banyuasri, Pasar Banjar, dan Pasar Seririt. “Rencananya, semua unit pasar akan diterapkan secara bertahap. Saat ini memang belum tuntas, tapi kami akan tuntaskan dulu agar SDM bisa lebih fokus. Setelah itu, baru akan bergeser ke pasar yang lainnya,” ujar Agus Yudi.

Kendala yang dihadapi dalam penerapan program ini, kata Agus Yudi, hanya saat sosialisasi dan beberapa teknis. Mengingat masih banyak pedagang yang usia lanjut belum memahami terkait dengan manfaat program e-Pungutan.

Biaya retribusi pasar karena masih dalam situasi pandemi, Perumda Pasar hanya mematok tarif lama untuk lapak dan los yaitu sebesar Rp3 ribu diluaranPasar Banyuasri. Untuk pedagang eceran dan musiman ditarif Rp5 ribu mengingat mereka tidak membayar sewa tanah dan perpanjang surat.

“Bagi pedagang membandel dan tidak membayar restribusi, maka kami memberikan surat peringatan (SP), baik itu SP 1, 2 hingga 3. Jika nanti sudah mendapatkan SP 3, ya jelas maka pedangang akan dicabut hak pemakaian tempat usahanya. Itu konsekuensinya,” pungkas Agus Yudi. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.